Sebuah artefak kayu berusia sekitar 2.200 tahun dari Mesir sempat dianggap sebagai bukti teknologi terbang kuno, tetapi penelitian modern membantah dugaan tersebut.
Ringkasan
- Burung Saqqara adalah artefak kayu dari sekitar 200 SM yang bentuknya menyerupai burung sekaligus pesawat luncur (glider).
- Selama puluhan tahun, sebagian peneliti menduga benda itu membuktikan bangsa Mesir kuno memahami aerodinamika.
- Simulasi komputer pada 2023 menunjukkan artefak tersebut tidak memiliki karakteristik yang memungkinkan untuk terbang stabil.
SEBUAH artefak kecil dari kayu yang ditemukan di kompleks pemakaman Saqqara, Mesir, telah memicu perdebatan ilmiah selama lebih dari satu abad.
Benda yang dikenal sebagai Saqqara Bird itu ditemukan pada 1898 di makam Pa-di-Imen dan berasal dari sekitar 200 SM.
Bentuknya yang menyerupai burung dengan sayap membentang membuat sebagian orang berspekulasi bahwa bangsa Mesir kuno mungkin telah memahami prinsip-prinsip penerbangan jauh sebelum era modern.
Artefak tersebut kini disimpan di Museum Mesir di Kairo. Terbuat dari kayu pohon ara Mesir (sycamore), benda ini memiliki bentang sayap sekitar 18 sentimeter dan berat hanya sekitar 39 gram.
Kepala dan paruhnya menyerupai burung elang atau falcon, yang diduga berkaitan dengan dewa Horus. Namun bagian tubuh dan sayapnya tampak lebih mirip pesawat luncur sederhana dibandingkan patung burung biasa.
Gagasan bahwa Saqqara Bird merupakan bukti pengetahuan aerodinamika Mesir kuno mulai populer pada 1970-an.
Egyptolog sekaligus penggemar pesawat model, Kahlil Messiha, menemukan kembali artefak tersebut di gudang museum.
Dalam makalah yang diterbitkan pada 1980, ia berpendapat bentuk badan dan sayap benda itu menyerupai profil sayap pesawat (airfoil), sehingga mungkin dirancang untuk dapat melayang di udara.
Hipotesis itu kemudian menarik perhatian banyak orang. Bahkan beberapa peneliti membuat replika menggunakan kayu balsa yang lebih ringan.
Replika tersebut memang mampu meluncur dalam kondisi tertentu, terutama jika ditambahkan bagian ekor horizontal yang tidak dimiliki artefak asli.
Namun, justru di sinilah letak persoalannya. Penambahan ekor berarti replika tersebut sudah tidak lagi identik dengan benda asli.
Karena itu, hasil uji tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa artefak asli memang dirancang sebagai pesawat luncur.
Pada 2002, perancang glider Martin Gregorie membuat rekonstruksi tanpa memodifikasi bentuk aslinya. Hasilnya menunjukkan Saqqara Bird tidak mampu terbang sebagaimana pesawat luncur.
Menurut Gregorie, benda tersebut kemungkinan lebih tepat dianggap sebagai mainan anak-anak atau baling-baling penunjuk arah angin (weathervane) daripada teknologi penerbangan kuno.
Kesimpulan yang lebih kuat datang pada 2023 melalui simulasi dinamika fluida dan aerodinamika berbasis komputer.
Penelitian itu menemukan, Burung Saqqara memiliki distribusi gaya angkat yang tidak seimbang, kestabilan pitch yang buruk, serta pusat gravitasi yang berada di posisi yang membuatnya mudah kehilangan kendali.
Dengan karakteristik seperti itu, artefak tersebut tidak mungkin meluncur secara stabil.
Meski demikian, fungsi sebenarnya masih menjadi bahan diskusi.
Sejumlah arkeolog menduga benda ini merupakan ornamen kapal, sementara teori lain menyebutnya sebagai bumerang bergaya artistik atau sekadar mainan.
Hingga kini belum ditemukan artefak serupa yang dapat memperkuat salah satu hipotesis tersebut.
Kasus Burung Saqqara menunjukkan bagaimana sains bekerja dalam arkeologi. Bentuk yang tampak "canggih" memang bisa memunculkan berbagai spekulasi, tetapi klaim luar biasa membutuhkan bukti yang sama kuatnya.
Disadur dari Popular Mechanics - Archaeologists Thought a 2,200-Year-Old Artifact Might Be an Egyptian Flying Machine. Then Science Got Involved yang diakses pada Juli 2026.

إرسال تعليق