Suhu Malam yang Menyengat bagi Ibu Hamil, Bisa Picu Risiko Autisme

Paparan suhu malam yang sangat tinggi selama masa kehamilan awal dan akhir ditemukan berkaitan erat dengan peningkatan risiko autisme pada anak.


Paparan suhu malam yang sangat tinggi selama masa kehamilan awal dan akhir ditemukan berkaitan erat dengan peningkatan risiko autisme pada anak.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Paparan suhu malam hari yang ekstrem pada awal dan akhir kehamilan berhubungan dengan peningkatan risiko autisme hingga 15%.
  • Gangguan tidur akibat panas malam hari diduga menjadi salah satu pemicu gangguan perkembangan saraf pada janin.
  • Pemanasan global membuat suhu malam hari meningkat lebih cepat dibanding siang hari, menjadi tantangan baru bagi kesehatan ibu hamil.


SUHU malam yang ekstrem selama kehamilan ternyata punya kaitan dengan risiko autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) pada si kecil nantinya.


Para peneliti dari Kaiser Permanente Southern California menganalisis data hampir 300.000 pasangan ibu dan anak selama periode 2001 hingga 2014.


Hasilnya, anak yang ibunya terpapar suhu malam yang sangat panas pada minggu ke-1 hingga ke-10 kehamilan memiliki risiko 15% lebih tinggi terdiagnosa autisme sebelum usia 5 tahun.


Risiko ini juga tetap tinggi, yakni sekitar 13%, jika paparan panas terjadi pada minggu ke-30 hingga ke-37 kehamilan.


Menariknya, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science of the Total Environment ini tidak menemukan hubungan serupa pada suhu siang hari.


Kenapa bisa begitu?


David G. Luglio, penulis utama studi ini, menduga bahwa saat siang hari, ibu hamil cenderung lebih sering berada di ruangan ber-AC atau berada di luar rumah yang sulit dilacak paparannya secara akurat.


Namun, saat malam hari, tubuh seharusnya beristirahat. Suhu yang terlalu panas bisa mengacaukan siklus tidur-bangun.


Padahal, kurang tidur pada ibu hamil sebelumnya telah dikaitkan dengan keterlambatan neurokognitif pada anak.


Autisme memang sangat dipengaruhi oleh faktor genetik, namun faktor lingkungan kini makin sering disorot.


Mengutip dari National Institute of Environmental Health Sciences (NIEHS), selain faktor suhu, paparan polusi udara (terutama partikel halus PM2.5) dan bahan kimia seperti PFAS selama kehamilan juga telah lama dikaitkan dengan risiko gangguan perkembangan saraf.


Selain itu, sebuah studi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health yang dimuat dalam jurnal Environmental Health Perspectives juga menguatkan temuan itu.


Studi tersebut menekankan bahwa paparan polutan lingkungan dapat mengganggu sistem imun ibu hamil, yang secara tidak langsung memengaruhi perkembangan otak janin.


Temuan ini menjadi peringatan keras di tengah fenomena perubahan iklim.


Di California sendiri, tempat penelitian dilakukan, suhu malam hari meningkat tiga kali lebih cepat dibandingkan suhu siang hari. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi kita yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia.


Meski penelitian ini menunjukkan korelasi yang kuat, para ahli menekankan bahwa ini bukanlah hubungan sebab-akibat langsung.


Ada banyak variabel lain seperti akses terhadap AC atau kondisi kesehatan ibu seperti diabetes dan obesitas yang juga berperan.


Jadi, untuk ibu yang sedang mengandung, pastikan sirkulasi udara di kamar tidur terjaga dengan baik ya!


Menggunakan kipas angin atau AC dengan suhu yang pas bukan sekadar soal kenyamanan, tapi juga investasi untuk kesehatan jangka panjang sang buah hati.


Disadur dari PsyPost - High nighttime temperatures during pregnancy linked to increased autism risk in children.




Post a Comment

أحدث أقدم