Bikin Kaget Ilmuwan, Burung Mungil Ini Punya “Genre Musik” Sendiri

Penelitian terbaru menemukan burung kecil di pulau Queensland mengembangkan “budaya musik” unik yang berbeda dari kerabat daratan.



Ringkasan 

  • Burung silvereye di pulau memiliki “budaya lagu” unik yang berbeda dari burung daratan.
  • Perbedaan kicauan tidak dipengaruhi jarak atau genetik, melainkan pembelajaran sosial.
  • Temuan ini menunjukkan hewan juga memiliki budaya, mirip dengan bahasa dan musik manusia.


BURUNG ternyata bukan sekadar berkicau asal-asalan. Silvereye, burung kecil yang hidup di pulau-pulau lepas pantai Queensland memiliki “budaya vokal” khas, bisa dibilang 'genre musik' tersendiri.


Fenomena ini mirip dengan budaya manusia di pulau-pulau terpencil yang sering berkembang berbeda dari wilayah daratan. Bedanya, kali ini yang “berbudaya” bukan manusia, melainkan burung.


Penelitian yang dipimpin oleh Marie Robert dari University of the Sunshine Coast, membandingkan kicauan silvereye dari empat populasi di Queensland tenggara.


Dua populasi berasal dari daratan (Sunshine Coast dan Fraser Coast), serta dua di pulau (Heron Island dan Lady Elliot Island). Hasilnya cukup mengejutkan.


Alih-alih mengikuti pola geografis atau genetik, burung-burung di pulau justru memiliki dialek lagu yang lebih mirip satu sama lain, meski terpisah lebih dari 100 kilometer, dibandingkan dengan burung di daratan yang lebih dekat.


Menurut Dominique Potvin, Associate Professor Ekologi Hewan di UniSC, temuan ini menantang asumsi lama tentang evolusi kicauan burung


Selama ini, ilmuwan mengira perbedaan lagu burung ditentukan oleh jarak geografis atau hubungan genetik. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu.


“Burung-burung ini mengembangkan budaya lagu mereka sendiri yang tidak bergantung pada jarak, nenek moyang, atau lamanya isolasi,” jelas Potvin.


Yang lebih menarik, burung pulau justru menunjukkan karakter vokal yang berbeda.


Nadanya lebih tinggi, suku kata lebih panjang, dan variasi lagu yang lebih beragam dibandingkan burung daratan, meski ukuran tubuh mereka lebih besar.


Hal ini menguatkan gagasan bahwa kicauan burung bukan sekadar hasil genetika, melainkan dipelajari secara sosial. Artinya, seperti manusia belajar bahasa atau musik, burung juga “belajar” lagu dari lingkungan dan komunitasnya.


Dalam dunia sains perilaku, ini termasuk dalam ranah bioakustik, ilmu yang mempelajari suara hewan sebagai bentuk komunikasi. Temuan ini memperlihatkan bahwa budaya tidak eksklusif milik manusia.


Fenomena ini juga paralel dengan bahasa manusia. Komunitas di pulau sering memiliki dialek unik yang berbeda dari daratan, bahkan jika jaraknya tidak terlalu jauh. 


Dalam kasus burung ini, pola yang sama muncul, menunjukkan bahwa isolasi sosial dan lingkungan dapat membentuk “identitas suara”.


Menariknya, penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa silvereye di pedesaan memiliki gaya kicauan berbeda dari yang hidup di kota. 


Artinya, bukan hanya pulau, lingkungan apa pun bisa memicu munculnya “aliran musik” baru di kalangan burung.


Penelitian ini merupakan bagian dari program Leaf to Reef initiative, yang meneliti keanekaragaman hayati di sekitar Great Barrier Reef, khususnya di wilayah seperti Lady Elliot Island.


Secara lebih luas, studi ini memperkuat pandangan bahwa banyak hewan memiliki tradisi budaya, mulai dari cara berkomunikasi, berburu, hingga berinteraksi sosial. 


Dalam kasus silvereye, mereka tampaknya sedang “menggubah soundtrack” khas komunitasnya sendiri.


Jadi, lain kali kamu mendengar kicauan burung, mungkin itu bukan sekadar suara alam, melainkan bagian dari budaya yang hidup dan terus berkembang.


Sumber: Scimex – Island songbirds have their own music and culture




Post a Comment

أحدث أقدم