Hujan Reda, “Hobbit” Flores pun Lenyap

Penelitian terbaru menunjuk kekeringan ekstrim sejak ~61.000 tahun lalu sebagai kunci hilangnya Homo floresiensis dari pulau Flores


Penelitian terbaru menunjuk kekeringan ekstrim sejak ~61.000 tahun lalu sebagai kunci hilangnya Homo floresiensis dari pulau Flores.Ilustrasi dibuat oleh AI.


SEKITAR 50.000 tahun lalu, salah satu kerabat manusia paling unik, Homo floresiensis, dikenal pula sebagai hobbit Flores, lenyap dari peradaban prasejarah. Penyebab kepunahannya menjadi teka-teki panjang. 


Kini, studi baru yang dipublikasikan di jurnal Communications Earth & Environment memberikan petunjuk kuat: kekeringan jangka panjang membuat habitat mereka tak lagi layak huni. 


Para peneliti merekonstruksi sejarah iklim pulau Flores dengan menganalisis stalagmit dari gua Liang Luar, sekitar 700 meter dari lokasi penggalian utama semutua hobbit di gua Liang Bua


Karena stalagmit terbentuk dari tetesan air karst, komposisi kimia di tiap lapisannya menjadi arsip perubahan curah hujan masa lampau. 


Dengan metode geokimia yang memadukan rasio magnesium/kalsium dan isotop oksigen (δ¹⁸O), tim berhasil membangun catatan curah hujan musim dan tahunan antara 91.000 hingga 47.000 tahun lalu.


Hasilnya, antara 76.000–61.000 tahun lalu, hujan tahunan turun dari ~1.560 mm menjadi ~990 mm. 


Lebih parah lagi, musim panas kala itu sangat kering, curah hujan musim panas tercatat hanya sekitar 450 mm, lebih rendah hampir setengah dibanding sekarang. 


Penurunan curah hujan bukan hanya soal kekeringan, ia berarti hilangnya air tawar permanen, sumber daya penting bagi manusia kecil dan binatang buruannya. 


Salah satu mangsa utama hobbit adalah gajah kerdil purba, Stegodon florensis insularis


Analisis isotop pada gigi Stegodon menunjukkan perubahan pola air minum yang selaras dengan kondisi kekeringan di stalagmit, artinya, mereka juga terkena dampak. 


Lebih dari 90% fosil Stegodon di Liang Bua ditemukan di lapisan sedimentasi dari periode 76.000–61.000 tahun lalu, ketika kondisi lingkungan masih relatif baik. 


Namun seiring musim panas yang makin kering, populasi Stegodon menurun drastis, dan kemudian hilang dari catatan fosil. Hobbit pun kehilangan mangsa utama mereka. 


Ketika sumber air utama bulan kering, sungai kecil Wae Racang mengering, kedua spesies ini mungkin terpaksa bermigrasi ke tempat lain. Hobbit, sebagai predator dan pemakan gajah purba, kemungkinan mengikuti jejak mereka. 


Faktor Tambahan


Data geologi menunjukkan bahwa lapisan abu vulkanik yang menutupi sisa-sisa alat batu dan tulang di Liang Bua berasal dari letusan sekitar 50.000 tahun lalu, tepat pada periode terakhir ditemukannya sisa-sisa hobbit


Ini menunjukkan letusan vulkanik bisa saja menjadi “pukulan akhir” bagi populasi yang sudah rapuh. 


Selain itu, migrasi hobbit ke pesisir mungkin membawa mereka ke wilayah penduduk manusia modern, Homo sapiens


Meskipun bukti langsung interaksi belum ditemukan, beberapa penelitian genetika dan arkeologi menunjukkan bahwa manusia modern telah melintasi wilayah Nusantara sejak 75.000–63.000 tahun lalu, sehingga peluang kontak cukup besar. 


Jika bertemu, persaingan untuk sumber daya, air, tempat tinggal, makanan, atau bahkan penyakit/konflik bisa menjadi faktor tambahan yang mempercepat kepunahan hobbit


Namun penulis studi menekankan bahwa kekeringan panjang dan hilangnya mangsa tetap tetap sebagai pemicu utama. 


Penelitian ini adalah rekonstruksi iklim paling detail untuk lokasi hunian hobbit yang pernah dilakukan. Sebelumnya, penyebab menghilangnya Homo floresiensis hanya bisa diduga berdasarkan fosil dan artefak. 


Kombinasi data stalagmit dan isotop gigi Stegodon memberi bukti kuat bahwa perubahan iklim jangka panjang, khususnya kekeringan, bisa memaksa hominin untuk meninggalkan habitat mereka.


Ini menjadikan punahnya hobbit bukan hanya cerita evolusi manusia yang tragis, melainkan peringatan tentang bagaimana perubahan iklim bisa membalik nasib spesies, termasuk manusia. 


Disadur dari artikel di Phys.org.


Post a Comment

أحدث أقدم