Riset terbaru mengungkapkan bahwa main pickleball ampuh mendongkrak kebahagiaan, sedangkan padel lebih memicu tingkat kepedulian pada performa dan kecemasan.
Ringkasan
- Olahraga santai ini terbukti meningkatkan kepuasan hidup, hubungan sosial, dan menekan risiko depresi.
- Didominasi riset pemain kompetitif, padel mengasah kepercayaan diri sekaligus memicu kecemasan serta kelelahan mental.
- Studi ini masih bersifat observasional di tiga negara, sehingga tidak otomatis menjadi obat mujarab masalah jiwa.
OLAHRAGA raket sedang mengalami masa keemasan. Bukan cuma tenis, kini padel dan pickleball ikut berebut perhatian.
Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan di Frontiers in Psychology menelaah hubungan kedua olahraga tersebut dengan kesehatan mental dan kesejahteraan.
Peneliti dari University of Vienna dan King’s College London menyaring 71 penelitian dan akhirnya memasukkan 14 studi dengan total 1.403 peserta.
Hasilnya menunjukkan perbedaan menarik. Pickleball lebih banyak dikaitkan dengan aspek kesejahteraan. Pemain melaporkan kebahagiaan dan kepuasan hidup yang lebih tinggi serta hubungan sosial yang lebih kuat.
Keterlibatan dalam pickleball juga berhubungan dengan tingkat depresi yang lebih rendah. Dampak sosial ini tampaknya cukup penting, terutama bagi pemain perempuan dan orang lanjut usia.
Hal itu masuk akal. Pickleball dimainkan di lapangan yang relatif kecil dan ritmenya lebih lambat dibanding sejumlah olahraga raket lain, sehingga komunikasi dan interaksi antarpemain menjadi bagian penting permainan.
Ketika pandemi Covid-19 membatasi kesempatan bermain, berkurangnya aktivitas tersebut juga dikaitkan dengan meningkatnya kesepian dan memburuknya kesehatan mental.
Sementara itu, penelitian tentang padel lebih banyak melihat apa yang terjadi di kepala pemain ketika pertandingan berlangsung.
Pemain dengan level lebih tinggi cenderung memiliki kepercayaan diri lebih besar dan gejala kecemasan fisik yang lebih rendah.
Tingkat kecemasan juga berubah bergantung pada peringkat pemain, jenis kelamin, tahap pertandingan, hingga apakah mereka menang atau kalah.
Masalahnya, pertandingan berturut-turut juga bisa menguras otak.
Kelelahan mental pada pemain padel meningkat setelah beberapa pertandingan dan berkaitan dengan reaksi yang lebih lambat serta akurasi yang menurun.
Menariknya, motivasi kadang justru meningkat ketika pertandingan semakin menuntut secara mental. Jadi, otak sudah lelah, tetapi semangat masih berkata, “satu gim lagi.”
Namun, jangan buru-buru menganggap raket sebagai pengganti psikolog. Seluruh studi yang masuk dalam tinjauan tersebut bersifat observasional, bukan uji coba terkontrol secara acak.
Artinya, penelitian menunjukkan hubungan, bukan memastikan bahwa bermain padel atau pickleball-lah yang menyebabkan perubahan psikologis tersebut.
Penelitian juga memiliki keterbatasan geografis: studi yang ditinjau berasal dari Amerika Serikat, Spanyol, dan Finlandia.
Selain itu, penelitian padel cenderung melibatkan pemain kompetitif, sedangkan penelitian pickleball lebih banyak menyoroti orang dewasa yang lebih tua.
Dengan kata lain, bukti awalnya cukup menjanjikan, tetapi sains masih membutuhkan penelitian yang lebih beragam.
Untuk sementara, jika bermain pickleball membuat seseorang lebih bahagia, punya lebih banyak teman, dan bergerak lebih aktif, setidaknya ada satu cara sederhana untuk menguji hipotesis itu: ambil raket, bukan alasan.
Disadur dari PsyPost - The psychological effects of padel and pickleball, according to science yang diakses pada September 2026.

إرسال تعليق