Gempa “Hantu” Bisa Terasa Lama Setelah Bumi Berhenti Berguncang

Otak manusia kadang terus merasakan gempa meski tanah sudah diam, terutama ketika tubuh berada dalam kondisi tenang dan minim rangsangan.


Otak manusia kadang terus merasakan gempa meski tanah sudah diam, terutama ketika tubuh berada dalam kondisi tenang dan minim rangsangan.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Sensasi gempa “hantu” dapat muncul berhari-hari setelah gempa berlalu, tanpa aktivitas seismik yang menyebabkannya.
  • Orang yang mengalami gempa di rumah, terutama sendirian, lebih sering melaporkan sensasi ini dibanding mereka yang berada di tempat kerja.
  • Otak diduga mencampur sinyal dari sistem keseimbangan, tubuh, dan lingkungan, lalu menafsirkannya sebagai gerakan.


PERNAH merasa tempat tidur bergoyang setelah gempa selesai? Atau merasa tubuh seperti masih terombang-ambing padahal lantai sebenarnya diam?


Jika pernah, mungkin kamu mengalami phantom earthquake sensations (PES), atau sensasi gempa semu.


Fenomena ini bukan sekadar perasaan “halu”. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa otak memang dapat terus menghasilkan sensasi seolah-olah tubuh bergerak setelah gempa berakhir.


Peneliti dari Istanbul Medipol University, Türkiye, mempelajarinya setelah gempa berkekuatan magnitudo 6,2 mengguncang wilayah Istanbul pada 23 April 2025.


Penelitian yang diterbitkan di Frontiers in Public Health itu melibatkan 157 orang berusia 18–65 tahun.


Mereka diwawancarai dalam empat minggu setelah gempa dan diminta melaporkan pengalaman merasakan guncangan lanjutan, kecemasan terkait gempa, serta gejala stres pascatrauma.


Hasilnya cukup menarik: lokasi seseorang ketika gempa terjadi ternyata berkaitan dengan seberapa sering sensasi gempa semu muncul.


Dari peserta yang berada di rumah, 48,7 persen mengatakan mereka merasakan gerakan semu beberapa kali sehari. Angkanya jauh lebih rendah pada mereka yang sedang berada di tempat kerja, yakni 13,3 persen.


Sensasinya juga cenderung bertahan lebih lama pada kelompok yang berada di rumah.


Mengapa rumah? Bukan karena rumah diam-diam punya dendam terhadap penghuninya.


Menurut peneliti, ketika seseorang berada di rumah, terutama sendirian, lingkungan biasanya lebih tenang.


Tubuh menjadi lebih mudah menyadari sinyal internal seperti denyut jantung, perubahan keseimbangan, atau gerakan kecil tubuh. Otak kemudian harus menentukan: ini gerakan nyata atau bukan?


Masalahnya, gempa merupakan pengalaman sensorik yang sangat tidak biasa. Sistem vestibular di telinga dalam, penglihatan, sensasi dari otot dan sendi, serta otak bekerja sama untuk menentukan posisi dan gerakan tubuh.


Setelah gempa, kombinasi stres, kewaspadaan tinggi, dan ingatan terhadap guncangan dapat membuat sistem tersebut lebih mudah “salah membaca” sinyal kecil.


Menariknya, penelitian juga menemukan bahwa gempa yang dirasakan sangat ringan justru dapat berkaitan dengan kecemasan lebih tinggi. Salah satu penjelasannya adalah ketidakpastian.


Jika guncangan sangat jelas, otak mudah menyimpulkan, “Ya, itu gempa.” Tetapi jika hanya terasa sedikit, muncul pertanyaan: tadi benar gempa, bangunan bergerak, atau cuma saya?


Ketidakpastian semacam itu dapat membuat seseorang terus memeriksa lingkungan dan tubuhnya, sebuah kondisi yang disebut hypervigilance atau kewaspadaan berlebihan.


Namun, para peneliti menekankan bahwa studi ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat.


Data terutama berasal dari laporan peserta sendiri dan belum dilengkapi pengukuran langsung terhadap sistem vestibular.


Karena itu, masih diperlukan penelitian dengan sensor gerak dan pemeriksaan keseimbangan yang lebih objektif.


Kabar baiknya, sensasi gempa semu umumnya tidak berbahaya dan pada banyak orang akan mereda seiring waktu.


Fenomena ini menunjukkan satu hal yang agak ironis: setelah bumi berhenti bergerak, otak kita kadang belum menerima memo tersebut.


Disadur dari Refractor - 'Phantom earthquakes' can haunt your brain long after tremors stop yang diakses pada Agustus 2026.




Post a Comment

أحدث أقدم