Sisi Gelap WFH: Bikin Lebih Kesepian dan Memperburuk Kesehatan Mental

Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa tren kerja dari rumah (WFH) meningkatkan isolasi sosial dan memperburuk kesehatan mental para pekerja secara signifikan.


Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa tren kerja dari rumah (WFH) meningkatkan isolasi sosial dan memperburuk kesehatan mental para pekerja secara signifikan.Foto Ilustrasi: tirachardz/Freepik


Ringkasan 

  • Pekerja WFH menghabiskan waktu sendirian rata-rata satu jam lebih lama setiap hari kerja dibanding pekerja kantoran, dan enggan bersosialisasi setelah jam kerja usai.
  • Pekerja remote yang tinggal sendirian mengalami dampak paling parah, dengan tingkat isolasi mencapai 10 kali lipat dibanding mereka yang tinggal bersama orang lain.
  • Solusi bukan sekadar mewajibkan kembali ke kantor, melainkan memberikan fleksibilitas agar pekerja dapat memilih pola kerja yang paling sesuai.


SEMENJAK pandemi Covid-19 melanda dunia, sistem kerja dari rumah alias Work From Home (WFH) langsung meroket jadi tren baru yang diadopsi banyak perusahaan. 


Fleksibilitas tanpa perlu macet-macetan di jalan, hemat ongkos bensin, hingga bisa bekerja sambil memakai celana pendek tentu terdengar seperti mimpi yang jadi nyata bagi banyak karyawan.


Namun, di balik segala kenyamanan dan kepraktisan yang ditawarkan, WFH ternyata menyimpan "biaya tak kasatmata" yang cukup mahal bagi kesehatan jiwa kita.


Sebuah studi komprehensif yang diterbitkan pada 4 Juni dalam jurnal ilmiah terkemuka Science membeberkan fakta mengejutkan. 


Para peneliti menganalisis data dari setengah juta lebih pekerja di Amerika Serikat dalam rentang waktu antara tahun 2011 hingga 2024. 


Guna menjaga keakuratan data agar murni menilai dampak WFH, bukan efek kecemasan akibat virus, para peneliti sengaja mengeluarkan data dari masa puncak pandemi pada tahun 2020 dan 2021.


Hasilnya? Pola kerja remote terbukti kuat memicu rasa terisolasi yang mendalam dan memperburuk kondisi kesehatan mental pekerja.


Tim peneliti membagi objek riset menjadi dua kelompok: pekerja yang bidang tugasnya bisa dilakukan secara jarak jauh, seperti software engineer, dan pekerja yang wajib hadir secara fisik, seperti perawat dan juru masak.


Dari perbandingan tersebut, terungkap bahwa mereka yang bekerja dari rumah rata-rata menghabiskan waktu ekstra satu jam sendirian setiap harinya. 


Menariknya lagi, rasa sepi ini tidak mereka tebus setelah jam kerja selesai.


"Kami bahkan melihat adanya penurunan intensitas berkumpul bersama teman-teman setelah jam kerja berakhir pada kelompok pekerja remote.


"Itu jika dibandingkan dengan mereka yang bekerja langsung di lokasi," ungkap Natalia Emanuel, penulis utama studi sekaligus ekonom di Federal Reserve Bank of New York.


Dampak paling menyedihkan dirasakan oleh para pekerja WFH yang tinggal sendirian di rumah atau kosan. 


Tingkat kesepian yang mereka alami melonjak hingga 10 kali lipat daripada pekerja yang tinggal bersama keluarga atau teman. 


Menurut Natalia, sebagian dari mereka bahkan melewati hari demi hari tanpa adanya kontak manusia sama sekali. 


Tidak ada sapaan ramah kepada barista kedai kopi, bahkan tidak ada interaksi sekadar berpapasan dengan sesama pembeli yang sedang memilih buah di supermarket.


Rasa terisolasi yang ekstrem ini secara perlahan menggerogoti kesehatan mental. Data riset menunjukkan adanya pergeseran grafik yang mengkhawatirkan: 

  • pekerja remote melaporkan tingkat tekanan psikologis yang lebih tinggi, 
  • lebih sering berkonsultasi ke psikolog atau psikiater, 
  • serta mengalami peningkatan konsumsi obat-obatan penenang untuk mengatasi depresi dan kecemasan (anxiety).


Mantan Surgeon General (Kepala Humas Kesehatan) AS, Vivek Murthy, sebenarnya sudah sempat memperingatkan tentang adanya "epidemi kesepian" ini. 


Isolasi sosial yang berkepanjangan secara medis memang terbukti meningkatkan risiko depresi berat


Mengapa? Karena bagi orang dewasa, tempat kerja adalah salah satu wadah utama untuk membangun serta merawat hubungan pertemanan. 


Saat ruang kerja fisik itu hilang, hilang pula ekosistem sosial alami mereka.


Melihat hasil studi ini, apakah pihak manajemen perusahaan harus langsung mengetok palu dan memaksa semua karyawannya untuk kembali bekerja di kantor (Work From Office/WFO)?


Para pakar dengan tegas menjawab, bukan begitu solusinya.


Emma Harrington, salah satu penulis studi dari University of Virginia, mengingatkan bahwa riset ini tidak berniat menghapus poin-poin positif dari WFH. 


Bagaimanapun, WFH telah membantu banyak orang menghemat waktu komuter, memberi ruang lebih bagi orang tua untuk dekat dengan anak, serta membuka kesempatan kerja yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas.


Memaksa karyawan yang sudah nyaman di rumah untuk kembali ke kubikel kantor secara kaku justru bisa memicu stres jenis baru dan menurunkan produktivitas.


Lantas, apa jalan tengahnya? Ekonom dari Stanford University, Nicholas Bloom, memberikan pandangan yang sangat bijak. 


Berdasarkan riset-riset sebelumnya, cara terbaik untuk menjaga kesehatan mental karyawan di era modern ini adalah dengan memberikan kebebasan memilih.


Kebijakan yang kaku—baik itu 100% WFH tanpa pengawasan sosial atau 100% wajib ke kantor—sama-sama menyimpan dampak negatif. 


Solusi yang dinilai paling sehat secara psikologis saat ini adalah menerapkan sistem kerja campuran (hybrid working).


Melalui sistem hybrid, karyawan tetap memiliki otonomi untuk mengatur waktu mereka di rumah, namun tetap dijadwalkan datang ke kantor beberapa kali dalam seminggu.


Langkah ini dinilai efektif untuk memutus rantai isolasi sosial tanpa harus merenggut kebebasan pekerja.


Selain itu, sosiolog dari University of Geneva, Mattia Vacchiano, mengingatkan bahwa realitas di lapangan bisa jadi sangat dinamis. 


Manusia adalah makhluk yang adaptif. Di luar jam kerja, para pekerja remote sebenarnya bisa menyiasati rasa sepi dengan aktif membangun komunitas baru di lingkungan tempat tinggal mereka.


Contohnya, seperti bergabung dengan klub olahraga lokal atau bekerja dari coworking space.


Bagaimanapun, studi ini menjadi alarm pengingat yang penting bagi dunia kerja modern. 


Di tengah kecanggihan teknologi yang memungkinkan kita bekerja dari mana saja, kita tidak boleh lupa bahwa kita tetaplah makhluk sosial. 


Kita membutuhkan koneksi nyata dengan manusia lain, bukan sekadar tatapan mata lewat layar monitor.


Disadur dari Smithsonian Magazine - Working From Home Is Making People Lonelier and Worsening Mental Health, a Study Suggests.



Post a Comment

أحدث أقدم