Seafood Ini Bikin Tikus Tua Lebih Cerdas dan Bulunya Kembali Hitam

Senyawa dari hewan laut yang biasa disantap orang Korea dan Jepang bikin tikus tua lebih pintar, memperbaiki koneksi otak, dan menumbuhkan rambut lebih gelap.


Senyawa dari hewan laut yang biasa disantap orang Korea dan Jepang bikin tikus tua lebih pintar, memperbaiki koneksi otak, dan menumbuhkan rambut lebih gelap.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Suplemen plasmalogen, lemak yang banyak ditemukan pada sea squirt, memperbaiki kemampuan belajar dan memori tikus tua.
  • Senyawa ini membantu memulihkan sinapsis serta menekan peradangan di otak.
  • Efeknya menarik, tetapi belum terbukti pada manusia.


ADA kabar menarik dari dasar laut bagi siapa saja yang berharap proses menua bisa sedikit diperlambat.


Tim peneliti menemukan bahwa plasmalogen, senyawa yang banyak terdapat pada sea squirt atau tunikata, dapat membalikkan sejumlah tanda penuaan pada tikus.


Sea squirt merupakan hewan laut yang dimakan di sejumlah negara Asia. Di Korea, hewan ini dikenal sebagai meongge, sedangkan di Jepang disebut hoya. 


Dagingnya dapat dimakan mentah dan diketahui mengandung kadar plasmalogen yang tinggi.


Plasmalogen adalah jenis lemak yang menjadi bagian penting dari membran sel. Senyawa ini banyak terdapat di otak, jantung, dan sel-sel sistem kekebalan tubuh. 


Menariknya, kadar plasmalogen cenderung menurun seiring bertambahnya usia dan juga dikaitkan dengan sejumlah penyakit neurodegeneratif.


Dalam penelitian tersebut, tikus betina berusia 16 bulan diberi plasmalogen selama dua bulan. 


Para peneliti kemudian menguji kemampuan belajar dan ingatan tikus menggunakan Morris water maze, semacam ujian renang untuk menemukan platform tersembunyi di dalam kolam.


Hasilnya, tikus yang mendapat plasmalogen menemukan platform lebih cepat dibandingkan tikus tua yang tidak mendapat suplemen. Performanya menjadi lebih mirip tikus yang lebih muda.


Pemeriksaan jaringan otak memberi petunjuk mengapa hal itu terjadi. Tikus yang mendapat plasmalogen memiliki lebih banyak sinapsis, titik pertemuan tempat sel saraf berkomunikasi. Kondisi sinapsisnya juga lebih baik.


Selain itu, aktivitas mikroglia, sel kekebalan yang berada di otak, dan tingkat peradangan otak ikut menurun. Plasmalogen juga tampaknya meningkatkan proses pembentukan koneksi saraf baru dan neurogenesis.


Bagian yang paling mudah membuat manusia berharap terlalu banyak mungkin justru bukan otaknya, melainkan rambutnya.


Tikus tua yang mendapat plasmalogen mengalami pertumbuhan rambut yang lebih tebal, mengilap, dan berwarna lebih gelap dibandingkan kelompok kontrol. 


Dengan kata lain, penelitian ini menemukan semacam paket anti-aging yang cukup ambisius: ingatan membaik, koneksi otak bertambah, peradangan turun, rambut pun terlihat lebih muda.


Para peneliti menduga plasmalogen bekerja dengan memperbaiki struktur membran sinapsis dan meningkatkan molekul yang mendukung pertumbuhan neuron. 


Ada pula kemungkinan sumbu usus-otak ikut terlibat, karena plasmalogen dapat memengaruhi mikroorganisme di usus.


Namun, perlu diingat, penelitian para ilmuwan dari Xi’an Jiaotong-Liverpool University, Stanford University, Shanghai Jiao Tong University, dan University of Chinese Academy of Sciences dilakukan pada tikus, bukan manusia. 


Belum diketahui apakah efek serupa terjadi pada manusia, berapa dosis yang aman dan efektif, atau bagaimana dampaknya jika dikonsumsi dalam jangka panjang.


Jadi, untuk sementara, sea squirt belum bisa disebut mesin waktu biologis. Ia baru memberi petunjuk menarik bahwa memperbaiki lipid tertentu mungkin membantu otak menghadapi penuaan. 


Untuk manusia, penelitian masih harus berjalan karena, sayangnya, tubuh kita belum menerima memo bahwa kita ingin tetap berusia 25 tahun selamanya.


Disadur dari ScienceDaily – Stanford scientists discover a seafood that can reverse signs of aging yang diakses September 2026.




Post a Comment

أحدث أقدم