Temuan yang membuka penjelasan biologis mengapa imajinasi terasa begitu nyata.
Ringkasan
- Otak menggunakan neuron yang sama untuk melihat dan membayangkan, menjelaskan mengapa imajinasi terasa nyata.
- Peneliti berhasil merekonstruksi gambar hanya dari aktivitas otak, menunjukkan adanya “kode visual” yang konsisten.
- Temuan ini penting untuk memahami kreativitas, memori, hingga gangguan seperti PTSD.
PENELITIAN terbaru menunjukkan bahwa saat kita melihat suatu objek dan kemudian membayangkannya kembali, otak mengaktifkan banyak sel saraf yang sama.
Temuan ini memberi dasar biologis yang kuat bagi pengalaman mental seperti ingatan, kreativitas visual, hingga bayangan yang muncul tanpa diinginkan.
Semuanya bisa terasa nyata karena “memakai jalur” yang sama seperti penglihatan.
Studi ini dilakukan pada 16 pasien epilepsi yang menjalani perawatan di unit rumah sakit. Para partisipan diminta melihat ratusan gambar, lalu mengingat sebagian gambar tersebut di kemudian hari.
Dari rekaman aktivitas otak, tim yang dipimpin oleh Dr. Ueli Rutishauser dari Cedars-Sinai menemukan bahwa banyak neuron yang aktif saat melihat, kembali aktif saat membayangkan.
Fenomena ini tidak terjadi di seluruh sistem visual, tetapi cukup konsisten untuk menunjukkan bahwa otak menggunakan kembali pola saraf yang sama.
Namun, satu pertanyaan penting masih menggantung: apa yang memicu pola ini “menyala kembali” saat kita berimajinasi?
Peneliti menemukan bahwa aktivitas ini terjadi di wilayah ventral temporal cortex, bagian otak yang berperan dalam mengenali objek kompleks.
Dari 714 neuron yang direkam, 456 di antaranya merespons secara selektif terhadap objek yang dilihat.
Sebagian besar neuron tersebut berada di fusiform gyrus—area yang dikenal penting untuk mengenali wajah.
Studi sebelumnya memang sudah menunjukkan adanya tumpang tindih antara melihat dan membayangkan melalui pemindaian otak.
Namun, metode baru ini lebih presisi karena mampu mengamati aktivitas pada tingkat neuron tunggal, bukan sekadar area umum.
Sekitar 80 persen neuron yang aktif saat melihat mengikuti pola tertentu yang juga ditemukan pada primata. Pola ini membentuk “kode saraf”,pola aktivitas berulang yang membawa informasi visual.
Dengan memahami pola ini, para peneliti bisa menguji apakah ingatan menghidupkan kembali pola yang sama atau menciptakan pola baru.
Hasilnya, imajinasi ternyata memang “memutar ulang” sebagian pola yang sama seperti saat melihat.
Menariknya, para ilmuwan juga berhasil merekonstruksi objek hanya dari aktivitas otak. Dalam 487 dari 500 percobaan, sistem mampu menebak gambar yang benar lebih baik daripada kebetulan.
Teknologi kecerdasan buatan membantu proses ini dengan mengubah gambar menjadi data numerik, lalu menghasilkan gambar baru yang dapat merangsang neuron tertentu.
Ini menunjukkan bahwa kode visual tersebut benar-benar nyata, bukan sekadar kebetulan eksperimen.
Ketika enam partisipan diminta membayangkan kembali gambar yang telah mereka lihat, sekitar 40 persen neuron yang sebelumnya aktif kembali “menyala” dengan pola serupa.
Namun, tidak semua neuron berperilaku sama. Beberapa hanya aktif saat melihat, sementara yang lain hanya aktif saat membayangkan.
Artinya, meskipun ada tumpang tindih, melihat dan membayangkan tetap merupakan dua proses yang berbeda.
Menariknya lagi, meskipun pola aktivitas rata-rata terlihat mirip, komputer masih bisa membedakan apakah seseorang sedang melihat atau membayangkan hanya dari data neuron.
Ini menunjukkan bahwa otak tidak hanya “mengulang” pengalaman visual, tetapi juga memberi tanda apakah sumbernya berasal dari dunia nyata atau dari pikiran.
Penelitian ini menemukan bahwa kode yang digunakan otak lebih bersifat visual daripada berbasis bahasa atau makna.
Artinya, ketika kita membayangkan sesuatu, yang muncul pertama kali adalah bentuk, tekstur, dan tata letak—bukan kata-kata.
Hal ini menjelaskan mengapa gambaran mental sering terasa begitu hidup, bahkan sebelum kita sempat mendeskripsikannya secara verbal.
Temuan ini memberi pemahaman baru tentang bagaimana otak membangun pengalaman visual dari ingatan.
Para peneliti menyebut mekanisme ini sebagai “model generatif”, yakni sistem saraf yang mampu menciptakan kembali pengalaman sensorik secara detail.
Ini juga relevan secara medis. Dalam gangguan seperti PTSD (post-traumatic stress disorder), seseorang bisa mengalami kilas balik visual yang sangat nyata.
Dengan memahami mekanisme ini pada tingkat sel, terapi di masa depan mungkin bisa lebih tepat sasaran.
Masih ada misteri yang belum terpecahkan, terutama tentang sinyal apa yang memicu neuron visual untuk aktif kembali.
Kandidatnya termasuk hippocampus, pusat memori di otak, dan wilayah frontal yang mengatur proses ingatan.
Selain itu, semua partisipan dalam studi ini adalah pasien epilepsi, yang sebagian besar memiliki kemampuan visualisasi yang kuat.
Penelitian lanjutan perlu melibatkan populasi yang lebih beragam, termasuk mereka yang memiliki imajinasi lemah atau gangguan persepsi.
Meski begitu, temuan ini memperjelas satu hal, yakni batas antara realitas dan imajinasi di otak kita ternyata sangat tipis.
Sumber: Earth.com – Your brain uses the same cells to see and imagine

إرسال تعليق