Penelitian di Spanyol menemukan telur burung yang gagal menetas dapat menjadi arsip lingkungan yang merekam polusi lama dan baru.
Ringkasan
- Telur burung liar yang tidak menetas mengandung jejak pestisida terlarang seperti DDT serta bahan kimia pertanian modern.
- Burung pemangsa berada di antara spesies yang paling rentan karena polutan menumpuk di puncak rantai makanan.
- Para ilmuwan menilai telur yang gagal menetas dapat menjadi alat penting untuk mendeteksi ancaman lingkungan sejak dini.
SAAT para ilmuwan ingin melacak tingkat pencemaran lingkungan pada satwa liar, mereka biasanya akan memeriksa sampel darah, bulu, atau jaringan tubuh hewan yang masih hidup.
Namun, sekelompok peneliti di Spanyol justru menemukan sumber bukti lain yang selama ini luput dari perhatian, padahal berada tepat di depan mata, telur burung yang gagal menetas.
Dengan menganalisis telur-telur yang tidak berhasil menetas selama periode 2014 hingga 2024, para peneliti menemukan jejak berbagai bahan pencemar.
Isabel Fernández-Verón, peneliti toksikologi veteriner sekaligus penulis utama studi dari University of Córdoba (UCO), memimpin analisis ini bersama pusat penangkaran satwa liar setempat.
Metode yang mereka gunakan disebut dengan biomonitoring, yaitu memanfaatkan makhluk hidup (atau bagian darinya) untuk melacak pergerakan polutan di suatu ekosistem.
Hasil studi luar biasa ini kini telah resmi diterbitkan dalam jurnal Ecotoxicology and Environmental Safety.
Temuan yang paling mengejutkan sekaligus mengerikan dari riset ini adalah kehadiran DDT (dichlorodiphenyltrichloroethane).
Bagi yang asing dengan namanya, DDT adalah pestisida super kuat yang sudah dilarang total sejak tahun 1970-an karena terbukti merusak lingkungan.
Anehnya, meski sudah dilarang setengah abad lalu, zat kimia ini masih menampakkan dirinya di dalam telur burung yang bertelur puluhan tahun setelah larangan itu berlaku. Mengapa bisa begitu?
Rupanya, DDT tidak bisa lenyap begitu saja dari muka bumi. Zat ini mengendap dengan sangat awet di dalam tanah dan air, lalu terurai menjadi senyawa turunan yang mematikan.
Senyawa ini kemudian merayap naik melalui rantai makanan. Celakanya, semakin tinggi posisi suatu hewan dalam rantai makanan, semakin pekat pula konsentrasi racun yang menumpuk di tubuhnya.
Dampak nyata dari racun purba ini terlihat jelas pada fisik telur. Senyawa turunan DDT ini terbukti membuat cangkang telur menjadi sangat tipis dan rapuh.
Akibatnya, cangkang mudah retak atau kemasukan mikroba jahat dari luar yang langsung membunuh embrio di dalamnya sebelum sempat melihat dunia.
Bagi burung pemangsa berbiak lambat seperti burung hering janggut (bearded vulture) yang hanya bertelur satu atau dua butir saja per tahun, kehilangan satu telur akibat cangkang rapuh adalah sebuah bencana besar menuju kepunahan.
Jika keberadaan zat terlarang masa lalu sudah diprediksi oleh ilmuwan, kejutan besar justru datang dari "teman-teman" barunya.
Di dalam kuning telur yang sama, para peneliti juga mendeteksi keberadaan pestisida dan fungisida modern yang saat ini masih aktif disemprotkan oleh para petani ke lahan pertanian mereka.
Kondisi ini membuat para ilmuwan cemas. Banyak telur yang ditemukan membawa "koktail beracun", alias campuran dari berbagai jenis kontaminan sekaligus—baik yang jadul maupun yang baru.
Masing-masing bahan kimia tersebut berada dalam kadar yang rendah.
Namun demikian, belum ada satu pun ahli yang tahu pasti bagaimana efek mematikan yang dihasilkan ketika zat-zat kimia berbeda ini saling bercampur dan bereaksi di dalam tubuh makhluk hidup.
Burung pemangsa (birds of prey) menjadi korban yang menanggung beban paling berat.
Sebagai predator puncak, mereka memakan hewan-hewan kecil di bawahnya yang sudah terkontaminasi polusi dari area perburuan yang luas.
Ketika burung betina memproduksi telur, ia secara tidak sengaja menyalurkan sebagian beban racun dari tubuhnya sendiri ke dalam cangkang dan kuning telur.
Meskipun sebagian besar zat kimia ditemukan dalam konsentrasi yang rendah, hal itu sama sekali tidak bisa dianggap aman. Banyak dari zat kimia tersebut merupakan endocrine disruptors atau bahan pengganggu hormon.
Zat penyusup ini bekerja dengan cara mengacaukan sistem hormon yang mengendalikan pertumbuhan dan reproduksi satwa.
Jadi, tanpa perlu membunuh induknya secara langsung, zat ini sanggup memutus garis keturunan mereka lewat kegagalan penetasan telur.
"Jenis kontaminan seperti ini langsung memukul sistem reproduksi spesies yang sensitif," jelas Fernández-Verón.
Bahan kimia berbahaya yang menipiskan cangkang telur elang di hutan tidak akan berhenti di sana.
Zat yang sama juga mengalir ke sumber air minum yang kita konsumsi dan menempel pada sayur-mayur di meja makan kita.
Burung hanyalah "alarm peringatan dini" bagi manusia karena mereka merasakan dampaknya lebih cepat akibat posisi mereka di puncak rantai makanan.
Kini, tim peneliti dari Spanyol sudah bersiap melangkah ke target berikutnya.
Mereka berencana memeriksa sampel telur yang sama untuk berburu mikroplastik—partikel plastik super kecil yang kini sudah menjajah hampir seluruh sudut bumi.
Dengan memanfaatkan telur yang gagal menetas ini, para aktivis lingkungan dan pemerintah diharapkan bisa mencuri start untuk mendeteksi polutan baru sebelum kerusakan yang lebih parah menimpa bumi kita.
Disadur dari Earth.com - Unhatched bird eggs reveal decades of hidden pollution.

إرسال تعليق