Polusi Tersembunyi Saat Mobil Makin Bersih

Standar emisi yang lebih ketat memang menurunkan polusi mobil, tetapi penelitian baru menemukan komposisi zat kimianya justru ikut berubah.


Standar emisi yang lebih ketat memang menurunkan polusi mobil, tetapi penelitian baru menemukan komposisi zat kimianya justru ikut berubah.Ilustrasi dibuat oleh AI. 


Ringkasan

  • Emisi total senyawa organik volatil (VOC) mobil konvensional turun hingga 75 persen setelah standar emisi diperketat.
  • Namun, proporsi VOC beroksigen (OVOC) yang sebagian bersifat reaktif atau beracun meningkat dari sekitar 20–22 persen menjadi 35 persen.
  • Satu mobil hybrid yang diuji menghasilkan hampir dua kali lipat OVOC dibanding mobil konvensional sebanding dalam kondisi tertentu.


SELAMA ini, mobil yang mengeluarkan lebih sedikit polutan tentu terdengar seperti kabar baik. Dan memang demikian. 


Standar emisi yang semakin ketat telah berhasil memangkas jumlah senyawa organik volatil atau volatile organic compounds (VOC) dari knalpot kendaraan.


Masalahnya, angka total kadang menyembunyikan cerita di baliknya.


Penelitian yang diterbitkan di Environmental Science and Ecotechnology menemukan bahwa ketika jumlah total VOC menurun, komposisi kimia yang tersisa berubah. 


Salah satu kelompok yang semakin dominan adalah oxygenated volatile organic compounds (OVOC), yang mencakup senyawa seperti formaldehida, aseton, akrolein, dan vinil asetat. 


Sebagian senyawa ini dapat berperan dalam pembentukan ozon dan aerosol organik sekunder, sekaligus memiliki potensi risiko terhadap kesehatan. 


Para peneliti menguji tujuh mobil bensin dengan mesin gasoline direct injection: enam mobil konvensional dan satu mobil hybrid non-plug-in. 


Kendaraan diuji menggunakan siklus berkendara WLTC, termasuk kondisi cold start dan hot start.


Pada fase kecepatan rendah ketika mesin baru dinyalakan, kendaraan konvensional yang memenuhi standar emisi China IV hingga China VI mengalami penurunan emisi VOC sekitar 75 persen, dari 287,8 menjadi 71,8 miligram per kilometer. 


Tetapi proporsi OVOC justru meningkat. Pada kondisi cold start sepanjang siklus WLTC, kontribusinya naik dari sekitar 20–22 persen pada kendaraan China IV/V menjadi 35 persen pada kendaraan China VI.


Dengan kata lain, knalpotnya memang mengeluarkan lebih sedikit “isi”, tetapi isi yang tersisa tidak selalu memiliki karakter kimia yang sama. Polusi rupanya juga bisa melakukan makeover, sayangnya bukan menjadi lebih fotogenik.


Mobil hybrid dirancang untuk menghemat bahan bakar dengan bergantian menggunakan motor listrik dan mesin bensin. Namun, perpindahan ini berarti mesin dapat berulang kali mati dan menyala kembali.


Dalam kondisi kecepatan rendah, siklus tersebut dapat membuat mesin dan katalisator belum mencapai suhu kerja optimal. 


Akibatnya, pembakaran bisa kurang sempurna dan three-way catalytic converter (TWC) tidak bekerja seefektif ketika sudah panas.


Pada mobil hybrid yang diuji, emisi OVOC saat hot start berkecepatan rendah mencapai 25,4 mg/km, hampir dua kali lipat mobil konvensional pembanding yang menghasilkan 13,3 mg/km. 


Pada kondisi cold start, indeks bahaya non-kanker (hazard index) hybrid diperkirakan 69 persen lebih tinggi, sedangkan estimasi risiko kanker hampir dua kali lipat dibanding kendaraan konvensional tersebut. 


Namun, ada catatan penting, hanya satu mobil hybrid yang diuji. Karena itu, hasil tersebut tidak berarti semua mobil hybrid lebih berpolusi atau lebih berbahaya. 


Peneliti sendiri menekankan perlunya pengujian terhadap lebih banyak kendaraan, bahan bakar, kondisi iklim, dan pola berkendara.


Penelitian ini mengusulkan pendekatan yang menggabungkan tiga aspek: konsentrasi, reaktivitas, dan toksisitas. 


Pendekatan semacam ini dapat membantu regulator mengidentifikasi senyawa yang paling penting untuk dikendalikan, bukan sekadar menghitung total massa VOC.


Beberapa senyawa yang mendapat perhatian antara lain akrolein, formaldehida, benzena, dan vinil asetat. 


Senyawa aromatik seperti toluena, etilbenzena, xilena, dan benzena juga tetap berperan besar dalam pembentukan aerosol organik sekunder. 


Empat senyawa aromatik tersebut menyumbang lebih dari 70 persen potensi pembentukan aerosol dalam analisis penelitian. 


Ke depan, standar emisi kendaraan mungkin perlu bergerak dari sekadar membatasi jumlah total polutan menuju pengawasan senyawa tertentu yang paling reaktif atau berisiko. 


Teknologi seperti katalis yang dapat dipanaskan lebih cepat juga berpotensi membantu mengatasi masalah ketika mesin hybrid sering hidup-mati.


Jadi, mobil yang lebih irit dan memenuhi standar emisi terbaru memang merupakan kemajuan. 


Hanya saja, penelitian ini mengingatkan bahwa “lebih sedikit polusi” tidak selalu berarti “semua jenis polusi berkurang dengan cara yang sama.” 


Dalam urusan udara bersih, rupanya angka total saja belum cukup untuk membaca seluruh ceritanya.


Disadur dari Scitech Daily - Cleaner Cars May Be Hiding a New Pollution Problem yang diakses pada Agustus 2026.




Post a Comment

أحدث أقدم