Riset terbaru mengungkap bahwa kesadaran manusia terdiri dari tiga jenis utama yang terbentuk bertahap sepanjang evolusi dan membentuk pengalaman hidup kita.
Ilustrasi: Freepik
Ringkasan
- Peneliti mengusulkan tiga jenis utama kesadaran fenomenal: arousal dasar, kewaspadaan umum, dan kesadaran refleksif.
- Ketiganya berkembang bertahap dalam evolusi, dari respons otomatis hingga kemampuan manusia merenungkan diri.
- Temuan ini membantu menjelaskan mengapa kita bisa mengalami kenikmatan, rasa sakit, hingga penderitaan yang kompleks.
MENGAPA kita sebagai makhluk hidup bisa merasakan hangatnya matahari, menikmati kicau burung, sekaligus merasakan sakit lutut saat jatuh atau menderita karena pikiran yang pesimistis?
Pertanyaan besar tentang asal-usul pengalaman sadar ini dijawab lewat riset terbaru dari Dr. Albert Newen (Ruhr-Universität Bochum) dan Dr. Carlos Montemayor (San Francisco State University).
Mereka mengusulkan bahwa kesadaran fenomenal—kesadaran yang berisi pengalaman subjektif—terdiri dari tiga jenis inti, yakni basic arousal, general alertness, dan reflexive (self-)consciousness.
1. Basic Arousal: Sistem Alarm Paling Purba
Jenis kesadaran paling awal adalah basic arousal, yang berfungsi sebagai sistem alarm evolusioner. Pada tahap ini, otak memicu respons bertahan hidup saat tubuh berada dalam bahaya.
Rasa sakit, menurut Dr. Newen, adalah sinyal efisien yang memberi tahu adanya kerusakan pada tubuh—sebuah mekanisme yang memicu reaksi otomatis seperti melarikan diri atau membeku.
Dalam biologi evolusioner, mekanisme ini sejalan dengan konsep fight-or-flight yang dijelaskan dalam riset klasik Walter Cannon pada awal abad ke-20. Rasa sakit bukan sekadar pengalaman, tetapi instrumen survival.
2. General Alertness: Fokus dalam Arus Informasi
Tahap berikutnya dalam evolusi kesadaran adalah general alertness, kemampuan untuk fokus pada satu informasi penting di tengah berbagai rangsangan.
Misalnya, saat seseorang berbicara pada kita tetapi kita melihat asap di sudut ruangan, perhatian otomatis tertuju ke sumber asap. Dari sinilah manusia mampu belajar hubungan sebab-akibat: asap berasal dari api.
Dr. Montemayor menjelaskan bahwa bentuk kewaspadaan terarah ini memungkinkan kita memahami korelasi yang lebih kompleks, bahkan bersifat ilmiah.
Dalam konteks ilmu kognitif, kemampuan fokus selektif ini sangat mirip dengan konsep selective attention yang dikenal dalam psikologi modern.
3. Reflexive (Self-)Consciousness: Ketika Kita Menyadari Diri Sendiri
Jenis kesadaran paling kompleks adalah reflexive self-consciousness, kemampuan untuk memikirkan diri sendiri, menilai masa lalu, dan merencanakan masa depan.
Kita bisa membentuk citra diri dan menggunakannya untuk mengambil keputusan.
Contoh paling terkenal adalah kemampuan mengenali diri di cermin. Anak manusia biasanya mencapainya pada usia sekitar 18 bulan. Beberapa hewan seperti simpanse, lumba-lumba, dan burung murai juga menunjukkan kemampuan ini.
Kesadaran refleksif membuat manusia lebih mudah berintegrasi dalam masyarakat, memahami norma, dan berkoordinasi dengan orang lain.
Dalam filsafat, domain ini sering dikaitkan dengan teori self-model Thomas Metzinger—gagasan bahwa otak menciptakan representasi diri untuk keperluan navigasi sosial.
Penjelasan tiga lapis kesadaran ini membantu kita memahami mengapa pengalaman manusia bisa sangat beragam, dari kenikmatan sederhana hingga penderitaan yang kompleks.
Kesadaran bukan monolit; ia adalah sistem berlapis yang berkembang untuk membantu kita bertahan, belajar, dan hidup dalam kelompok sosial.
Riset lengkap tim ini dipublikasikan di jurnal Philosophical Transactions of the Royal Society B.
Disadur dari Sci.New

Posting Komentar