Sebuah gunung api unik di Tanzania memberi petunjuk baru tentang asal-usul lubang misterius di permukaan Merkurius yang hingga kini belum terpecahkan.
Ringkasan
- Gunung api Ol Doinyo Lengai di Tanzania menghasilkan lava kaya karbon yang sangat langka di Bumi.
- Para ilmuwan menduga aktivitas vulkanik serupa mungkin pernah terjadi di bawah permukaan Merkurius.
- Hipotesis ini dapat menjelaskan terbentuknya “hollows”, yaitu cekungan-cekungan aneh yang tersebar di permukaan planet tersebut.
KETIKA berbicara tentang gunung api, kebanyakan orang membayangkan lava merah pijar yang kaya silikat seperti yang mengalir dari gunung-gunung api di Indonesia atau Hawaii.
Namun di Tanzania terdapat sebuah gunung api yang sangat berbeda. Namanya adalah Ol Doinyo Lengai, yang oleh masyarakat Maasai dan Sonjo dijuluki "Gunung Tuhan".
Keunikan gunung api ini terletak pada jenis lavanya. Alih-alih didominasi silikat, lava Ol Doinyo Lengai kaya akan senyawa karbon.
Lava semacam ini disebut lava karbonatit dan memiliki titik leleh yang jauh lebih rendah dibandingkan lava biasa. Karakteristik itulah yang kini menarik perhatian para ilmuwan planet.
Dalam sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Icarus, tim peneliti mengusulkan bahwa proses serupa mungkin pernah terjadi di planet Merkurius.
Jika benar, gunung api di Tanzania itu bisa menjadi analog terbaik di Bumi untuk menjelaskan salah satu misteri terbesar Merkurius.
Meskipun telah dikenal manusia sejak zaman kuno, Merkurius termasuk planet yang sulit dipelajari.
Letaknya yang sangat dekat dengan Matahari membuat pengamatan dan pengiriman wahana ke sana menjadi tantangan besar.
Pemahaman ilmuwan tentang planet ini meningkat drastis berkat misi MESSENGER milik NASA yang mengorbit Merkurius pada dekade 2010-an.
Salah satu temuan paling mengejutkan dari misi tersebut adalah keberadaan fitur-fitur aneh yang disebut hollows.
Hollows adalah cekungan atau lubang kecil yang tersebar di berbagai lokasi di permukaan Merkurius.
Yang membuatnya menarik adalah warnanya yang relatif terang, menandakan bahwa struktur tersebut terbentuk dalam waktu geologis yang cukup muda.
Bahkan, ada kemungkinan sebagian masih terus berkembang hingga sekarang.
Masalahnya, para ilmuwan belum mengetahui secara pasti bagaimana hollows terbentuk ataupun material apa yang menyusunnya.
Menurut ahli planetologi Maximilian Paul Reitze, Merkurius tidak tampak seperti dunia yang masih aktif secara geologis.
Planet itu lebih menyerupai Bulan dibandingkan Bumi, sehingga keberadaan fitur-fitur muda seperti hollows menjadi teka-teki besar.
Merkurius memang merupakan planet yang sangat tidak biasa.
Menurut ilmuwan planet Paul Byrne, planet ini pada dasarnya dapat dibayangkan sebagai bola logam cair raksasa yang hanya dibungkus lapisan batuan tipis.
Dibandingkan Bumi, Mars, atau Bulan, Merkurius memiliki inti yang sangat besar dan mantel yang jauh lebih tipis.
Salah satu teori menyebutkan bahwa pada masa awal pembentukannya, tabrakan dahsyat dengan benda langit lain mungkin telah mengelupas sebagian besar lapisan luarnya.
Kondisi unik tersebut membuat para ilmuwan bertanya-tanya material apa yang tersisa di dalam planet itu dan bagaimana aktivitas geologinya berlangsung.
Selama bertahun-tahun, banyak peneliti menduga senyawa sulfur di dalam mantel Merkurius berperan dalam pembentukan hollows. Namun Reitze menilai penjelasan itu belum sepenuhnya memuaskan.
Sulfida diketahui tetap stabil hingga suhu sekitar 1.000 derajat Celsius, sehingga sulit menjelaskan letusan eksplosif yang tampaknya diperlukan untuk menghasilkan struktur tersebut.
Untuk mencari alternatif penjelasan, tim Reitze bekerja sama dengan peneliti yang mempelajari Ol Doinyo Lengai. Mereka memperoleh sampel lava karbonatit saat masih dalam keadaan cair.
Langkah ini penting karena lava karbonatit sangat cepat bereaksi dengan atmosfer Bumi.
Dengan mengisolasi sampel sebelum berubah secara kimia, para peneliti dapat mempelajari sifat aslinya dan memperkirakan bagaimana material serupa akan berperilaku di Merkurius.
Hipotesis mereka menyatakan bahwa di bawah permukaan Merkurius mungkin terdapat kantong magma kaya karbon.
Ketika meteorit menghantam permukaan planet, panas yang dihasilkan dapat melelehkan material tersebut dan memicu erupsi.
Dalam skenario ini, hollows merupakan sisa-sisa aktivitas vulkanik berbasis karbon.
Banyak hollows memang ditemukan di lereng kawah tumbukan atau di puncak pusat kawah, lokasi yang konsisten dengan pemanasan akibat hantaman meteorit.
Seiring waktu, radiasi Matahari yang sangat kuat dan bombardemen meteorit berikutnya akan menghapus jejak-jejak yang lebih tua.
Karena itu, hollows yang terlihat sekarang diperkirakan berusia kurang dari sekitar 270 juta tahun—sangat muda dalam ukuran waktu geologis.
Meski menarik, gagasan ini belum diterima semua ilmuwan.
Paul Byrne menilai kandungan karbon yang diketahui ada di kerak Merkurius saat ini relatif rendah. Selain itu, wilayah yang kaya karbon tidak selalu bertepatan dengan lokasi hollows.
Karena hollows tersebar luas, hipotesis lava karbon akan membutuhkan jumlah karbon yang jauh lebih besar daripada yang diperkirakan selama ini.
Namun dalam ilmu planet, kejutan adalah hal yang biasa. Banyak teori yang tampak kuat akhirnya berubah setelah data baru diperoleh.
Harapan berikutnya kini tertuju pada misi BepiColombo, proyek bersama antara European Space Agency dan Japan Aerospace Exploration Agency.
Ketika dua wahana misi itu mulai mengorbit Merkurius secara penuh, para ilmuwan berharap dapat memperoleh data yang cukup untuk menguji apakah gunung api unik di Tanzania benar-benar memiliki "saudara" yang tersembunyi di planet terdekat dengan Matahari.
Jika hipotesis tersebut terbukti benar, maka salah satu tempat paling mirip Merkurius di seluruh Tata Surya mungkin ternyata bukan planet lain, melainkan sebuah gunung api terpencil di Afrika Timur.
Disadur dari Eos - A Unique African Volcano Could Solve a Mystery on Mercury.

إرسال تعليق