Rahasia Gerak Ular yang Tak Sekadar Melata

Ular ternyata punya lebih dari selusin cara bergerak, dari melata, memanjat, hingga terbang, berkat koordinasi ratusan otot di seluruh tubuhnya.


Ular ternyata punya lebih dari selusin cara bergerak—dari melata, memanjat, hingga terbang—berkat koordinasi ratusan otot di seluruh tubuhnya.Foto Ilustrasi: Akiroq Brost/Pixabay


Ringkasan

  • Ular memiliki lebih dari selusin cara bergerak, tidak hanya melata.
  • Beberapa spesies bisa berenang, meluncur di udara, hingga berputar seperti roda.
  • Gerak ular menginspirasi pengembangan robot penyelamat dan riset material baru.


ADEGAN ikonik dalam Harry Potter and the Sorcerer’s Stone saat seekor boa meluncur keluar dari kaca yang hilang mungkin terlihat magis, tetapi cara ular bergerak sebenarnya lebih menarik daripada sihir. 


Tanpa kaki, hewan melata ini mengandalkan ratusan otot yang terhubung ke tulang belakang, tulang rusuk, dan kulitnya. 


“Saat ular bergerak, mereka sebenarnya sedang melakukan full body workout,” kata Jessica Tingle, ahli biologi dan asisten profesor di Brown University, kepada Popular Science.


Sebagian besar dari kita membayangkan gerak ular sebagai lengkung S klasik. Inilah yang disebut lateral undulation atau gelombang menyamping. 


Hampir 4.000 spesies ular di dunia mampu melakukan gerakan tersebut. Pada permukaan tidak rata, tubuh mereka juga bisa naik-turun dalam vertical undulation


Kuncinya bukan hanya otot: sisik perut ular memiliki tonjolan kecil seperti jari-jari mikroskopis yang memberi gesekan tepat untuk mendorong tubuh maju tanpa tergelincir.


Namun slithering hanyalah satu dari banyak alat gerak ular. Tingle menjelaskan bahwa ular memiliki “setidaknya selusin cara berbeda untuk bergerak.” Dan beberapa di antaranya cukup aneh.


Gerakan concertina membuat ular tampak seperti akordeon hidup—merentangkan, mengerutkan, lalu mendorong tubuh maju. 


Teknik ini dipakai saat merayap di celah sempit, memanjat batang pohon, atau bergerak perlahan di permukaan licin. Gerakan ini lambat tetapi efisien, terutama untuk memanjat permukaan vertikal.


Beberapa spesies memiliki kemampuan unik lain:

  • Rectilinear motion: bergerak lurus seperti tank kecil, dengan tulang belakang tetap lurus dan otot perut menggerakkan tubuh ke depan dalam garis halus. Berguna di ruang sempit atau saat mengendap.
  • Sidewinding: gerakan menyamping dengan tubuh terangkat sebagian. Ular sidewinder (Crotalus cerastes) bisa mencapai 18 mil per jam di pasir gurun. Tidak semua spesies bisa melakukan ini, dan peneliti masih belum tahu seberapa umum kemampuan ini.


Keanekaragaman gerak ular makin liar ketika kita melihat spesies ekstrem.

  • Berenang & menggali: banyak ular adalah perenang tangguh dan ahli menggali liang.
  • Ular terbang (Chrysopelea): mereka meratakan tubuh sebelum melompat dari pohon dan mengibaskan tubuh di udara sehingga bisa “meluncur” puluhan meter.
  • Lasso locomotion: Ular Brown Tree di Guam melilitkan tubuhnya pada tiang seperti laso dan memanjat perlahan—teknik yang membantu mereka memangsa burung dan diduga jadi penyebab punahnya 10 spesies burung asli.
  • Cartwheeling: dua spesies Asia Tenggara (Xenophidion schaeferi dan Pseudorabdion longiceps) tercatat bergerak seperti roda, mungkin untuk mengecoh predator.


Saat menyerang, ular mengerutkan tubuh lalu melepaskan kepala ke depan dalam lompatan secepat kilat. 


Studi tahun 2016 menunjukkan serangan ular hanya memakan waktu ,48–84 milidetik, lebih cepat dari reaksi kedipan mata manusia (200 milidetik). Dengan kata lain, jika ular sudah memutuskan menyerang, mangsa hampir pasti terlambat bereaksi.


Ular sebagai inspirasi robot


Gerak ular juga menarik perhatian insinyur robotik. Selama 30 tahun, ahli teknologi mencoba meniru gerak mereka untuk membuat robot ular yang bisa menyusup ke reruntuhan bangunan atau area berpasir yang tak dapat dilalui robot berkaki. 


Contohnya, robot ular ETH Zürich yang bisa masuk celah sempit untuk pencarian dan penyelamatan.


Menurut Tingle, robot modern masih jauh dari kemampuan ular asli. Bahkan kulit ular—dengan sifat gesekan dan kelenturannya—pun berpotensi menginspirasi bahan baru di masa depan.


Evolusi telah membekali ular dengan “repertoar gerak” yang luar biasa, dan sains baru mulai memahami kerumitannya. 


Setiap penemuan baru membuka peluang, baik untuk memahami alam maupun untuk menciptakan teknologi yang lebih cerdas.


Disadur dari Popular Science.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama