Penelitian menunjukkan serebelum, otak kecil di dasar kepala, memiliki area khusus yang aktif selektif saat manusia memproses bahasa.
Ringkasan
- Peneliti menemukan area spesifik di serebelum (otak kecil) yang bereaksi sangat kuat dan selektif terhadap aktivitas berbahasa.
- Area ini tetap diam saat mendengar musik atau mengerjakan matematika, menunjukkan bahwa serebelum punya peran kognitif yang canggih.
- Temuan ini membuka peluang baru bagi terapi gangguan bicara (afasia) dan pemahaman mendalam tentang tumbuh kembang bahasa.
JIKA bicara soal otak kecil atau serebelum, para ahli biasanya hanya menghubungkannya dengan urusan fisik seperti keseimbangan, koordinasi gerak, atau kemampuan kita untuk tidak terjatuh saat berjalan.
Namun, sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Neuron mematahkan persepsi tersebut.
Serebelum, bagian seukuran kepalan tangan yang terselip di dasar otak, ternyata memiliki "sisi cerdas" yang selama ini terabaikan.
Tim peneliti dari MIT dan Universitas Harvard menemukan bahwa ada area spesifik di sana yang sangat pemilih. Area itu hanya akan "menyala" ketika kita sedang membaca atau mendengarkan kata-kata.
Neurosaintis Colton Casto melakukan riset mendalam dengan menyisir data pemindaian otak selama 15 tahun milik rekan penulisnya, Evelina Fedorenko.
Dari data 846 orang, ditemukan empat titik di sisi kanan serebelum yang aktif saat seseorang menyimak cerita.
Menariknya, dari empat titik itu, satu titik benar-benar menunjukkan selera yang eksklusif.
Titik ini tidak bereaksi saat peserta mengerjakan soal matematika, menonton film bisu, atau mendengarkan musik jazz maupun orkestra yang memiliki pola nada rumit.
Area ini hanya "haus" akan bahasa. "Anda harus membaca atau mendengarkan bahasa agar wilayah ini benar-benar bekerja," ungkap Casto.
Sistem bahasa di serebelum ini uniknya berada di sisi kanan, yang seolah-olah menjadi bayangan cermin bagi sistem bahasa utama di neocortex (lapisan luar otak besar) yang biasanya terletak di sisi kiri.
Meski lokasi tepatnya bisa sedikit bergeser antarindividu, pola umumnya tetap sama.
Penemuan ini menjadi jembatan bagi dua bidang ilmu yang selama ini berjalan sendiri-sendiri, yakni penelitian motorik (gerak) dan penelitian bahasa.
Selama ini, ahli bahasa jarang melirik otak kecil, dan ahli otak kecil jarang membahas tata bahasa.
Mengapa otak kecil perlu terlibat dalam urusan kata-kata? Salah satu teori menyebutkan bahwa serebelum membantu membentuk pertumbuhan area bahasa utama di otak besar sejak usia dini.
Melansir dari Healthline dan Scientific American, kerusakan pada serebelum (seperti akibat stroke atau trauma) diketahui dapat menyebabkan Cerebellar Cognitive Affective Syndrome (CCAS).
Pasien dengan kondisi ini seringkali mengalami kesulitan dalam memilih kata, artikulasi yang lambat, hingga gangguan dalam memahami struktur kalimat yang kompleks.
Bahkan, penelitian lain dari Stanford Medicine menunjukkan adanya keterkaitan antara aktivitas serebelum yang tidak biasa dengan kondisi disleksia.
Hal ini menguatkan teori bahwa otak kecil bukan sekadar "asisten gerak", melainkan "pemandu bakat" bagi kemampuan bahasa kita.
Implikasi kesehatan dari temuan ini sangat besar. Jika kita tahu ada titik spesifik di otak kecil yang mengatur bahasa, area ini bisa menjadi target baru untuk terapi stimulasi otak bagi penderita afasia.
Affasia merupakan gangguan komunikasi yang membuat seseorang sulit bicara, membaca, atau menulis.
Ke depannya, para peneliti juga penasaran ingin melihat bagaimana penampakan otak kecil para polyglot atau orang yang menguasai banyak bahasa.
Apakah "otak kecil" mereka jauh lebih aktif dibandingkan orang biasa? Satu yang pasti, serebelum bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan bagian dari kecerdasan manusia yang sesungguhnya.
Disadur dari Science News - A spot in the base of the brain has a love of language.
.jpg)
إرسال تعليق