Sebuah studi antropologi mengungkapkan bahwa 54 persen budaya di dunia tidak mempraktikkan ciuman bibir romantis dan memilih cara unik lain untuk menunjukkan keintiman.
Ringkasan
- Penelitian menemukan hanya 46 persen budaya yang mempraktikkan ciuman bibir sebagai bentuk kasih sayang romantis.
- Di berbagai belahan dunia, keintiman dapat diwujudkan lewat menghirup aroma tubuh, menyentuh, hingga menggigit bulu mata pasangan.
- Ilmuwan menduga kebiasaan berciuman berkembang dari kombinasi faktor biologis, evolusi, dan budaya.
BAGI banyak orang, ciuman identik dengan cinta. Adegan pasangan berciuman kerap muncul dalam film, novel, hingga lagu-lagu romantis.
Namun, anggapan bahwa semua manusia di dunia menganggap ciuman sebagai simbol kasih sayang ternyata tidak sepenuhnya benar.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ciuman romantis bukanlah perilaku yang bersifat universal. Bahkan, lebih dari separuh budaya yang pernah diteliti tidak mengenal tradisi berciuman bibir sebagai ungkapan cinta.
Fakta ini membuat para ilmuwan kembali bertanya: jika tidak semua orang berciuman, mengapa sebagian manusia melakukannya?
Ciuman sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu
Jejak tertua mengenai ciuman ditemukan dalam naskah kuno dari Mesopotamia yang berasal sekitar 2500 SM. Pada masa itu, ciuman sudah memiliki makna sosial maupun romantis.
Bangsa Romawi kuno bahkan membedakan beberapa jenis ciuman.
Mereka mengenal osculum, yaitu ciuman di pipi sebagai salam atau sapaan sosial.
Ada pula basium, ciuman di bibir yang bersifat akrab tetapi tidak selalu romantis, misalnya di antara anggota keluarga atau pasangan.
Sementara savium merupakan ciuman penuh gairah yang khusus dilakukan oleh sepasang kekasih.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sejak dahulu ciuman bukan sekadar ekspresi cinta, tetapi juga memiliki fungsi sosial yang beragam.
Lebih dari separuh budaya tidak berciuman
Meski populer di banyak negara, kebiasaan berciuman bibir ternyata tidak ditemukan di semua masyarakat.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal American Anthropologist pada 2015 meneliti 168 budaya dari berbagai penjuru dunia. Hasilnya, hanya 46 persen budaya yang mempraktikkan ciuman romantis.
Artinya, sekitar 54 persen budaya tidak menjadikan ciuman bibir sebagai bentuk keintiman antara pasangan.
Bukan berarti masyarakat tersebut tidak memiliki cara menunjukkan kasih sayang. Mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda.
Di Kepulauan Trobriand, yang berada di dekat Papua Nugini, pasangan menunjukkan kemesraan dengan menggigit lembut bulu mata satu sama lain.
Pengamatan tersebut membuat sebagian ilmuwan menduga bahwa indra penciuman mungkin memainkan peran penting dalam membangun kedekatan emosional antarmanusia.
Hal ini juga didukung berbagai penelitian modern yang menunjukkan, manusia tanpa sadar dapat memperoleh informasi mengenai kesehatan, kecocokan biologis, bahkan kondisi emosional seseorang melalui aroma tubuhnya.
Ciuman memicu hormon kedekatan
Lalu, mengapa banyak orang merasa ciuman begitu menyenangkan?
Salah satu jawabannya berasal dari ilmu biologi.
Penelitian menunjukkan bahwa berciuman dapat merangsang pelepasan hormon oksitosin, yang sering dijuluki sebagai hormon kasih sayang.
Oksitosin membantu meningkatkan rasa percaya, memperkuat ikatan emosional, mengurangi stres, serta menciptakan perasaan nyaman ketika bersama pasangan.
Selain oksitosin, beberapa penelitian juga menemukan bahwa ciuman dapat memengaruhi kadar dopamin, yang berkaitan dengan rasa senang dan sistem penghargaan di otak, serta menurunkan hormon stres kortisol.
Efek gabungan hormon-hormon ini diyakini membantu mempererat hubungan romantis.
Asal-usul ciuman sendiri masih menjadi perdebatan. Salah satu teori menyebutkan bahwa perilaku tersebut berkembang dari hubungan antara ibu dan bayi.
Pada masa lampau, banyak ibu mengunyah makanan terlebih dahulu sebelum memindahkannya langsung ke mulut bayinya, sebuah praktik yang dikenal sebagai premastikasi.
Selain itu, menyusui juga melibatkan kontak erat di sekitar mulut.
Karena bayi mengaitkan sentuhan di area bibir dengan rasa aman, nyaman, dan kasih sayang, sebagian ilmuwan menduga pengalaman tersebut kemudian berkembang menjadi bentuk interaksi sosial yang lebih luas ketika manusia dewasa.
Namun, teori ini belum mampu menjelaskan secara utuh mengapa ciuman kemudian menjadi simbol hubungan romantis.
Hipotesis lain yang lebih baru diajukan oleh psikolog evolusi Dr. Adriano Lameira dari University of Warwick.
Menurutnya, ciuman mungkin berasal dari kebiasaan merawat tubuh (grooming) yang dilakukan primata.
Pada banyak spesies kera, aktivitas membersihkan bulu sering diakhiri dengan kontak mulut, misalnya untuk mengambil kotoran kecil dari bulu pasangannya.
Seiring evolusi manusia yang kehilangan sebagian besar rambut tubuh, fungsi membersihkan bulu menjadi semakin berkurang.
Yang tersisa, menurut Lameira, adalah kontak bibir sebagai simbol kedekatan dan kasih sayang.
Hingga kini belum ada satu teori yang mampu menjelaskan seluruh asal-usul ciuman.
Para ilmuwan justru melihat bahwa perilaku ini kemungkinan terbentuk melalui perpaduan antara evolusi biologis, perkembangan budaya, serta kebiasaan sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Yang menarik, meski cara mengungkapkan kasih sayang sangat beragam, tujuan akhirnya tampak serupa: membangun hubungan yang lebih erat dengan orang lain.
Disadur dari BBC Science Focus - 54 per cent of cultures don't kiss romantically. Here's what they do instead yang diakses Juli 2026.

إرسال تعليق