Para peneliti baru saja merilis pembaruan alat daring Paleolatitude yang mampu melacak posisi rumah Anda hingga masa 320 juta tahun silam.
Ringkasan
- Alat Paleolatitude memungkinkan pelacakan posisi geografis lokasi di Bumi hingga 320 juta tahun lalu.
- Model terbaru memasukkan data lempeng tektonik dan “benua hilang” untuk akurasi lebih tinggi.
- Temuan ini membantu ilmuwan memahami hubungan antara lokasi, iklim, dan evolusi kehidupan di masa lalu.
PERNAHKAH kamu membayangkan tempat kamu tinggal sekarang mungkin dulunya berada di dekat Kutub Selatan atau justru terombang-ambing di tengah samudra purba?
Berkat pembaruan besar pada alat daring bernama Paleolatitude, rasa penasaran itu kini bisa terjawab hanya dengan beberapa klik.
Aplikasi ini dikembangkan oleh tim peneliti dari Universitas Utrecht. Awalnya dibuat sepuluh tahun lalu, kini model tersebut mendapatkan upgrade besar-besaran.
Pengguna bisa melihat sejarah perjalanan daratan mana pun di planet ini selama 320 juta tahun terakhir, jauh sebelum dinosaurus merajai Bumi hingga saat ini.
Bagaimana para ilmuwan bisa tahu posisi daratan jutaan tahun lalu?
Kuncinya ada pada magnet. Dr. Bram Vaes dari lembaga riset CEREGE menjelaskan bahwa batuan memiliki semacam "memori" magnetik.
Saat batuan terbentuk, mineral magnetik di dalamnya merekam arah medan magnet Bumi pada saat itu. Karena sudut medan magnet berubah dari kutub ke khatulistiwa, ilmuwan bisa menentukan di lintang mana batu tersebut lahir.
Untuk membuat alat ini lebih akurat, para peneliti menyertakan data anomali magnetik laut dan pergerakan lempeng tektonik kecil yang sering terlupakan.
Bahkan, alat ini melacak "benua-benua yang hilang" yang kini terlipat di bawah barisan pegunungan besar.
Menariknya, Indonesia punya peran besar dalam sejarah geologi ini. Salah satu contoh yang masuk dalam model ini adalah Argoland, daratan kuno yang terlepas dari Australia Barat sekitar 155 juta tahun lalu.
Bukannya hilang begitu saja, Argoland ternyata "bersembunyi" di bawah wilayah dataran tinggi Indonesia setelah melalui perjalanan panjang jutaan tahun.
Selain Argoland, ada juga benua Greater Adria yang memisahkan diri dari Afrika Utara lebih dari 200 juta tahun lalu, sebelum akhirnya "ditelan" oleh pegunungan di wilayah Mediterania dan Timur Tengah.
"Untuk pertama kalinya, tersedia model global yang memungkinkan kita menghubungkan batuan dengan lempeng asalnya yang telah lama menghilang ke dalam mantel Bumi."
Demikian Profesor Douwe van Hinsbergen, pemimpin studi ini, seperti dikutip dari IFL Science.
Bagi para paleobiolog (ahli biologi purba), alat ini bukan sekadar mainan seru. Memahami di mana posisi fosil saat mereka masih hidup sangat penting untuk mempelajari ketahanan makhluk hidup terhadap perubahan iklim.
Mengutip dari laman resmi Utrecht University, pemahaman tentang tektonik lempeng ini juga membantu manusia memahami potensi sumber daya alam dan risiko bencana geologi di masa depan.
Dengan mengetahui bagaimana daratan bergerak, kita bisa lebih siap menghadapi dinamika Bumi yang tidak pernah benar-benar berhenti bergeser.
Disadur dari IFL Science - New Online Tool Lets You See Where On Earth Your House Was Located 320 Million Years Ago.

إرسال تعليق