Bukan Kenyang, Alasan Kucing Suka Sisakan Makanan

Kucing sering meninggalkan makanannya bukan karena kenyang, melainkan karena bosan dengan bau dan rasa yang itu-itu saja.


Kucing sering meninggalkan makanannya bukan karena kenyang, melainkan karena bosan dengan bau dan rasa yang itu-itu saja.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Kucing sering tidak menghabiskan makanan karena bosan dengan aroma yang sama, bukan semata karena kenyang.
  • Studi menunjukkan perubahan bau atau jenis makanan bisa meningkatkan nafsu makan kucing.
  • Variasi makanan bisa membantu kucing yang kurang nafsu makan, sementara diet monoton bisa membantu kontrol berat badan.


KALAU kamu punya kucing, kemungkinan besar kamu pernah melihat pola ini: si anabul minta makan dengan penuh drama, tapi setelah disajikan… cuma dimakan setengah. 


Lama-lama bikin penasaran, ini kucing kenyang, pilih-pilih, atau sekadar “drama”?


Sebuah penelitian terbaru dari Jepang tampaknya mulai mengungkap jawabannya. Para ilmuwan menemukan bahwa kucing bisa kehilangan minat makan jika terus diberi makanan dengan bau yang sama berulang kali. 


Fenomena ini disebut sebagai olfactory habituation, ketika indra penciuman “terbiasa” dengan aroma tertentu sehingga responsnya menurun.


Penelitian ini dipimpin oleh Masao Miyazaki dari Iwate University dan dipublikasikan di jurnal Physiology & Behavior.


Dalam eksperimen, para peneliti mengamati 12 kucing yang diberi berbagai jenis makanan kering. 


Mereka menemukan pola menarik. Ketika kucing diberi makanan yang sama berulang kali dalam beberapa sesi, jumlah yang dimakan terus menurun, bahkan untuk makanan favoritnya.


Namun, begitu makanan baru diperkenalkan, atau bahkan hanya aroma yang berbeda, nafsu makan mereka langsung meningkat kembali. 


Artinya, rasa kenyang bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah kucing akan menghabiskan makanannya.


“Kami menemukan bahwa penciuman memainkan peran penting dalam motivasi makan pada kucing,” ujar Miyazaki.


Fenomena ini sebenarnya juga terjadi pada manusia. Dalam ilmu perilaku makan, dikenal istilah sensory-specific satiety, yaitu menurunnya kenikmatan terhadap makanan yang sama jika dikonsumsi terus-menerus.


Pada kucing, efek ini tampaknya lebih kuat karena mereka sangat bergantung pada penciuman untuk mengevaluasi makanan. Jadi, ketika aroma makanan tidak berubah, otak mereka seperti berkata, “Ah, ini lagi…”


Penelitian juga menunjukkan bahwa jika kucing terus terpapar bau makanan yang sama bahkan di luar waktu makan, mereka cenderung makan lebih sedikit. 


Sebaliknya, aroma baru bisa “menyegarkan” minat makan mereka.


Temuan ini bisa jadi kabar baik sekaligus solusi praktis bagi pemilik kucing. Jika kucingmu sering tidak menghabiskan makanan, mungkin masalahnya bukan pada kesehatan atau porsi—melainkan variasi.


Peneliti menyarankan bahwa mengganti aroma atau jenis makanan, atau bahkan menambahkan topping, bisa membantu meningkatkan nafsu makan. 


Ini sangat berguna untuk kucing yang sakit atau sudah tua dan mulai kehilangan selera makan.


Sebaliknya, untuk kucing yang kelebihan berat badan, pola makan yang monoton justru bisa membantu mengontrol asupan mereka.


Meski begitu, studi ini masih memiliki keterbatasan. Jumlah kucing yang diteliti relatif kecil, dan belum mencakup berbagai kondisi seperti kucing yang sudah disteril atau memiliki masalah kesehatan tertentu.


Selain bau dan variasi makanan, ada faktor lain yang sering disebut oleh pemilik kucing, seperti whisker fatigue, teori bahwa kumis kucing merasa tidak nyaman saat menyentuh tepi mangkuk. 


Namun, sejauh ini bukti ilmiah untuk teori tersebut masih lemah.


Faktor kesehatan, stres, hingga lingkungan juga bisa memengaruhi pola makan kucing. Karena itu, jika kucing tiba-tiba kehilangan nafsu makan secara drastis, tetap disarankan untuk memeriksakannya ke dokter hewan.


Disadur dari GizmodoScientists Think They’ve Finally Discovered Why Your Cat Never Finishes Its Meal




Post a Comment

أحدث أقدم