Emoji di Dunia Kerja Bisa Merusak Citra Profesionalmu

Penggunaan emoji di pesan kerja ternyata bisa memengaruhi penilaian profesionalitas dan kompetensi, bahkan hanya dari satu ikon kecil.


Penggunaan emoji di pesan kerja ternyata bisa memengaruhi penilaian profesionalitas dan kompetensi, bahkan hanya dari satu ikon kecil.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Emoji marah secara konsisten menurunkan persepsi kompetensi dan profesionalitas pengirim pesan.
  • Emoji senyum relatif aman, tetapi tidak meningkatkan citra profesional dibanding tanpa emoji.
  • Dalam komunikasi kerja, pesan tanpa emoji justru dinilai paling pantas dan profesional.


DI era kerja digital, komunikasi lewat platform seperti Slack dan Microsoft Teams sudah menjadi rutinitas harian. 


Miliaran pesan dikirim setiap hari, sering kali disertai emoji yang dimaksudkan untuk memperhalus nada, mengekspresikan emosi, atau sekadar mencairkan suasana. 


Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa emoji bukan sekadar hiasan. Ikon kecil itu bisa mengubah cara orang menilai kamu di tempat kerja.


Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Collabra: Psychology oleh peneliti dari University of Ottawa menemukan bahwa pilihan emoji yang keliru dapat merusak persepsi kompetensi seseorang. 


Emoji wajah marah, khususnya, terbukti memiliki dampak paling negatif, bahkan ketika isi pesan sebenarnya netral atau positif.


Penelitian ini melibatkan 243 partisipan mahasiswa yang diminta membaca berbagai pesan singkat dalam konteks profesional. Pesan-pesan tersebut dirancang dalam tiga nada: positif, negatif, dan netral. 


Setiap pesan kemudian dipasangkan dengan tiga kondisi: emoji senyum, emoji marah, atau tanpa emoji sama sekali.


Hasilnya cukup mengejutkan. Peserta diminta menilai pengirim pesan berdasarkan beberapa aspek: emosi, kompetensi, dan kesesuaian profesional. 


Ternyata, kombinasi kata dan emoji sangat memengaruhi penilaian tersebut.


Emoji wajah marah secara konsisten menurunkan penilaian kompetensi. 


Bahkan ketika digunakan pada pesan positif seperti “Presentasi tadi sangat efektif,” kehadiran emoji marah membuat pengirim terlihat kurang kompeten dan tidak profesional.


Lebih menarik lagi, bahkan saat emoji marah “sesuai” dengan pesan bernada negatif, penilaian tetap rendah. 


Artinya, bukan hanya ketidaksesuaian yang bermasalah, emoji itu sendiri sudah membawa konotasi negatif yang kuat.


Sebaliknya, emoji senyum cenderung aman digunakan, terutama pada pesan positif atau netral. 


Namun, penelitian ini menegaskan bahwa emoji senyum tidak meningkatkan persepsi kompetensi dibandingkan teks tanpa emoji. Dengan kata lain, ia tidak merugikan, tapi juga tidak memberi keuntungan signifikan.


Dalam hal kesesuaian profesional, pesan tanpa emoji justru mendapat nilai tertinggi. Emoji senyum berada di posisi kedua, sementara emoji marah berada di posisi terakhir, tanpa pengecualian.


Temuan ini mengindikasikan bahwa dalam komunikasi kerja, bersikap netral sering kali lebih aman dibanding mencoba “bermain ekspresi” dengan emoji.


Penelitian ini juga menemukan nuansa menarik terkait gender. 


Partisipan perempuan cenderung menilai pesan negatif, terutama yang disertai emoji marah, lebih tidak pantas jika dikirim oleh sesama perempuan, dibandingkan penilaian partisipan laki-laki terhadap pesan yang sama.


Fenomena ini sejalan dengan konsep “double bind” dalam psikologi kerja.


Perempuan sering menghadapi dilema, yakni bersikap tegas bisa dianggap tidak menyenangkan, sementara bersikap hangat bisa dianggap kurang kompeten. 


Meski efeknya kecil, pola ini konsisten dengan penelitian sebelumnya tentang dinamika gender di tempat kerja.


Apa maknanya?


Di tengah dominasi komunikasi digital, detail kecil seperti emoji ternyata punya dampak besar. 


Penelitian ini mengingatkan bahwa interpretasi pesan tidak hanya bergantung pada kata-kata, tetapi juga simbol visual yang menyertainya.


Menurut laporan yang dikutip dalam studi tersebut, sekitar 91% perusahaan kini menggunakan lebih dari satu platform komunikasi digital, dan Slack saja memiliki puluhan juta pengguna aktif harian. 


Artinya, potensi salah tafsir akibat emoji bukan kasus langka, melainkan risiko yang terus terjadi setiap hari.


Penelitian lain juga mendukung temuan ini. Studi sebelumnya dalam bidang komunikasi organisasi menunjukkan bahwa pesan digital sering kehilangan nuansa nonverbal.


Sebab itu, penerima cenderung mengandalkan petunjuk tambahan seperti tanda baca atau emoji untuk menafsirkan maksud (Derks et al., 2008; Kaye et al., 2016). 


Sayangnya, petunjuk ini tidak selalu diterjemahkan sesuai niat pengirim.


Jadi, emoji memang dirancang untuk memperkaya komunikasi digital, tetapi di lingkungan profesional, penggunaannya perlu lebih hati-hati. 


Risiko terbesar bukan pada tidak menggunakan emoji, melainkan menggunakan emoji yang salah.


Sumber: StudyFinds - Your Work Emojis Are Sending a Message, It Just Might Not Be The One You Think




Post a Comment

أحدث أقدم