Capung dan Manusia Punya Kesamaan yang Bikin Kaget Ilmuwan

Capung memiliki kemampuan melihat cahaya merah mirip manusia, berkat protein visual unik hasil evolusi paralel, menurut riset terbaru.


Capung memiliki kemampuan melihat cahaya merah mirip manusia, berkat protein visual unik hasil evolusi paralel, menurut riset terbaru.Ilustrasi dibuat oleh AI berdasarkan foto erik-karits-2093459/Freepik


Ringkasan

  • Capung memiliki protein opsin yang mampu mendeteksi cahaya merah hingga mendekati inframerah, mirip mekanisme pada manusia.
  • Kemampuan ini membantu capung membedakan jenis kelamin saat terbang melalui pantulan cahaya.
  • Temuan ini berpotensi digunakan dalam optogenetika untuk terapi medis karena mampu bekerja di jaringan tubuh yang lebih dalam.


HASIL penelitian terbaru dari Osaka Metropolitan University mengungkap fakta mengejutkan. Capung dan manusia ternyata berbagi cara serupa dalam mendeteksi warna merah.


Temuan ini tidak hanya menarik dari sisi biologi evolusi, tetapi juga berpotensi membuka jalan bagi inovasi di bidang medis.


Pada manusia, persepsi warna bergantung pada protein bernama opsin yang terdapat di mata.


Kita memiliki tiga jenis opsin utama yang sensitif terhadap cahaya biru, hijau, dan merah. Kombinasi ketiganya memungkinkan kita melihat spektrum warna yang luas.


Namun, di dunia serangga, kemampuan ini jarang ditemukan, kecuali pada capung.


Dalam studi terbaru, tim yang dipimpin Profesor Mitsumasa Koyanagi menemukan bahwa capung memiliki jenis opsin khusus yang mampu mendeteksi cahaya hingga panjang gelombang sekitar 720 nanometer.


Ini bahkan berada di luar batas merah terdalam yang dapat dilihat manusia, mendekati wilayah inframerah.


Profesor Akihisa Terakita menyebut protein ini sebagai salah satu pigmen visual paling sensitif terhadap warna merah yang pernah ditemukan.


Dengan kemampuan ini, capung kemungkinan bisa “melihat merah lebih dalam” dibanding kebanyakan serangga lain.


Lalu, untuk apa kemampuan ini?


Para peneliti menduga bahwa penglihatan merah ini membantu capung dalam mengenali pasangan. Untuk mengujinya, mereka mengukur reflektansi, yakni jumlah cahaya yang dipantulkan oleh tubuh capung.


Hasilnya menunjukkan perbedaan signifikan antara jantan dan betina spesies Asiagomphus melaenops dalam memantulkan cahaya merah hingga inframerah dekat.


Artinya, capung jantan bisa dengan cepat membedakan betina saat terbang—sebuah keuntungan besar dalam dunia serangga yang bergerak cepat.


Yang lebih mengejutkan, mekanisme kerja opsin merah pada capung ternyata identik dengan yang ditemukan pada mamalia, termasuk manusia.


Temuan ini menunjukkan adanya evolusi paralel, yakni proses di mana dua spesies yang tidak berkerabat dekat mengembangkan solusi biologis yang sama secara terpisah.


Tak berhenti di situ, para ilmuwan juga menemukan bahwa hanya satu perubahan kecil dalam struktur protein opsin dapat menggeser sensitivitasnya lebih jauh ke arah inframerah.


Mereka bahkan berhasil merekayasa versi opsin ini agar merespons panjang gelombang yang lebih panjang lagi.


Dalam eksperimen lanjutan, sel yang dilengkapi dengan opsin hasil rekayasa tersebut dapat diaktifkan menggunakan cahaya inframerah dekat.


Ini menjadi terobosan penting dalam bidang optogenetika, teknologi yang memanfaatkan cahaya untuk mengontrol aktivitas sel, terutama dalam penelitian otak dan penyakit saraf.


Karena cahaya inframerah mampu menembus jaringan tubuh lebih dalam dibanding cahaya tampak, opsin dari capung ini berpotensi menjadi alat yang lebih efektif untuk terapi medis di masa depan.


Penelitian ini dipublikasikan pada Januari 2026 dalam jurnal Cellular and Molecular Life Sciences, dan menjadi contoh menarik bagaimana alam sering menemukan solusi yang sama melalui jalur evolusi yang berbeda.


Menariknya, temuan ini juga memperkuat tren dalam biologi modern yang menunjukkan bahwa banyak inovasi teknologi masa depan justru terinspirasi dari mekanisme alami.


Dari mata capung yang kecil, kita mungkin akan menemukan cara baru untuk “melihat” dan menyembuhkan tubuh manusia.


Disadur dari Sci.newsDragonflies and Humans Share Way of Seeing Red, New Research Shows



Post a Comment

أحدث أقدم