Sains Ungkap Rahasia “Main yang Asyik” Versi Anak

Anak butuh kebebasan, keselarasan sosial, dan rasa seru untuk menciptakan pengalaman bermain yang benar-benar menyenangkan.


Anak butuh kebebasan, keselarasan sosial, dan rasa seru untuk menciptakan pengalaman bermain yang benar-benar menyenangkan.Ilustrasi: jcomp/Freepik


Ringkasan

  • Anak-anak menilai kualitas bermain berdasarkan pengalaman mereka sendiri, bukan standar orang dewasa.
  • Keselarasan sosial dan “perasaan bermain” jadi faktor paling penting dalam permainan yang menyenangkan.
  • Campur tangan orang dewasa berlebihan justru bisa merusak dinamika bermain anak.


BERMAIN sering dianggap hal sepele, padahal bagi anak-anak, ini adalah “laboratorium kehidupan”. 


Masalahnya, selama ini definisi “bermain yang baik” justru lebih banyak ditentukan oleh orang dewasa, bukan oleh anak-anak itu sendiri.


Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Psychology mencoba membalik sudut pandang ini. 


Dipimpin oleh Andreas Lieberoth dari Aarhus University, tim peneliti secara langsung bertanya kepada anak-anak tentang pengalaman bermain mereka—apa yang terasa menyenangkan, dan apa yang justru merusaknya.


Hasilnya? Tidak selalu seperti yang dibayangkan orang dewasa.


Dalam studi ini, peneliti pertama-tama mewawancarai 104 anak untuk menggali bagaimana mereka mendefinisikan permainan yang “baik” dan “buruk”. 


Dari situ, mereka menyusun 83 pernyataan yang mewakili pengalaman bermain versi anak-anak.


Kemudian, 504 anak lainnya diminta mengingat pengalaman bermain mereka dan menilai pernyataan-pernyataan tersebut. Analisis statistik lanjutan menemukan tujuh faktor utama yang menentukan kualitas bermain.


Tujuh faktor itu meliputi:

  1. keterlibatan sosial (inclusion),
  2. imajinasi,
  3. pelanggaran aturan (transgression),
  4. kemudahan akses,
  5. sensasi liar dan seru,
  6. adanya aktivitas,
  7. serta satu hal yang sulit dijelaskan: “perasaan bermain” (play feeling).


Faktor terakhir ini justru paling penting. Anak-anak menggambarkannya sebagai momen ketika permainan terasa “pas banget”. Ini membuat mereka tertawa, tersenyum, dan sepenuhnya tenggelam dalam aktivitas.


Menariknya, penelitian ini menunjukkan bahwa permainan yang dianggap “baik” oleh anak tidak selalu identik dengan permainan yang “manis” menurut orang dewasa.


Dalam beberapa kasus, unsur seperti saling menggoda, melanggar aturan kecil, atau bermain secara “liar” justru menjadi bagian dari kesenangan. 


Artinya, sedikit kekacauan bukanlah masalah, selama semua anak yang terlibat merasa nyaman dan terhubung.


Sebaliknya, hal yang paling merusak permainan adalah hilangnya keselarasan sosial. 


Ketika anak merasa tidak nyambung dengan teman bermainnya, permainan yang tadinya menyenangkan bisa berubah jadi membosankan atau bahkan menyebalkan.


Menurut Hanne Hede Jørgensen dari VIA University College, orang dewasa sering terlalu banyak campur tangan, bahkan tanpa sadar merusak dinamika bermain.


Kadang, niat membantu justru berujung canggung: misalnya memaksa seorang anak masuk ke dalam permainan yang tidak cocok dengannya. Alih-alih membantu, ini justru merusak “chemistry” antar anak.


Pesan dari penelitian ini cukup tegas: dalam beberapa situasi, orang dewasa memang perlu membimbing. Tapi di saat lain, mereka sebaiknya… mundur.


Temuan ini juga menegaskan bahwa tidak ada satu definisi universal tentang “bermain yang benar”. Apa yang menyenangkan bagi satu anak bisa jadi membosankan atau tidak nyaman bagi anak lain.


Karena itu, para peneliti menyarankan agar anak diberi lebih banyak pilihan, berbagai jenis permainan, aktivitas, dan ruang untuk bereksperimen.


Pendekatan ini sejalan dengan teori dalam psikologi perkembangan yang menekankan pentingnya otonomi dan eksplorasi dalam tumbuh kembang anak.


Penelitian lain juga menunjukkan bahwa bermain bebas (free play) berkontribusi pada kreativitas, kemampuan sosial, hingga kesehatan mental anak (Pellis & Pellis, 2009; Gray, 2013).


Dengan kata lain, bermain bukan sekadar hiburan. Ini adalah cara anak memahami dunia, dengan aturan versi mereka sendiri.


Dan mungkin, sesekali, dunia orang dewasa memang perlu menepi.


Disadur dari Frontiers - Sometimes an adult should shut up and go away’: scientists reveal the qualities that kids need in play




Post a Comment

أحدث أقدم