Resep Kehidupan di Luar Angkasa: Sebagian Bahan Sudah Ketemu

Para ilmuwan berhasil menemukan berbagai molekul bahan baku kehidupan di luar angkasa, namun pencarian molekul berukuran besar dan kompleks seperti RNA utuh masih terus berlanjut.


Para ilmuwan berhasil menemukan berbagai molekul bahan baku kehidupan di luar angkasa, namun pencarian molekul berukuran besar dan kompleks seperti RNA utuh masih terus berlanjut.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Sampel batuan dari asteroid Bennu dan Ryugu terbukti menyimpan seluruh basa nukleotida pembentuk DNA dan RNA serta puluhan jenis asam amino.
  • Teknologi astronomi radio mendeteksi lebih dari 30 calon molekul "prebiotik" di ruang antarbintang, termasuk gula sejati pertama di luar angkasa.
  • Batas deteksi teleskop dan kondisi ekstrem luar angkasa membuat molekul rumit seperti RNA utuh belum ditemukan, meski misi pengambilan sampel terus berburu.


PERNAH membayangkan memasak kue tanpa tepung? Rasanya mustahil. Logika yang sama berlaku bagi para ilmuwan saat mencari asal-usul kehidupan di semesta.


Mereka mengincar molekul prebiotik, seperti protein, RNA, dan lipid pembentuk membran sel, yang menjadi "bahan baku dasar" kehidupan.


Kabar baiknya, dapur antariksa ternyata tidak sekosong yang dibayangkan.


Lewat misi pengembalian sampel, asteroid Bennu yang dibawa pulang ke Bumi pada 2023 terbukti menyimpan lima basa nukleotida pembentuk DNA dan RNA, plus 14 jenis asam amino.


Asteroid temannya, Ryugu, juga membawa kelima basa nukleotida tersebut, termasuk urasil yang menjadi komponen khas RNA.


Tak cuma mengambil batu secara langsung, para astronom memanfaatkan instrumen radio astronomi untuk "mengendus" isi awan molekul antarbintang.


Dari sekitar 350 jenis molekul yang terdeteksi di ruang hampa, ada sekitar 180 yang tergolong Complex Organic Molecules (COM), sebutan untuk molekul berbasis karbon dengan minimal enam atom.


Menurut Sergio Ioppolo, pakar astrokimia dari Aarhus University, Denmark, diperkirakan ada sekitar 30 kandidat molekul prebiotik yang sudah terkonfirmasi.


Bahkan, tim yang dipimpin Izaskun Jiménez-Serra dari Pusat Astrobiologi Spanyol menemukan gula erythrulosedi pusat galaksi Bima Sakta.


Ini adalah gula sejati pertama yang pernah ditemukan melayang bebas di luar angkasa.


Namun, pencarian ini ada batasnya. Molekul sederhana mudah diidentifikasi lewat sidik jari spektrum cahaya. Begitu molekulnya makin besar dan rumit, garis spektrumnya akan saling bertumpuk dan bikin pusing para peneliti.


Akibatnya, molekul super kompleks seperti ribosa (gula pembentuk RNA) atau struktur RNA utuh masih belum terdeteksi lewat teleskop dari Bumi.


Apakah menemukan bahan kue kehidupan di mana-mana bikin pencarian di Planet Mars jadi biasa saja?


Tentu tidak. Lingkungan luar angkasa penuh radiasi ultraviolet, sinar kosmik, dan suhu ekstrem yang sanggup merusak molekul organik.


Jika asam amino bisa bertahan di permukaan Mars yang gersang, itu tetap pencapaian spektakuler.


Meskipun bahan bakunya bertebaran di galaksi, para ilmuwan mewanti-wanti agar publik tidak buru-buru menyimpulkan bahwa alien sudah ditemukan.


"Saya tidak ingin orang-orang mengira saya bilang kehidupan sudah terdeteksi," tegas Jiménez-Serra.


Kini, harapan bertumpu pada misi eksplorasi ruang angkasa masa depan.


Misi Hayabusa2 milik Jepang serta misi Tianwen-2 milik China yang diluncurkan pada Mei 2025 untuk membawa sampel asteroid Kamoʻoalewa siap membuka tabir baru.


Kita sudah tahu semua bahan masakan itu ada di luar sana. Pertanyaannya tinggal satu: apakah ada "koki" lain di semesta ini yang berhasil memasaknya, atau cuma kita yang beruntung?


Disadur dari Live Science - Which building blocks of life have been found in space, and which haven't? yang diakses pada Agustus 2026.



Post a Comment

أحدث أقدم