Alasan Pigmen 'Glow-in-the-Dark' Favorit Seniman Modern Cepat Mulai Kehabisan Daya

Riset terbaru mengungkap penyebab pigmen fosforesens glow-in-the-dark cepat meredup, yaitu tingginya kelembapan udara yang merusak senyawa pembentuk kilau.


Riset terbaru mengungkap penyebab pigmen fosforesens glow-in-the-dark cepat meredup, yaitu tingginya kelembapan udara yang merusak senyawa pembentuk kilau.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Pigmen fosforesen perlahan kehilangan kemampuan menyerap, menyimpan, dan memancarkan cahaya.
  • Kelembapan tinggi ternyata bisa sama berpengaruhnya, bahkan lebih parah, dibanding paparan cahaya dalam mempercepat degradasi.
  • Temuan ini dapat membantu museum memperbaiki cara menyimpan karya sekaligus mendorong pengembangan pigmen yang lebih tahan lama.


SIAPA yang tidak terpesona melihat baju atau karya seni berpendar di kegelapan?


Gaya busana nyentrik ala desainer Stephen Sprouse pada era 1980-an, misalnya, sangat mengandalkan efek visual fluorescent dan glow-in-the-dark yang mencolok untuk mencuri perhatian.


Namun, kabar buruk bagi para pengagum estetika ini, pendaran keren tersebut ternyata tidak dirancang untuk bertahan abadi. Lambat laun, keajaiban visual itu akan meredup dan meninggalkan warna yang kusam.


Guna menyingkap di balik cepat pudar dan lelahnya pigmen menyala ini, tim peneliti yang dipimpin oleh Prof. Sarah Schmidtke Sobeck dari The College of Wooster melakukan serangkaian pengujian fotofisika.


Mereka mengukur bagaimana pigmen fosforesens menyerap, menyimpan, hingga memancarkan kembali energi cahaya, serta memantau bagaimana sifat-sifat tersebut terdegradasi seiring berjalannya waktu.


Hasilnya cukup mengejutkan para ilmuwan. Selama ini, paparan sinar terang kerap dituduh sebagai biang kerok utama yang memupuskan pendaran.


Namun, riset menunjukkan, kelembapan udara yang tinggi dalam jangka panjang memegang peran yang tak kalah jahat, bahkan kadang jauh lebih merusak daripada paparan cahaya ruangan biasa.


Selain itu, campuran senyawa anorganik dan pigmen berbasis mineral di dalam bahan fosforesens turut mempercepat proses pembusukan kilau tersebut.


Temuan ini membawa angin segar sekaligus peringatan bagi para kurator museum dan konservator seni.


Merestorasi lukisan atau busana glow-in-the-dark bukanlah perkara gampang seperti menempelkan cat baru.


Konservator harus mencocokkan warna tepat di bawah sinar tampak dan sinar UV secara bersamaan saat bahan dasarnya sendiri terus membusuk secara kimiawi.


Paling tidak, penelitian ini memberi petunjuk baru mengenai pengaturan kelembapan mikro di ruang pameran agar karya-karya futuristik tersebut tidak buru-buru mati lampu.


Menariknya, studi ini juga membuktikan betapa indahnya persilangan antara dunia seni dan sains.


Melalui kolaborasi lintas disiplin antara sejarah seni dan kimia, para peneliti dapat mencari solusi atas masalah nyata di industri kreatif maupun komersial.


Disadur dari The Debrief - Unraveling Why Glow-in-the-Dark Pigments Favored by Modern Artists and Designers Don’t Last yang diakses pada Agustus 2026.




Post a Comment

أحدث أقدم