Gelombang panas, banjir, dan penyakit kini paling keras menghantam warga permukiman kumuh.
Ringkasan
- Krisis iklim paling berat dirasakan masyarakat miskin perkotaan, terutama penghuni permukiman informal.
- Warga mengembangkan berbagai cara beradaptasi, mulai dari rumah yang lebih sejuk hingga perbaikan sanitasi berbasis komunitas.
- Para peneliti menilai pengalaman mereka dapat menjadi acuan penting dalam membangun kota yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.
KETIKA berbicara tentang dampak perubahan iklim, perhatian publik sering tertuju pada mencairnya es di kutub atau naiknya permukaan laut. Sementara ada masyarakat rentan yang terabaikan.
Ancaman yang paling nyata dari krisi iklim justru dirasakan setiap hari oleh jutaan orang yang tinggal di permukiman kumuh.
Bagi mereka, musim panas bukan sekadar cuaca tidak nyaman, melainkan persoalan kesehatan, penghasilan, bahkan keselamatan hidup.
Kondisi itu dialami Parveen Shaikh, warga Mumbai, India.
Setelah hampir dua dekade tinggal di rumah susun relokasi pemerintah, ia menyaksikan bagaimana suhu yang terus meningkat membuat penghuni lebih sering mengalami tekanan darah rendah, pusing, muntah, hingga mudah marah.
Ironisnya, hunian yang semula dianggap sebagai peningkatan kualitas hidup ternyata memiliki ventilasi buruk dan ruang antarbangunan yang sempit sehingga panas terperangkap di dalam rumah.
Fenomena tersebut bukan kasus tunggal. Menurut estimasi Climate Impact Lab dari University of Chicago, jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, suhu yang semakin panas dapat menyebabkan tambahan sekitar enam juta kematian setiap tahun pada akhir abad ini.
Korban terbanyak diperkirakan berasal dari negara-negara berpendapatan rendah, terutama masyarakat yang bekerja dan tinggal di sektor informal.
Ekonom peraih Nobel Esther Duflo menilai masyarakat miskin harus ditempatkan di pusat setiap pembahasan mengenai adaptasi terhadap perubahan iklim.
Sayangnya, kelompok ini justru sering diabaikan dalam perencanaan kota. Akibatnya, pembangunan infrastruktur belum mampu mengimbangi laju urbanisasi yang sangat cepat di negara-negara berkembang.
Berbagai penelitian kini mulai memetakan dampak panas ekstrem secara lebih rinci.
Di India, organisasi akar rumput bersama Harvard University memasang sensor suhu dan kelembapan di rumah maupun tempat kerja para pekerja informal.
Hasilnya menunjukkan banyak dari mereka hampir tidak memiliki tempat berlindung dari panas. Bahkan setelah pulang ke rumah, suhu di dalam bangunan tetap tinggi.
Penelitian itu juga menemukan kaitan antara panas ekstrem dengan anemia, tekanan pada jantung, gangguan kehamilan, serta masalah kesehatan mental.
Masalah tidak berhenti pada suhu tinggi. Kepadatan penduduk dan sanitasi yang kurang memadai membuat tuberkulosis, kolera, demam berdarah, dan penyakit lain lebih mudah menyebar.
Bahkan, penyebaran penyakit dari kawasan permukiman informal dapat menjangkau lingkungan yang lebih makmur karena mobilitas penduduk.
Dengan kata lain, melindungi kelompok paling rentan juga berarti melindungi seluruh kota.
Meski demikian, harapan justru muncul dari warga sendiri. Penelitian menunjukkan solusi sederhana seperti mengecat atap dengan cat putih reflektif mampu menurunkan suhu dalam rumah sekitar 2 derajat Celsius pada musim panas.
Di Mumbai, proyek Roof Over Our Heads (ROOH) melibatkan warga, arsitek, dan insinyur untuk membangun rumah murah yang lebih tahan terhadap panas, misalnya menggunakan atap reflektif dan lantai dari plastik daur ulang.
Sementara di Nairobi, Kenya, sistem saluran pembuangan berbiaya rendah berhasil menekan kasus kolera secara signifikan.
Para peneliti kini semakin menyadari bahwa permukiman informal bukan hanya simbol kemiskinan, tetapi juga laboratorium adaptasi.
Jaringan sosial yang kuat, kepadatan yang efisien, dan kemampuan warga berinovasi menjadi modal penting menghadapi iklim yang semakin ekstrem.
Tentu, bukan berarti permukiman kumuh adalah kondisi ideal—tidak ada yang bercita-cita menjadikan sengatan panas sebagai "fasilitas umum".
Namun pengalaman mereka menunjukkan bahwa solusi sering kali lahir dari mereka yang paling lama dipaksa hidup bersama masalah.
Pada akhirnya, para ahli menilai pemerintah perlu berhenti memandang permukiman informal sebagai sekadar persoalan yang harus dihapus.
Sebaliknya, pengalaman dan pengetahuan masyarakat setempat perlu dijadikan bagian dari perencanaan kota yang lebih tangguh, inklusif, dan siap menghadapi perubahan iklim di masa depan.
Disadur dari Knowable Magazine - Slums Are Bearing the Brunt of the Climate Crisis—And Devising Solutions yang diakses Juli 2026.

إرسال تعليق