Perubahan iklim membuat kupu-kupu berpindah ke tempat lebih sejuk, tetapi tanaman inangnya tak selalu ikut, mengancam kelangsungan hidup mereka.
Ringkasan
- Mayoritas kupu-kupu Asia Tenggara berisiko kehilangan habitat bersama tanaman inangnya akibat perubahan iklim.
- Pemisahan terjadi karena kupu-kupu berpindah ke tempat lebih sejuk, sementara tanaman tidak selalu mampu mengikuti.
- Perlindungan dan penanaman tanaman inang menjadi kunci penting konservasi kupu-kupu di era pemanasan global.
KUPU-KUPU sering dianggap sebagai indikator alami kesehatan lingkungan. Saat bumi memanas, serangga ini mengepakkan sayap menuju utara atau ke dataran tinggi demi mencari suhu yang lebih dingin.
Namun, sebuah masalah besar muncul, apakah tanaman yang mereka butuhkan untuk makan dan bertelur ikut pindah bersama mereka?
Penelitian yang dipresentasikan pada AGU’s Annual Meeting 2025 mengungkap fakta mengkhawatirkan.
Dari 24 spesies kupu-kupu Asia Tenggara yang diteliti, sebanyak 17 spesies atau sekitar 71% berpotensi kehilangan habitat bersama dengan tanaman inangnya.
Dalam skenario emisi tinggi, beberapa spesies kupu-kupu bahkan diprediksi kehilangan hingga 40% wilayah jelajah yang seharusnya mereka tinggali bersama tanaman inang.
Sama seperti makhluk hidup lainnya, kupu-kupu punya "zona nyaman" suhu tertentu. Saat wilayah dataran rendah menjadi terlalu panas, mereka "mengungsi" ke pegunungan yang lebih sejuk.
Masalahnya, kupu-kupu adalah serangga yang sangat pilih-pilih soal makanan. Ada yang hanya bisa bertahan hidup dengan satu jenis tanaman saja.
"Kami ingin melihat skenario terburuk bagi mereka," ujar Jin Chen, peneliti utama dari University of Helsinki.
Hasilnya, ketidaksinkronan migrasi ini paling parah terjadi di wilayah pegunungan Asia tropis, termasuk Kalimantan, serta perbatasan Laos, Vietnam, Kamboja, hingga Myanmar utara.
Di daerah pegunungan, meski suhunya cocok bagi kupu-kupu, tanaman inang mereka sering kali gagal tumbuh di sana. Akibatnya, saat kupu-kupu tiba di tempat baru yang lebih sejuk, mereka justru kelaparan karena "dapur" mereka tertinggal di bawah.
Melansir dari National Geographic, fenomena ini disebut sebagai phenological mismatch atau ketidakcocokan waktu dan ruang antara predator (atau konsumen) dengan sumber makanannya.
Jika kupu-kupu hilang, maka proses penyerbukan alami akan terganggu, yang pada akhirnya berdampak pada produksi pangan manusia dan kelestarian hutan.
Timothy Bonebrake dari University of Hong Kong menekankan bahwa ketersediaan tanaman inang adalah faktor pembatas utama. Tanpa tanaman tersebut, upaya kupu-kupu untuk beradaptasi dengan perubahan iklim akan sia-sia.
Namun, ada sedikit harapan bagi beberapa spesies yang tidak terlalu pilih-pilih makanan; mereka justru diprediksi bisa memperluas habitatnya karena mampu beralih ke tanaman lain yang lebih tahan panas.
Para ahli menyarankan agar masyarakat yang tinggal di wilayah dataran tinggi atau daerah sejuk mulai aktif menanam tanaman asli daerah tersebut.
Melindungi tanaman inang dari alih fungsi lahan menjadi kunci agar kupu-kupu yang "mengungsi" memiliki tempat untuk bertahan hidup.
Jadi, kita tidak hanya perlu menyelamatkan satwanya, tapi juga sistem pendukung kehidupannya, yakni tumbuh-tumbuhan yang seringkali terabaikan.
Disadur dari Eos.org.

إرسال تعليق