Mengejutkan, Perubahan Iklim Terkait dengan Meningkatnya Kekerasan Terhadap Perempuan

Dalam sebuah penelitian, para peneliti menemukan adanya hubungan yang mengerikan antara perubahan iklim dan meningkatnya kekerasan terhadap perempuan.


Perubahan iklim ternyata terkait dengan meningkatnya kekerasan terhadap perempuan. (Foto Ilustrasi: Freepik)
Perubahan iklim ternyata terkait dengan meningkatnya kekerasan terhadap perempuan. (Foto Ilustrasi: Freepik)


ngarahNyaho - Sebuah studi mencoba memahami bagaimana berbagai guncangan iklim, termasuk badai, tanah longsor, dan banjir, dapat berkontribusi terhadap peningkatan kekerasan pasangan intim (IPV).


Tim tersebut menganalisis data kekerasan pasangan intim dari ribuan survei yang dilakukan di 156 negara selama rentang waktu 26 tahun. Kekerasan pasangan intim didefinisikan sebagai kekerasan fisik dan/atau seksual.


Kesimpulan yang mengejutkan? Terdapat korelasi yang signifikan antara guncangan iklim tertentu dan meningkatnya kasus kekerasan oleh pasangan intim.


Namun, tidak semua jenis guncangan iklim menunjukkan hubungan yang jelas dengan IPV. Misalnya, gempa bumi dan kebakaran hutan tampaknya tidak mempunyai dampak yang sama.


Alasan terjadinya dampak-dampak yang berbeda ini masih belum jelas. Tim peneliti menyarankan kemungkinan adanya rentang waktu yang berbeda-beda untuk dampak berbagai jenis guncangan iklim terhadap tingkat kekerasan.


Namun, kurangnya data yang tersedia untuk jangka waktu lebih dari dua tahun menimbulkan tantangan dalam menyelidiki teori ini.


Kurangnya data yang konsisten mendorong para peneliti memberikan rekomendasi yang kuat untuk pengumpulan data yang lebih teratur mengenai kekerasan terhadap perempuan.


Penulis utama studi, Profesor Jenevieve Mannell dari UCL Institute for Global Health menyoroti urgensi masalah ini.


“Bukti yang ada menunjukkan bahwa ketika seorang perempuan mengalami peristiwa terkait iklim, dia lebih mungkin mengalami kekerasan di beberapa negara dan untuk beberapa jenis kekerasan, namun tidak di negara lain.


“Kami berupaya mengeksplorasi apa yang terjadi di tingkat nasional untuk membantu memberikan masukan bagi kebijakan perubahan iklim internasional,” ujar Mannel seperti dikutip dari Earth.


Penelitian yang merupakan upaya kolaborasi para peneliti dari sejumlah universitas ini juga mengungkapkan, negara-negara dengan PDB yang lebih tinggi menunjukkan tingkat kekerasan pasangan intim yang lebih rendah.


Menurut Profesor Mannell, serangkaian pemicu mungkin bertanggung jawab atas meningkatnya kekerasan setelah guncangan iklim.


Meningkatnya stres, kerawanan pangan, kelebihan layanan sosial, dan tidak memadainya tempat penampungan bantuan bencana dapat berkontribusi terhadap lingkungan di mana kekerasan terhadap perempuan menjadi lebih mungkin terjadi.


Frekuensi dan tingkat keparahan kejadian ini meningkat di negara-negara dengan norma gender patriarki, dimana kekerasan terhadap perempuan sering kali dianggap normal.


Terlepas dari temuan yang suram, para peneliti percaya bahwa upaya mitigasi dan adaptasi iklim yang tepat dapat memainkan peran penting dalam mengurangi kekerasan terhadap perempuan.


Mereka merekomendasikan untuk memasukkan “kekerasan terhadap perempuan” ke dalam komitmen perubahan iklim suatu negara dan mengalokasikan dana untuk mengatasinya.


Samoa dan Fiji disebut sebagai contoh, yang telah mengembangkan Rencana Aksi Gender Perubahan Iklim.


Para ahli juga menyarankan agar potensi peningkatan kekerasan terhadap perempuan harus dipertimbangkan dalam proses perencanaan bencana di suatu negara.


Penelitian ini menyoroti kebutuhan mendesak akan pendekatan komprehensif untuk memerangi perubahan iklim – pendekatan yang mengatasi dampak lingkungan, ekonomi, sosial, dan dampak gender yang kini muncul. 


Hal ini merupakan seruan bagi kita untuk memperlakukan perubahan iklim bukan hanya sebagai krisis lingkungan namun juga sebagai krisis kemanusiaan. 


Studi Mannell dan rekan-rekannya tersebut dipublikasikan di jurnal PLOS Climate. |


Sumber: Earth 

Post a Comment

أحدث أقدم