Dari Tempat Sampah ke Angkasa: Menyulap Plastik Jadi Bahan Bakar Pesawat

Sampah plastik yang biasanya berakhir di tempat pembuangan kini dibidik sebagai bahan baku baru untuk bahan bakar pesawat.


Sampah plastik yang biasanya berakhir di tempat pembuangan kini dibidik sebagai bahan baku baru untuk bahan bakar pesawat.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Teknologi pirolisis mengubah sampah plastik menjadi minyak yang kaya hidrokarbon.
  • Minyak itu selanjutnya dapat diproses menjadi bahan baku sustainable aviation fuel (SAF).
  • Sistem Niutech dirancang untuk bekerja secara kontinu dengan kapasitas hingga 50.000 ton plastik per tahun.


ADA banyak cara mengakhiri hidup sebuah botol plastik. Dikubur, dibakar, hanyut ke laut, atau, kalau proyek ini berhasil, dikirim ke langit.


Sebuah perusahaan energi besar menggandeng perusahaan teknologi asal China, Niutech, untuk membangun sistem industri yang mengolah sampah plastik menjadi bahan baku sustainable aviation fuel (SAF).


Proyek ini akan menghubungkan pengolahan limbah plastik dengan fasilitas kilang yang sudah ada. Idenya sederhana, plastik masuk, diproses menjadi hidrokarbon, lalu diolah lagi menjadi bahan bakar penerbangan.


Tentu, plastik tidak mendadak berubah menjadi avtur hanya karena dipanaskan. Di sinilah pirolisis bekerja.


Dalam proses pirolisis, plastik dipanaskan pada suhu tinggi dengan oksigen yang sangat terbatas. Rantai polimer kemudian terurai menjadi molekul hidrokarbon yang lebih sederhana, termasuk minyak pirolisis.


Minyak ini masih perlu menjalani proses lanjutan dan hydrotreatment sebelum dapat menjadi bahan baku SAF.


Menurut Niutech, sistem pirolisis kontinu mereka dapat menangani berbagai jenis plastik, seperti polietilena (PE), polipropilena (PP), polistirena (PS), ABS, dan nilon, bahkan dalam campuran.


Yang menarik, teknologi tersebut diklaim tidak membutuhkan proses pencucian, penyortiran, dan pengeringan secara ekstensif. 


Ini penting karena sampah plastik dunia bukanlah koleksi botol bening yang sudah rapi berdasarkan jenis polimernya. Isinya lebih mirip “salad plastik” dengan bonus kotoran dan kontaminan.


Satu unit sistem yang direncanakan memiliki kapasitas 10.000–50.000 ton per tahun. Teknologi serupa juga telah diterapkan Niutech di sejumlah negara, termasuk Inggris, Korea Selatan, Denmark, Thailand, Vietnam, dan China.


Industri penerbangan menghadapi persoalan yang agak menyebalkan: pesawat membutuhkan bahan bakar dengan kepadatan energi tinggi, sementara emisi karbon perlu ditekan.


SAF menjadi salah satu jalan keluar yang sedang dikejar. Uni Eropa, misalnya, menetapkan porsi SAF dalam bahan bakar penerbangan sebesar 2 persen mulai 2025, naik menjadi 6 persen pada 2030 dan 70 persen pada 2050.


Selama ini, bahan bakunya antara lain berasal dari minyak jelantah dan limbah minyak. Masalahnya, pasokan bahan baku tersebut terbatas. 


Limbah plastik kemudian muncul sebagai kandidat sumber hidrokarbon alternatif.


Namun ada satu kata yang perlu dicetak tebal, yakni berkelanjutan.


Mengubah plastik menjadi bahan bakar tidak otomatis membuat prosesnya ramah lingkungan. 


Energi untuk menjalankan pirolisis, pengolahan lanjutan, transportasi limbah, hingga emisi sepanjang siklus hidup bahan bakar tetap harus dihitung.


Jadi, pertanyaan besarnya bukan lagi sekadar “Bisakah sampah plastik dibuat menjadi bahan bakar pesawat?”


Jawabannya, bisa.


Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah “Apakah cara itu benar-benar mengurangi masalah yang kita ciptakan?”


Sebab kalau plastik yang kita buang ke bumi akhirnya bisa menerbangkan pesawat, itu memang terdengar keren.


Tapi jangan sampai kita salah membaca pesannya, solusinya bukan membuang lebih banyak plastik agar lebih banyak pesawat bisa terbang.


Disadur dari Interesting Engineering - Plastic waste to be turned into sustainable jet fuel as Chinese pyrolysis tech scales up yang diakses pada Agustus 2026.




Post a Comment

أحدث أقدم