Kenalan dengan Robin Laut, Ikan 'Bersayap' dan Berjalan di Dasar Laut

Penampakan ikan ini terbilang unik; bertubuh ikan, 'bersayap' burung, dan 'kaki' mirip kepiting. Organ-organ tersebut bukanlah hiasan semata. 


Sea Robin, ikan yang memiliki kaki untuk berjalan di dasar laut. (Foto Mike Jones via ZME)Sea Robin, ikan yang memiliki kaki untuk berjalan di dasar laut. (Foto Mike Jones via ZME)


ngarahNyaho - Di kedalaman laut, seekor ikan yang tidak biasa berlari melintasi dasar laut. Hewan itu mencari mangsa dengan menggunakan enam 'kakinya'. 


Sea Robin telah memikat para ilmuwan dengan kemampuan mereka untuk 'berjalan'. Dua penelitian baru yang diterbitkan dalam Current Biology mengungkapkan wawasan tentang ikan ini. 


Makalah tersebut mendeskripsikan tentang bagaimana ikan yang hidup di dasar laut ini menggunakan tujuan khusus mereka untuk merasakan, mencerna, dan menangkap makanan.


Menurut David Kingsley, ahli biologi di Universitas Stanford, anggota badan ikan yang berbentuk sekop ditutupi tonjolan kecil, mirip dengan pengecap, yang memungkinkan mereka mendeteksi mangsa yang terkubur di bawah pasir.


“Ini adalah ikan yang menumbuhkan kaki menggunakan gen yang sama yang berkontribusi pada perkembangan anggota tubuh kita,” kata Nicholas Bellono, rekan Kingsley dari Universitas Harvard.


“Kemudian, ia menggunakan kembali kaki-kakinya untuk mencari mangsa menggunakan gen yang sama dengan yang digunakan lidah kita untuk mencicipi makanan – cukup liar.”


Sea Robin mewakili studi kasus yang menarik tentang kemampuan evolusi dalam memanfaatkan kembali struktur lama untuk kegunaan baru. 


Salah satu spesies, Prionotus carolinus, sangat mahir menggali mangsa dengan kakinya yang tertutup papila. Sedangkan spesies lain, Prionotus evolans, menggunakan kakinya untuk berjalan tanpa kemampuan sensorik yang sama.


Dua penelitian yang mengungkap temuan ini dimulai ketika para peneliti, termasuk Corey Allard dari Universitas Harvard, mengamati sea robin berenang dan berjalan secara bergantian di dalam tangki laboratorium. 


Ikan tersebut menunjukkan keterampilan luar biasa dalam menggali mangsa yang tersembunyi, bahkan tanpa petunjuk visual. Namun kekacauan terjadi ketika kiriman baru robin laut tiba. 


Ikan baru ini tampak hampir sama tetapi tidak memiliki kemampuan menggali. Hal ini mengarah pada penemuan kebetulan bahwa kedua spesies tersebut berbeda secara genetik.


Jadi, Kingsley dan rekan-rekannya menggunakan teknik penyuntingan gen, seperti CRISPR, untuk mengubah kode genetik burung sea robin. Mereka fokus pada gen tbx3a, yang berperan dalam pembentukan anggota tubuh pada ikan dan manusia. 


Dengan memanipulasi gen ini, mereka mampu menghasilkan ikan dengan jumlah anggota tubuh mirip kaki yang berbeda-beda, sehingga menjelaskan bagaimana sifat unik ini berevolusi.


Kaki burung sea robin seperti cetak biru untuk memahami bagaimana organ baru berkembang, kata para peneliti. Temuan mereka menunjukkan bahwa sea robin mengadaptasi sirip dada mereka selama jutaan tahun. 


Pada akhirnya, mereka menjadi alat sensorik yang memberikan keunggulan kompetitif di lingkungan di mana makanan langka.


“Meskipun banyak sifat yang tampak baru, biasanya sifat-sifat tersebut dibangun dari gen dan modul yang telah ada sejak lama,” kata Kingsley. “Begitulah cara evolusi bekerja: dengan mengutak-atik bagian lama untuk membangun hal baru.” |


Sumber: Science Daily | ZME 


Post a Comment

أحدث أقدم