Mengganti makanan ultra-olahan dengan bahan alami utuh terbukti menurunkan asupan kalori harian tanpa mengurangi porsi makan.
Ringkasan
- Diet makanan utuh memangkas sekitar 330 kalori per hari tanpa mengurangi porsi makan.
- Konsumsi buah dan sayur meningkat drastis karena dorongan “kecerdasan nutrisi” bawaan.
- Makanan ultra-olahan menghilangkan keseimbangan alami antara kalori dan mikronutrien.
SIAPA bilang diet selalu berarti harus menahan lapar? Sebuah penelitian terbaru dari University of Bristol membawa kabar gembira bagi para pejuang berat badan.
Ternyata, kunci untuk memangkas kalori bukan dengan porsi yang semakin kecil, melainkan dengan mengubah jenis makanan yang kita taruh di atas piring.
Penelitian ini membandingkan dua kelompok ekstrem: mereka yang hanya makan makanan alami (unprocessed) dan mereka yang mengonsumsi makanan ultra-proses (UPF).
Hasilnya sangat unik. Kelompok yang makan makanan alami justru makan lebih banyak secara volume, bahkan berat makanannya 50 persen lebih besar daripada kelompok satunya.
Anehnya, meski perut lebih kenyang, total asupan kalori mereka justru berkurang sekitar 330 kalori setiap harinya.
Fenomena ini dijelaskan oleh para peneliti sebagai bentuk "kecerdasan nutrisi" manusia yang terpendam.
Saat kita diberikan pilihan makanan dalam bentuk aslinya, tubuh secara intuitif akan memilih makanan yang menyeimbangkan rasa nikmat, nutrisi, dan rasa kenyang.
Jeff Brunstrom, Profesor Psikologi Eksperimental dari University of Bristol, menjelaskan bahwa pilihan makanan kita sebenarnya tidak acak.
"Sangat menyenangkan melihat ketika orang ditawarkan opsi makanan alami, mereka secara intuitif memilih makanan yang seimbang secara nutrisi.
"Kita ternyata bisa membuat keputusan yang jauh lebih cerdas daripada yang diasumsikan sebelumnya jika makanan disajikan dalam bentuk alaminya," ujar Brunstrom.
Masalah utama dari makanan ultra-proses (seperti sosis, roti putih, atau makanan instan) adalah mereka sering kali "mematikan" insting nutrisi kita.
Pada makanan alami, tubuh akan terus mencari vitamin dan mineral penting. Misalnya, untuk mendapatkan Vitamin A, tubuh akan "mendorong" kita makan wortel atau bayam yang rendah kalori.
Namun, pada makanan olahan, perusahaan makanan sering menambahkan vitamin sintetis ke dalam produk yang tinggi kalori.
Contohnya adalah sereal manis atau pancake instan yang diperkaya vitamin.
Hal ini membuat tubuh merasa kebutuhan nutrisinya sudah terpenuhi dari makanan tinggi kalori tersebut, sehingga kita kehilangan alasan untuk mencari buah dan sayur yang lebih sehat.
Data yang dianalisis tim Bristol ini sebenarnya berasal dari uji klinis terkenal oleh Dr. Kevin Hall dari Institut Kesehatan Nasional (NIH) AS.
Dalam analisis ulang tersebut, terlihat bahwa partisipan yang makan makanan alami berulang kali memilih porsi besar buah dan sayur.
Pilihan ini secara otomatis menggantikan makanan padat kalori seperti stik, pasta, atau krim.
Efek akhirnya mengesankan, kelompok makanan alami makan 57% lebih banyak secara bobot, namun tetap menjaga asupan energi total yang lebih rendah.
Ini membuktikan bahwa kelebihan berat badan bukan hanya soal "makan terlalu banyak", tapi soal kualitas nutrisi yang memengaruhi keputusan kita saat makan.
Melansir dari laman Harvard Health Publishing, mengonsumsi makanan utuh (whole foods) memang terbukti meningkatkan metabolisme dan menjaga kadar gula darah lebih stabil dibandingkan makanan olahan.
Dengan menjaga insting nutrisi tetap tajam lewat makanan alami, kita tidak perlu lagi bertarung melawan rasa lapar hanya untuk menurunkan berat badan.
Disadur dari SciTechDaily - This Subtle Dietary Shift Led to 330 Fewer Daily Calories Without Eating Less.

إرسال تعليق