Penelitian terbaru mengungkapkan ampas apel sisa industri bisa diolah menjadi bahan bakar bioetanol sekaligus pakan ternak berkualitas tinggi yang ekonomis.
Ringkasan
- Ampas apel dapat diolah menjadi bioetanol dan pakan ternak melalui proses enzimatik dan fermentasi.
- Dua metode (SHF dan SSF) menghasilkan karakteristik bahan bakar dan residu pakan yang berbeda.
- Residu sisa fermentasi tetap bernutrisi dan bisa disesuaikan untuk berbagai jenis ternak.
SELAMA ini, para produsen jus dan minuman sider sering pusing tujuh keliling mengurusi limbah ampas apel. Selain jumlahnya yang jumbo, sekitar 25% hingga 30% dari total berat buah, limbah basah ini sangat cepat basi dan susah dikelola.
Namun, kabar segar datang dari tim peneliti di University of Passo Fundo (UPF),
Brasil. Lewat studi yang diterbitkan di jurnal Biofuels, Bioproducts and Biorefining, Dr. Luciane M. Colla dan timnya berhasil membuktikan bahwa ampas apel bukan sekadar sampah.
Dengan sentuhan teknologi yang tepat, limbah ini bisa disulap menjadi dua produk sekaligus, yakni bahan bakar hijau (biofuel) dan pakan ternak yang bergizi.
Kok bisa buah apel jadi bahan bakar?
Kuncinya ada pada kandungan karbohidrat yang masih terjebak di dalam serat dan kulitnya. Namun, ragi tidak bisa langsung "memakan" serat yang keras tersebut. Di sinilah peran enzim masuk.
Para peneliti menggunakan enzim khusus untuk memecah selulosa (dinding sel tanaman yang kaku) serta pektin menjadi gula sederhana.
Setelah serat-serat ini "jinak" dan berubah menjadi gula, barulah mikroba atau ragi menjalankan tugasnya untuk mengubah gula tersebut menjadi alkohol atau bioetanol melalui proses fermentasi.
Bioetanol ini nantinya bisa dicampur dengan bensin untuk kendaraan agar lebih ramah lingkungan.
Dalam eksperimennya, tim peneliti mencoba dua metode berbeda. Pertama ada metode bertahap (SHF), di mana gula dibuat dulu baru kemudian difermentasi.
Hasilnya? Limbah sisa pengolahannya lebih kaya serat, sehingga cocok untuk hewan ruminansia (seperti kambing atau sapi potong) yang butuh proses pencernaan lambat.
Metode kedua adalah proses simultan (SSF), di mana enzim dan ragi bekerja barengan di waktu yang sama. Cara ini memang butuh waktu sedikit lebih lama, tapi menghasilkan alkohol yang lebih banyak.
Menariknya, sisa ampas dari metode ini lebih rendah serat tapi tinggi protein, sehingga lebih gampang dicerna oleh ayam atau sapi perah yang butuh energi instan.
Manfaat penemuan ini tidak main-main. Selain mengurangi polusi akibat limbah yang membusuk, inovasi ini membantu peternak menghadapi harga pakan yang makin meroket.
Kandungan protein yang terjaga dalam sisa olahan apel ini bisa jadi alternatif pengganti bahan pakan konvensional yang mahal.
Bahkan, kandungan lemak yang rendah pada hasil olahan ini membuat pakan lebih stabil saat disimpan lama karena tidak gampang tengik.
Ini adalah skema win-win solution. Pabrik jus untung karena limbahnya laku, lingkungan lebih bersih, dan peternak pun senang.
Pemanfaatan limbah buah sebenarnya mulai menjadi tren global dalam pencarian energi terbarukan.
Menurut laporan dari Renewable Energy Magazine, berbagai negara mulai melirik limbah pertanian sebagai bahan baku bioetanol generasi kedua agar tidak mengganggu stok pangan manusia.
Meskipun masih membutuhkan uji coba skala besar di lapangan, penelitian dari UPF ini telah membuka jalan baru. Masa depan energi dan pangan kita mungkin memang ada di dalam tong sampah buah yang selama ini kita abaikan.
Disadur dari Earth.com - Apple waste can be turned into biofuel and animal feed.

إرسال تعليق