Jauh Sebelum 'Black Death', Wabah Pes Sapu Bersih Satu Keluarga di Siberia

Jauh sebelum Black Death dan kota-kota abad pertengahan, wabah pes ternyata sudah mematikan manusia di Siberia 5.500 tahun lalu.



Jauh sebelum Black Death dan kota-kota abad pertengahan, wabah pes ternyata sudah mematikan manusia di Siberia 5.500 tahun lalu.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • DNA kuno menunjukkan Yersinia pestis menginfeksi 18 dari 46 individu yang diteliti di sekitar Danau Baikal.
  • Sejumlah korban merupakan anak-anak dan anggota keluarga yang tampaknya meninggal dalam waktu berdekatan.
  • Strain purba ini belum memiliki kemampuan penularan melalui kutu seperti pes bubonik modern, tetapi tampaknya sudah sangat mematikan.


BILA mendengar kata “pes” atau “Maut Hitam”, bayangan kita biasanya tertuju pada Abad Pertengahan, lengkap dengan kota yang penuh sesak, sanitasi buruk, dan tikus yang berkeliaran. 


Namun, anggapan bahwa pes baru menjadi pembunuh massal setelah manusia mengenal peradaban padat ternyata keliru. 


Alam rupanya sudah menemukan cara membasmi populasi manusia jauh sebelum kita sempat membangun kota.


Penelitian yang diterbitkan di Nature mengungkap dua fase wabah pes pada komunitas pemburu-peramu di sekitar Danau Baikal, Siberia, sekitar 5.500 hingga 5.000 tahun lalu. 


Para peneliti menganalisis DNA dari 46 individu yang ditemukan di empat lokasi pemakaman dan mendeteksi Yersinia pestis pada 18 orang, sekitar 39 persen sampel. 


Yang paling mengusik adalah pola kematiannya. Di antara korban terdapat banyak anak-anak, sementara beberapa makam memperlihatkan anggota keluarga yang kemungkinan meninggal dalam waktu berdekatan. 


Bahkan, tiga anak perempuan berusia sekitar 4–9 tahun ditemukan dalam satu makam dan semuanya memiliki bukti infeksi Y. pestis.


Temuan ini penting karena strain Y. pestis pada masa itu belum memiliki sejumlah gen yang kemudian memungkinkan bakteri bertahan dalam tubuh kutu dan menyebar secara efisien melalui gigitannya.


Mekanisme itu menjadi ciri penting pes bubonik. 


Lalu bagaimana bakteri yang belum “lengkap” secara evolusioner itu bisa begitu mematikan?


Salah satu petunjuknya adalah keberadaan YPM, faktor genetik yang menghasilkan superantigen. 


Senyawa semacam ini dapat memicu respons sistem kekebalan yang sangat kuat dan berpotensi menyebabkan peradangan berat. 


Dengan kata lain, bakteri purba ini tampaknya tidak perlu menunggu menjadi spesialis penumpang kutu untuk membuat manusia sengsara. 


Para peneliti menduga sebagian infeksi mungkin berasal dari marmot, hewan pengerat yang hingga kini menjadi reservoir alami pes di kawasan Danau Baikal. 


Bukti arkeologis menunjukkan komunitas pemburu-peramu setempat berinteraksi dengan marmot. Penularan dari hewan ke manusia semacam ini dikenal sebagai spillover zoonotik. 


Penelitian ini juga memperkuat dugaan bahwa pes memiliki akar di Asia Tengah atau Asia Timur Laut. 


Wabah tidak harus menunggu manusia membangun kota padat, berdagang lintas wilayah, atau menciptakan kondisi ideal bagi kutu dan tikus.


Jauh sebelum peradaban urban menjadi panggung epidemi besar, bakteri ini rupanya sudah lebih dulu belajar satu hal penting: manusia yang hidup dalam kelompok kecil pun tetap bisa menjadi sasaran.


Disadur dari ScienceDaily - Plague was killing entire families thousands of years before the Black Death yang diakses pada September 2026.




Post a Comment

أحدث أقدم