Garam Berlebihan Bikin Pembuluh Darah “Menua” Lebih Cepat

Terlalu banyak garam ternyata bisa mempercepat penuaan pembuluh darah lewat sistem imun, bukan sekadar menaikkan tekanan darah.


Terlalu banyak garam ternyata bisa mempercepat penuaan pembuluh darah lewat sistem imun, bukan sekadar menaikkan tekanan darah.Ilustrasi dibuat oleh AI berdasarkan foto 8photo/Freepik


Ringkasan

  • Garam berlebih bisa mempercepat penuaan pembuluh darah melalui reaksi sistem imun, bukan kerusakan langsung.
  • Molekul interleukin-16 diduga menjadi kunci yang memicu penuaan sel pembuluh darah.
  • Obat kanker navitoclax menunjukkan potensi mencegah kerusakan ini, meski masih perlu penelitian pada manusia.


SELAMA ini, garam dikenal sebagai musuh tekanan darah. Tapi riset terbaru menunjukkan efeknya mungkin lebih dalam, bahkan sampai “menuakan” pembuluh darah dari dalam.


Studi pada tikus yang dipublikasikan di Journal of the American Heart Association ini menemukan bahwa konsumsi garam tinggi memicu reaksi imun yang berujung pada kerusakan pembuluh darah.


Penelitian yang dipimpin oleh tim dari University of South Alabama ini mengungkap jalur yang cukup mengejutkan. Garam ternyata tidak langsung merusak sel pelapis pembuluh darah (endotel).


Sebaliknya, konsumsi garam berlebih memicu sistem kekebalan tubuh untuk melepaskan sinyal peradangan, termasuk molekul bernama interleukin-16 (IL-16).


Molekul inilah yang kemudian “mendorong” sel-sel pembuluh darah masuk ke kondisi penuaan dini.


Dalam studi ini, tikus jantan diberi diet tinggi garam (sekitar 8% natrium klorida) selama 14 hingga 28 hari. Sebagai perbandingan, makanan tikus normal hanya mengandung sekitar 0,49% garam.


Hasilnya cukup jelas. Setelah dua minggu, perubahan masih ringan.


Namun setelah empat minggu, pembuluh darah kecil tikus mulai kehilangan kemampuan untuk rileks dengan baik—sebuah tanda awal gangguan kardiovaskular.


Di tingkat sel, peneliti menemukan peningkatan protein p21 dan p16, yang dikenal sebagai penanda penuaan sel. Sel yang “menua” ini berhenti membelah dan justru memicu kondisi inflamasi.


Penanda lain seperti IL-6 dan IL-1β juga ikut meningkat, memperkuat gambaran bahwa pembuluh darah mengalami penuaan prematur.


Temuan paling menarik justru muncul saat peneliti mencoba “menyalahkan” garam secara langsung.


Ketika sel pembuluh darah dipaparkan pada kondisi tinggi garam di laboratorium, ternyata tidak terjadi penuaan sel. Artinya, garam bukan pelaku langsung.


Peneliti kemudian beralih ke sistem imun. Mereka menemukan bahwa tikus dengan diet tinggi garam memiliki peningkatan aktivitas gen inflamasi.


Dalam darahnya, kadar berbagai protein peradangan meningkat, terutama interleukin-16.


Ketika pembuluh darah sehat dipaparkan IL-16, hasilnya sama seperti pada tikus yang makan garam berlebih: pembuluh darah jadi sulit rileks dan menunjukkan tanda-tanda penuaan.


Dengan kata lain, IL-16 tampaknya menjadi “perantara” utama antara konsumsi garam dan kerusakan pembuluh darah.


Untuk menguji apakah penuaan sel ini bisa dicegah, peneliti menggunakan obat bernama navitoclax, obat kanker yang dirancang untuk menghilangkan sel-sel tua (senescent cells).


Hasilnya cukup menjanjikan. Tikus yang diberi garam tinggi sekaligus navitoclax menunjukkan fungsi pembuluh darah yang jauh lebih baik.


Kemampuan pembuluh untuk rileks kembali normal, dan tanda-tanda penuaan sel menurun.


Efek ini berkaitan dengan molekul penting bernama nitric oxide, yang membantu pembuluh darah melebar. Sel yang menua biasanya mengganggu produksi molekul ini, tetapi navitoclax tampaknya membantu mempertahankannya.


Namun, perlu diingat, ini masih tahap awal dan dilakukan pada hewan. Penggunaan obat ini pada manusia masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.


Organisasi seperti American Heart Association merekomendasikan konsumsi natrium maksimal 2.300 mg per hari. Namun, rata-rata konsumsi global masih jauh di atas itu.


Padahal, penyakit kardiovaskular menjadi penyebab sekitar 19,1 juta kematian setiap tahun di dunia.


Riset ini memberi perspektif baru, bahwa dampak garam bukan hanya soal tekanan darah atau retensi cairan, tetapi juga perubahan biologis di tingkat sel melalui sistem imun.


Temuan ini membuka kemungkinan terapi baru, misalnya dengan menargetkan peradangan atau sel yang menua. Namun, hingga bukti pada manusia tersedia, saran klasik tetap berlaku: kurangi konsumsi garam.


Menariknya, penelitian lain juga menunjukkan bahwa pola makan tinggi garam berkaitan dengan peningkatan risiko stroke, gangguan ginjal, dan bahkan penurunan fungsi kognitif (WHO, 2023).


Jadi, efeknya memang luas dan saling terkait.


Disadur dari StudyFinds Too Much Salt Doesn’t Just Raise Blood Pressure: It May Age Blood Vessels From The Inside Out



Post a Comment

أحدث أقدم