Sebuah astrolabe raksasa berusia 400 tahun mahakarya pengrajin Mughal menjadi bukti kecanggihan teknologi komputasi kuno sebelum terjual jutaan dolar di London.
Ringkasan
- Astrolabe Lahore merupakan instrumen astronomi mekanis abad ke-17 yang berfungsi sebagai komputer analog untuk navigasi dan penentu waktu salat.
- Memiliki ukuran 18 inci, alat ini jauh melampaui ukuran standar astrolabe pada umumnya, menjadikannya salah satu instrumen ilmiah terbesar dari era pra-modern.
- Dibuat oleh pengrajin legendaris "Lahore School", alat ini mencakup data koordinat 38 bintang dan 94 kota kuno dengan presisi tingkat tinggi.
JAUH sebelum Silicon Valley menciptakan komputer, para ilmuwan di Lahore (kini Pakistan) telah menciptakan instrumen kuningan yang mampu melakukan perhitungan rumit.
Astrolabe ini bukan sekadar pajangan, melainkan alat multifungsi yang memproyeksikan alam semesta tiga dimensi ke dalam piringan logam dua dimensi.
Astrolabe pertama kali dikembangkan oleh astronom Yunani sekitar 200 SM, lalu disempurnakan secara signifikan oleh ilmuwan di dunia Islam sejak abad ke-8.
Dalam perjalanannya, alat ini menjadi semacam pusat komando portabel bagi para ilmuwan, pelaut, hingga tokoh religius.
Federica Gigante, sejarawan dari Oxford, menjelaskan kepada BBC News bahwa astrolabe adalah smartphone pada masanya.
Alat ini memungkinkan penggunanya untuk menentukan waktu, mengukur ketinggian bangunan, hingga memetakan posisi bintang di langit malam.
Yang membedakan astrolabe Mughal ini dari yang lain adalah skalanya; dengan tinggi 18 inci (hampir 4, ukurannya empat kali lipat lebih besar dari astrolabe standar abad ke-17.
Dibuat pada tahun 1612 oleh dua bersaudara, Qa’im Muhammad dan Muhammad Muqim, alat ini lahir dari tangan empat generasi pengrajin logam terbaik di Kekaisaran Mughal.
Tingkat detailnya mencengangkan, terdapat ukiran halus yang membagi derajat hingga sepertiganya. Di permukaannya, terukir 94 nama kota mulai dari Mekkah hingga Kashmir, serta posisi 38 bintang tetap.
Bagi Kekaisaran Mughal yang bernapaskan Islam, astrolabe ini memiliki peran spiritual yang vital.
Mengutip NOVA PBS, instrumen ini mencapai puncaknya di tangan ilmuwan Muslim untuk menentukan arah kiblat dan waktu salat lima waktu secara presisi berdasarkan posisi matahari dan bintang.
Astrolabe ini pernah menjadi milik Maharaja Sawai Man Singh II dari Jaipur sebelum akhirnya muncul di balai lelang Sotheby’s London dan laku seharga 2,75 juta dolar AS (sekitar Rp44 miliar).
Keberadaannya sangat langka; satu-satunya instrumen serupa yang diketahui berasal dari pembuat yang sama kini tersimpan di Museum Nasional Irak, namun dengan ukuran yang jauh lebih mungil.
Melansir dari National Geographic, penggunaan astrolabe sebenarnya sudah dimulai sejak zaman Yunani Kuno sekitar 200 SM, namun mencapai kesempurnaan teknisnya di era keemasan Islam.
Astrolabe Lahore ini tetap menjadi simbol puncak pencapaian intelektual di mana seni, agama, dan sains menyatu dalam satu keping logam yang megah.
Disadur dari Smithsonian Magazine - This Giant 400-Year-Old Astrolabe ... Fetched Millions at Auction.

إرسال تعليق