Cara Narsistik Menilai Humor Temannya, Merendahkan atau Memuja?

Orang dengan sifat narsistik cenderung melihat humor teman secara bias, entah merendahkan atau justru mengidealkan, menurut riset psikologi terbaru.


Orang dengan sifat narsistik cenderung melihat humor teman secara bias, entah merendahkan atau justru mengidealkan, menurut riset psikologi terbaru.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Orang dengan sifat narsistik cenderung melihat humor teman secara bias dan tidak akurat.
  • Narsisme grandiose merendahkan teman, sementara narsisme rentan justru mengidealkan mereka.
  • Humor menjadi “cermin” yang menunjukkan bagaimana kepribadian memengaruhi persepsi dalam persahabatan.


DIBANDING hubungan keluarga atau romantis, persahabatan memberi ruang lebih santai untuk berbagi tanpa tekanan besar.


Tapi, bagaimana kalau cara kita melihat teman ternyata “terdistorsi” oleh kepribadian kita sendiri?


Sebuah studi menemukan bahwa individu dengan tingkat narsisme tinggi memiliki cara unik, dan sering kali bias, dalam menilai selera humor teman dekat mereka.


Penelitian ini dilakukan oleh Tobias Altmann dari University of Duisburg-Essen dan Destaney Sauls dari Michigan Technological University.


Hasil studi mereka dipublikasikan dalam jurnal Personality and Individual Differences


Atmann dan Sauls tertarik memahami bagaimana konflik batin dalam diri orang narsistik memengaruhi cara mereka melihat orang lain.


Dalam psikologi, humor bukan sekadar hiburan, ia adalah alat sosial penting. Para ahli biasanya membagi humor menjadi empat jenis utama:

  • Afiliatif: humor untuk mempererat hubungan (misalnya bercanda ringan bersama teman)
  • Self-enhancing: humor untuk menjaga perspektif positif dalam hidup
  • Agresif: humor yang menyindir atau merendahkan orang lain
  • Self-defeating: humor yang merendahkan diri sendiri demi diterima


Dua yang pertama dianggap “sehat”, sementara dua terakhir cenderung memicu konflik atau ketegangan sosial.


Para peneliti meminta peserta dari Jerman dan Amerika Serikat untuk menilai gaya humor mereka sendiri dan satu sahabat dekat.


Hasilnya? Mayoritas orang melihat teman mereka mirip dengan diri sendiri. Tapi pola ini berubah drastis pada individu dengan kecenderungan narsistik tinggi.


Penelitian ini membedakan dua tipe narsisme:

  1. Narsisme grandiose — percaya diri berlebihan, merasa superior, dan kurang empati
  2. Narsisme rentan — penuh rasa tidak aman, sensitif, tapi tetap merasa “istimewa”


Hasilnya menarik. Orang dengan narsisme grandiose cenderung “mengangkat diri sendiri dan merendahkan teman”.


Mereka menilai diri mereka lebih sering menggunakan humor positif, sementara teman dianggap lebih kasar atau negatif. Ini semacam mekanisme untuk menjaga rasa superioritas.


Sebaliknya, individu dengan narsisme rentan justru melakukan kebalikan. Mereka melihat teman sebagai sosok yang lebih lucu dan lebih “sehat” secara sosial, sementara diri sendiri dinilai buruk.


Ini mencerminkan konflik batin antara rasa ingin diakui dan rasa tidak percaya diri yang dalam.


Temuan ini menunjukkan bahwa persahabatan bisa menjadi semacam “cermin psikologis”. Namun, pada individu dengan sifat ekstrem, cermin itu tidak lagi jernih.


Pada narsisme grandiose, cermin dipoles agar selalu memantulkan kehebatan diri. Pada narsisme rentan, cermin dimiringkan sehingga orang lain tampak lebih baik, sementara diri sendiri terlihat kurang.


Fenomena ini juga berkaitan dengan konsep dalam psikologi sosial tentang perceived similarity, kecenderungan manusia merasa dekat dengan orang yang dianggap mirip.


Ketika persepsi ini rusak, kualitas hubungan pun bisa ikut terganggu.


Meski menarik, studi ini memiliki keterbatasan. Data diambil dari laporan subjektif peserta, sehingga sangat bergantung pada persepsi pribadi.


Humor sendiri adalah hal yang sangat subjektif—apa yang lucu bagi satu orang belum tentu bagi yang lain.


Selain itu, perbedaan budaya dan usia antara sampel Jerman dan Amerika juga memengaruhi hasil. Penelitian lanjutan diperlukan untuk menguji temuan ini dalam konteks yang lebih luas.


Kenapa ini penting?


Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengira kita memahami teman dengan baik. Tapi riset ini mengingatkan: cara kita melihat orang lain bisa sangat dipengaruhi oleh “kacamata” kepribadian kita sendiri.


Bagi orang dengan kecenderungan narsistik, hubungan sosial bukan hanya tentang koneksi, tetapi juga tentang menjaga citra diri, entah dengan meninggikan diri atau merendahkan diri sendiri.


Pada akhirnya, tertawa bersama teman mungkin terlihat sederhana. Tapi di baliknya, ada dinamika psikologis kompleks yang membentuk cara kita memahami satu sama lain.


Disadur dari PsyPostThe narcissistic mirror: how extreme personalities view their friends’ humor



Post a Comment

أحدث أقدم