Misteri 'Telepon Arwah' Thomas Edison yang Terlupakan

Thomas Edison pernah merancang "Telepon Arwah" pada tahun 1920-an, sebuah upaya ilmiah misterius untuk berkomunikasi dengan dunia kematian.


Thomas Edison pernah merancang "Telepon Arwah" pada tahun 1920-an, sebuah upaya ilmiah misterius untuk berkomunikasi dengan dunia kematian.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Pada 1920-an, Thomas Edison mengaku sedang mengembangkan alat untuk berkomunikasi dengan arwah.
  • Tidak ada prototipe atau dokumen resmi yang ditemukan, membuat “spirit phone” tetap jadi misteri.
  • Fenomena ini mencerminkan masa ketika sains dan spiritualisme saling memengaruhi secara kuat.


SIAPA yang tidak kenal Thomas Alva Edison? Namanya identik dengan inovasi yang mengubah wajah dunia, mulai dari bola lampu hingga fonograf. 


Namun, di balik deretan penemuan jeniusnya, terdapat satu bab sejarah yang sering terlupakan dan penuh tanda tanya, yakni ambisi Edison untuk menciptakan alat komunikasi antar-dimensi, atau yang sering disebut "Spirit Phone".


Selama hampir satu abad, kisah ini menjadi salah satu teka-teki terbesar dalam biografi Edison. 


Apakah sang penemu yang sangat rasional ini benar-benar percaya dia bisa menelepon orang mati, ataukah ini hanya eksperimen nyeleneh yang hilang ditelan zaman?


Era 1920-an adalah masa di mana spiritualisme sedang naik daun. 


Di Amerika dan Eropa, praktik séance (pemanggilan arwah), papan Ouija, dan medium paranormal sangat digandrungi masyarakat yang haus akan jawaban tentang kehidupan setelah kematian.


Edison, yang pada dasarnya adalah ilmuwan sejati, sebenarnya sangat skeptis terhadap para dukun atau medium yang marak saat itu. 


Ia menganggap banyak dari mereka hanyalah penipu. Namun, paradoksnya, Edison percaya bahwa jika komunikasi dengan alam lain itu mungkin, maka jalannya harus melalui sains, bukan ritual mistis.


Dalam wawancara dengan The American Magazine pada Oktober 1920, Edison membuat pengakuan mengejutkan kepada jurnalis B.C. Forbes.


"Saya telah bekerja cukup lama membangun sebuah aparatus untuk melihat apakah mungkin bagi kepribadian yang telah meninggalkan bumi ini untuk berkomunikasi dengan kita," katanya seperti dikutip dari The Debrief.


Berbeda dengan film horor, konsep Edison sangat teknis. Ia tidak membayangkan hantu bergentayangan. Edison memiliki teori bahwa kehidupan, layaknya materi dan energi, tidak bisa dimusnahkan.


Ia berspekulasi bahwa ketika manusia meninggal, "partikel kehidupan" (yang ia sebut sebagai unit memori atau kepribadian) tetap ada di alam semesta. Partikel-partikel ini, menurut teorinya, berkumpul di ether (ruang hampa). 


Edison membayangkan alatnya bekerja seperti detektor katup yang sangat sensitif, mampu menangkap getaran halus dari partikel-partikel tersebut. 


Jadi, alih-alih mendengar suara hantu yang menyeramkan, alat ini seharusnya menangkap data ilmiah dari sisa-sisa kesadaran manusia.


Ketertarikan Edison pada hal ini tidak berdiri sendiri. Rival abadinya, Nikola Tesla, juga memiliki pengalaman serupa. 


Tesla pernah menulis pada tahun 1918 bahwa ia mendengar suara-suara aneh yang tampak seperti percakapan antar-makhluk saat bereksperimen dengan radio kristal


Tesla menduga itu mungkin sinyal dari planet lain, namun fenomena ini memicu imajinasi publik tentang suara dari dimensi lain. 


Edison, yang tidak mau kalah dalam perlombaan teknologi, tampaknya ingin membuktikan bahwa fenomena tak kasat mata ini bisa dijelaskan dan direkam secara empiris, bukan sekadar sinyal acak.


Meskipun Edison mengklaim sedang mengerjakan alat tersebut, tidak ada bukti fisik yang pernah ditemukan. Tidak ada skema, tidak ada cetak biru, dan tidak ada purwarupa yang tersisa di laboratoriumnya.


Para sejarawan terbelah menjadi dua kubu. Satu sisi percaya bahwa Edison mungkin gagal total dan, karena standar kerjanya yang tinggi, ia memusnahkan semua bukti kegagalan tersebut. 


Sisi lain menduga bahwa Edison, yang dikenal suka melempar pernyataan provokatif, mungkin hanya sedang "mengerjai" para wartawan yang terlalu obsesif dengan dunia gaib.


Biografer mencatat bahwa Edison memiliki selera humor yang kering. 


Pengumuman tentang Telepon Arwah bisa saja merupakan cara cerdasnya untuk mendapatkan perhatian media sekaligus menyindir para spiritualis yang tidak ilmiah.


Entah Edison serius atau tidak, idenya telah melahirkan warisan yang unik. 


Saat ini, para pemburu hantu modern (ghost hunters) menggunakan peralatan seperti perekam suara digital dan pengukur medan elektromagnetik (EMF meter).


Secara tidak langsung, gawai-gawai tersebut adalah "cucu" dari visi Edison, yakni upaya menggunakan teknologi untuk mendeteksi anomali yang tidak terlihat mata. 


Edison mungkin gagal menelepon arwah di zamannya, namun visinya tentang persimpangan antara sains dan kematian tetap hidup, menginspirasi banyak orang hingga detik ini untuk terus mencari jawaban di balik tabir misteri.


Disadur dari The Debrief.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama