Menggunakan fisika statistik, peneliti menguatkan teori keseimbangan sosial Heider yang muncul 80 tahun lalu.
(Foto Ilustrasi: Freepik)
Nah, para peneliti Universitas Northwestern menggunakan fisika statistik untuk mengkonfirmasi teori yang mendasari aksioma ini. Hasil studinya dipublikasikan pada 3 Mei di jurnal Science Advances.
Teori keseimbangan sosial
Pada tahun 1940-an, psikolog Austria Fritz Heider memperkenalkan teori keseimbangan sosial, yang menjelaskan bagaimana manusia pada dasarnya berusaha menemukan harmoni dalam lingkaran sosialnya.
Menurut teori ini, ada empat aturan yang bisa membuat hubungan seimbang.
Aturan itu adalah musuh dari musuh adalah teman, teman dari teman adalah teman, teman dari musuh adalah musuh, dan yang terakhir, musuh dari teman adalah musuh.
Sudah banyak penelitian mencoba untuk mengkonfirmasi teori ini dengan menggunakan ilmu jaringan dan matematika, namun upaya tersebut gagal, karena jaringan menyimpang dari hubungan yang sangat seimbang.
Nah, tim Northwestern berhasil mengintegrasikan dua bagian penting yang membuat kerangka sosial Heider berhasil.
Dalam kehidupan nyata, tidak semua orang mengenal satu sama lain, dan beberapa orang lebih positif dibandingkan yang lain.
Para peneliti telah lama mengetahui bahwa setiap faktor mempengaruhi ikatan sosial, namun model yang ada hanya dapat menjelaskan satu faktor dalam satu waktu.
Dengan menggabungkan kedua kendala secara bersamaan, model jaringan yang dihasilkan para peneliti akhirnya mengkonfirmasi teori terkenal tersebut sekitar 80 tahun setelah Heider pertama kali mengajukannya.
Kerangka kerja baru yang bermanfaat ini dapat membantu para peneliti lebih memahami dinamika sosial, termasuk polarisasi politik dan hubungan internasional.
Demikian juga sistem apa pun yang terdiri dari campuran interaksi positif dan negatif, seperti jaringan saraf atau kombinasi obat-obatan.
“Kami selalu berpikir intuisi sosial ini berhasil, namun kami tidak tahu mengapa hal itu berhasil,” kata István Kovács dari Northwestern, penulis senior studi tersebut.
“Yang kami perlukan hanyalah menghitung secara matematis. Jika melihat literatur, ada banyak penelitian tentang teori tersebut, namun belum ada kesepakatan di antara mereka.
"Selama beberapa dekade, kita terus melakukan kesalahan. Alasannya karena kehidupan nyata itu rumit.
"Kami menyadari bahwa kami perlu mempertimbangkan kedua kendala tersebut secara bersamaan: siapa yang tahu siapa dan bahwa beberapa orang lebih ramah dibandingkan yang lain.”
Bingjie Hao, penulis pertama studi tersebut. menambahkan, “Kami akhirnya dapat menyimpulkan bahwa jejaring sosial selaras dengan ekspektasi yang terbentuk 80 tahun lalu.
Hao mengatakan, hasil penelitian para ilmuwan dari Northwestern tersebut memiliki penerapan luas untuk penggunaan di masa depan.
"(Model) matematika kami memungkinkan kami untuk memasukkan batasan pada koneksi dan preferensi berbagai entitas dalam sistem," jelas dia.
"Hal ini akan berguna untuk memodelkan sistem lain di luar jaringan sosial,” kata Hao seperti dikutip dari Neuroscience News.
Kovács adalah asisten profesor Fisika dan Astronomi di Sekolah Tinggi Seni dan Sains Weinberg Northwestern. Hao adalah peneliti pascadoktoral di laboratoriumnya.
Manfaat penelitian
Kovács dan Hao saat ini sedang menjajaki beberapa arah masa depan untuk penelitian ini. Di satu sisi, model baru ini dapat digunakan untuk mengeksplorasi intervensi yang bertujuan mengurangi polarisasi politik.
Namun para peneliti mengatakan model ini dapat membantu lebih memahami sistem di luar kelompok sosial dan hubungan antar teman.
“Kita bisa melihat hubungan rangsang dan penghambatan antara neuron di otak atau interaksi yang mewakili kombinasi obat berbeda untuk mengobati penyakit,” kata Kovács.
“Studi tentang jaringan sosial adalah tempat yang ideal untuk dijelajahi, namun minat utama kami adalah lebih dari sekadar menyelidiki interaksi antar teman dan melihat jaringan kompleks lainnya.” | Sumber: Neuroscience News

Posting Komentar