Tak semua orang mudah bersiul karena kemampuan itu bergantung pada bentuk mulut, posisi lidah, kontrol otot, dan latihan.
Ringkasan
- Bersiul membutuhkan bentuk mulut yang sangat spesifik, terutama celah kecil di bibir dan posisi lidah terhadap langit-langit mulut.
- Kebanyakan orang sebenarnya bisa belajar bersiul, meski anatomi tertentu, seperti celah langit-langit mulut, dapat membuatnya sangat sulit atau bahkan mustahil.
- Usia juga berpengaruh karena kemampuan mengendalikan otot bibir dan lidah cenderung lebih mudah dibentuk ketika masih anak-anak.
PERNAH melihat orang bersiul dengan santai, sementara kamu sudah mengerutkan bibir sampai wajah terasa seperti sedang menghadapi angin puting beliung, tetapi tak ada suara sedikit pun?
Tenang, kamu mungkin tidak mengalami kegagalan hidup. Masalahnya bisa sesederhana geometri mulut.
Dalam sebuah video YouTube yang merekam 100 orang secara acak mencoba bersiul, sekitar separuh gagal.
Menariknya, mereka yang berhasil ternyata memiliki bentuk mulut yang nyaris sama: sudut bibir sedikit tertarik ke belakang dan menyisakan lubang kecil di tengah, kira-kira selebar pensil.
Jadi, bersiul bukan sekadar meniup udara sambil berharap mukjizat terjadi.
Menurut Francisco Ruiz, profesor teknik mesin di Illinois Institute of Technology yang meneliti akustik siulan, ketidakmampuan bersiul secara anatomis sebenarnya jarang terjadi.
Bagi kebanyakan orang, persoalannya adalah latihan. Ia mengibaratkannya seperti belajar naik sepeda: jatuh berkali-kali, lalu tiba-tiba bisa.
Bersiul membutuhkan koordinasi yang cukup presisi. Bibir membentuk lubang kecil di bagian depan, sementara bagian belakang lidah mendekati langit-langit mulut sehingga menciptakan celah sempit lain.
Ketika udara melewati struktur tersebut, muncul gangguan kecil pada aliran udara. Gangguan itu bergerak maju dan memantul kembali sebagai gelombang tekanan.
Proses ini berulang sangat cepat hingga menghasilkan nada yang stabil.
Mekanismenya mirip ketika seseorang meniup bagian atas botol untuk menghasilkan bunyi.
Rongga udara di dalamnya beresonansi dan menghasilkan nada tertentu. Mulut manusia ternyata juga bisa bertindak seperti semacam resonator Helmholtz.
Yang lebih rumit, tekanan tiupan juga harus pas. Terlalu lemah, suara tidak muncul. Terlalu kuat, hasilnya juga bisa gagal. Ada semacam “titik manis” dalam kekuatan hembusan yang membuat siulan muncul.
Beberapa kondisi anatomi dapat menghambat kemampuan ini. Salah satunya adalah celah langit-langit mulut (cleft palate), yaitu kondisi bawaan ketika atap mulut tidak menyatu sempurna.
Kondisi tersebut dapat membuat seseorang kesulitan membentuk penyempitan yang diperlukan untuk menghasilkan siulan.
Namun, bagi sebagian besar orang, “tidak bisa bersiul” lebih tepat disebut belum menemukan caranya.
Usia juga dapat memainkan peran. Maureen Stone, ilmuwan bicara dan profesor emerita di University of Maryland School of Dentistry, membandingkan belajar bersiul saat dewasa dengan mempelajari bahasa baru setelah pindah negara.
Anak-anak umumnya lebih mudah beradaptasi, sementara orang dewasa cenderung membawa “aksen”.
Perubahan setelah pubertas membuat kontrol dan kemampuan beradaptasi otot bibir serta lidah tidak lagi semudah masa kanak-kanak. Tetapi bukan berarti pintunya tertutup.
Ruiz mengembangkan perangkat kecil bernama Flutino, alat cetak 3D yang membantu membentuk posisi bibir agar sesuai dengan geometri yang dibutuhkan untuk bersiul.
Bentuknya menyerupai corong mungil dan digunakan di antara bibir.
Dalam pengujian, perangkat itu dapat menghasilkan siulan hingga sekitar 100 desibel—cukup keras untuk membuat orang terkejut.
Flutino masih dalam tahap pengembangan dan belum tersedia untuk dibeli. Sebuah klub mahasiswa di UCLA bahkan mengujinya sebagai semacam “roda bantu” bagi orang yang belum pernah berhasil bersiul.
Dan hasilnya, salah satu peneliti yang sebelumnya kesulitan menghasilkan siulan berkelanjutan mengaku kemampuannya meningkat sekitar 50–60 persen setelah mempelajari mekanismenya.
Jadi, kalau sampai sekarang kamu belum bisa bersiul, jangan buru-buru menyalahkan bibir, lidah, atau nasib. Bisa jadi otak dan mulut kamu hanya belum mencapai kesepakatan teknis.
Disadur dari Popular Science - Can’t whistle? It’s not you, it’s mouth geometry yang diakses pada Agustus 2026.

إرسال تعليق