Cinta bukan sekadar perasaan, melainkan proses neurokimia kompleks yang memengaruhi kesehatan jantung hingga umur panjang manusia.
Ringkasan
- Jatuh cinta memicu ledakan dopamin dan hormon stres (kortisol), yang secara kimiawi mirip dengan kondisi obsesif atau kecanduan.
- Rasa sakit akibat patah hati terdaftar di area otak yang sama dengan rasa sakit fisik, bahkan bisa memicu "Sindrom Patah Hati" yang nyata.
- Hubungan sosial dan kasih sayang non-romantis terbukti secara ilmiah menjadi kunci kesehatan fisik dan umur panjang manusia.
CINTA telah menjadi inspirasi tanpa henti bagi para seniman, penyair, dan pemusik selama berabad-abad.
Namun, bagi para ilmuwan di Harvard Medical School (HMS), cinta bukan hanya soal puisi, melainkan serangkaian reaksi kimia rumit di dalam otak yang menentukan kelangsungan hidup spesies kita.
Richard S. Schwartz dan Jacqueline Olds, pasangan suami istri yang juga profesor psikiatri di HMS, telah mempelajari dinamika cinta selama hampir lima dekade.
Menurut mereka, cinta, baik romantis maupun non-romantis, adalah kebutuhan dasar manusia.
Mengingat bayi manusia lahir dalam kondisi tidak berdaya untuk waktu yang lama, ikatan kuat antar orang dewasa menjadi kunci agar keturunan kita bisa bertahan hidup.
Pernah merasa jantung berdebar kencang atau telapak tangan berkeringat saat bertemu si dia? Itu adalah respons stres fisik. Saat seseorang jatuh cinta, otak melepaskan hormon kortisol dalam jumlah besar.
"Jatuh cinta itu penuh gejolak dan membuat stres," ujar Schwartz.
Selain kortisol, pusat imbalan di otak dibanjiri oleh dopamin, zat kimia yang memberikan rasa senang luar biasa. Menariknya, kadar serotonin, zat yang menstabilkan suasana hati, justru menurun.
Penurunan serotonin ini mirip dengan apa yang terjadi pada orang dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD), itulah mengapa orang yang sedang jatuh cinta sering kali "terobsesi" dan hanya bisa memikirkan pasangannya.
Kabar baiknya, kegilaan kimiawi ini biasanya normal kembali setelah beberapa bulan. Tubuh manusia tidak bisa menahan stres tinggi selamanya.
Ketika hubungan menjadi lebih stabil, hormon stres menurun dan digantikan oleh oksitosin serta vasopresin, hormon yang bertanggung jawab atas ikatan kasih sayang jangka panjang yang menenangkan.
Sains juga membuktikan bahwa "patah hati" bukan sekadar kiasan. Penelitian menunjukkan bahwa rasa sakit emosional akibat kehilangan orang dicintai diproses di area otak yang sama dengan rasa sakit fisik.
Bahkan, ada kondisi medis nyata yang disebut Takotsubo Syndrome atau "Sindrom Patah Hati".
Kondisi itu terjadi ketika stres emosional yang ekstrem memicu melemahnya otot jantung secara tiba-tiba, sehingga jantung tampak membengkak seperti pot perangkap gurita di Jepang.
Untungnya, kondisi ini biasanya bisa pulih dalam hitungan minggu, namun ini membuktikan betapa kuatnya pengaruh otak terhadap jantung kita.
Robert Waldinger, profesor psikiatri HMS yang memimpin studi tentang perkembangan dewasa selama 80 tahun, menekankan bahwa kualitas hubungan kita adalah prediktor terbaik untuk kesehatan di masa tua.
Kesepian kronis terbukti meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, hingga demensia.
"Sains menunjukkan bahwa memiliki ikatan aman dengan setidaknya satu orang lain adalah fondasi kesejahteraan," kata Waldinger.
Menariknya, cinta tidak harus selalu romantis. Persahabatan yang erat dan komunitas yang mendukung memberikan manfaat kesehatan yang hampir sama besarnya dengan hubungan asmara.
Cinta mungkin tetap menjadi misteri yang tidak akan pernah sepenuhnya terpecahkan oleh rumus kimia, tapi satu hal yang pasti, kita tidak bisa hidup tanpanya.
Disadur dari Harvard Medical School.
.jpg)
إرسال تعليق