Hirup Udara Kotor, Bakteri Paru Langsung Beraksi

Studi mengungkap, paparan polusi udara dapat memicu risiko infeksi bakteri paru-paru mematikan secara berbeda, tergantung jenis strainnya.


Studi mengungkap, paparan polusi udara dapat memicu risiko infeksi bakteri paru-paru mematikan secara berbeda, tergantung jenis strainnya.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan 

  • Peneliti menganalisis 59.017 kasus penyakit pneumokokus invasif di Afrika Selatan selama 19 tahun.
  • Dampak PM2.5 berbeda menurut serotipe bakteri, dengan sebagian meningkatkan risiko penyakit dalam minggu yang sama dan lainnya baru beberapa minggu kemudian.
  • Kelompok usia 65 tahun ke atas menunjukkan risiko kumulatif paling tinggi terkait paparan PM2.5.


UDARA kotor rupanya bukan cuma urusan paru-paru. Penelitian baru menunjukkan bahwa polusi udara juga berkaitan dengan meningkatnya risiko invasive pneumococcal disease (IPD).


IPD merupakan penyakit serius yang dapat berupa pneumonia, infeksi aliran darah, hingga meningitis.


Temuan ini berasal dari kolaborasi Wellcome Sanger Institute, National Institute for Communicable Diseases Afrika Selatan, Barcelona Supercomputing Center, dan sejumlah lembaga lain. 


Hasilnya diterbitkan di Nature Microbiology pada 14 September 2026.


IPD disebabkan Streptococcus pneumoniae, bakteri yang sebenarnya cukup umum menghuni hidung dan tenggorokan tanpa menimbulkan gejala. 


Masalah muncul ketika bakteri tersebut menembus pertahanan tubuh dan masuk ke saluran pernapasan bawah atau aliran darah.


Yang membuat temuan ini menarik adalah responsnya ternyata tidak seragam. S. pneumoniae memiliki lebih dari 100 serotipe dan ratusan garis keturunan genetik. 


Peneliti menemukan bahwa jenis bakteri yang sedang beredar ikut menentukan seberapa cepat risiko penyakit meningkat setelah seseorang terpapar polusi.


Tim menganalisis data 59.017 kasus IPD dari 531 rumah sakit di Afrika Selatan selama 2005–2023, termasuk data genom dari 4.350 isolat bakteri.


Hasilnya menunjukkan hubungan positif antara PM2.5, partikel polusi berdiameter maksimal 2,5 mikrometer, dan risiko IPD. 


Pada paparan rata-rata mingguan PM2.5 sebesar 100 µg/m³, risiko kumulatif IPD selama delapan minggu meningkat sekitar 18 persen dibandingkan tingkat paparan yang lebih rendah.


Namun, waktunya berbeda-beda. Serotipe 4, 8, dan 23F berkaitan dengan peningkatan risiko yang muncul pada minggu yang sama setelah paparan tinggi PM2.5. 


Pada serotipe lain, peningkatan risiko baru terlihat setelah beberapa minggu.


Usia juga berpengaruh. Kelompok 65 tahun ke atas memiliki peningkatan risiko kumulatif paling besar terkait PM2.5. 


Peneliti menduga kerentanan ini antara lain berkaitan dengan paparan jangka panjang dan perubahan fungsi paru seiring usia, meski mekanismenya belum sepenuhnya dipahami.


Suhu dan kelembapan ikut diperhitungkan dalam analisis. Suhu tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko yang lebih cepat, sementara suhu dingin berkaitan dengan kenaikan risiko yang lebih lambat. 


Para peneliti menduga cuaca dingin dapat memengaruhi penularan bakteri atau membuat infeksi bakteri lebih mudah mengikuti kerusakan saluran pernapasan akibat infeksi virus musiman.


Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara udara, bakteri, dan penyakit jauh dari sekadar “polusi naik, penyakit naik”. 


Bakterinya pun ternyata punya karakter masing-masing, seolah mikroba juga memiliki kalender kerja sendiri.


Peneliti mengusulkan agar pemantauan kualitas udara digabungkan dengan pengawasan genom bakteri. 


Informasi tersebut berpotensi membantu memperkirakan lonjakan kasus, merencanakan vaksinasi, dan mempersiapkan rumah sakit ketika kualitas udara memburuk.


Disadur dari Technology Networks - Air Quality May Affect Infection Risk More Than Expected yang diakses September 2026.



Post a Comment

أحدث أقدم