Organisasi waktu dunia berencana menghapus detik kabisat lebih cepat akibat percepatan rotasi Bumi demi mencegah kerusakan pada sistem komputer global.
Ringkasan
- Sejak sekitar 2015, rotasi Bumi sempat sedikit lebih cepat sehingga muncul kemungkinan “detik kabisat negatif”.
- Detik kabisat selama ini dipakai untuk menyelaraskan jam atom dengan rotasi Bumi, tetapi justru merepotkan sistem digital.
- Sistem waktu baru diarahkan menuju UTC yang kontinu, dengan selisih terhadap rotasi Bumi kelak bisa mencapai hingga satu jam.
BAGI manusia, satu hari terasa persis 24 jam. Namun, bagi mesin dan jam atom modern yang bekerja dengan presisi tingkat tinggi, rotasi planet kita ini sebenarnya cukup fluktuatif dan berantakan.
Rotasi Bumi memang tidak stabil. Dalam jangka sangat panjang, putaran Bumi cenderung melambat akibat interaksi gravitasi dengan Bulan. Tetapi prosesnya tidak mulus.
Perubahan di dalam Bumi dapat membuat kecepatannya naik-turun.
Dalam beberapa tahun terakhir, Bumi bahkan sempat berputar sedikit lebih cepat. Akibatnya, muncul kemungkinan sistem waktu membutuhkan detik kabisat negatif, bukan menambahkan satu detik, melainkan menghapus satu detik.
Sejak 1972, dunia sudah menambahkan 27 detik kabisat ke UTC untuk menjaga keselarasan dengan rotasi Bumi. Biasanya, tambahan itu disisipkan pada akhir Juni atau Desember, sehingga waktu bisa mencapai 23:59:60.
Agak aneh memang, manusia membuat jam supercanggih, lalu harus mengajari mereka bahwa satu menit ternyata boleh punya 61 detik.
Masalahnya, menghapus satu detik ternyata jauh lebih rumit. Sistem komputer tidak dirancang secara seragam untuk menghadapi waktu yang tiba-tiba “mundur”.
Risiko gangguan pada jaringan digital dan infrastruktur penting membuat detik kabisat semakin tidak disukai.
Karena itu, komunitas metrologi internasional memang sedang menuju penghapusan mekanisme tersebut.
Resolusi Biro Bobot dan Ukuran Internasional (BIPM) 2022 menetapkan bahwa batas perbedaan antara UTC dan rotasi Bumi akan diperbesar pada atau sebelum 2035.
Namun, rancangan resolusi terbaru untuk pertemuan CGPM 2026 bahkan mengusulkan UTC kontinu mulai 20 Mei 2027, dengan batas perbedaan hingga 3.600 detik atau satu jam.
Di sinilah muncul istilah “jam kabisat” (leap hour). Secara konsep, alih-alih terus-menerus menambal waktu dengan satu detik, selisihnya dibiarkan menumpuk jauh lebih lama sebelum dikoreksi dalam skala besar.
Dengan laju perubahan rotasi Bumi saat ini, manusia tidak perlu buru-buru menyiapkan pesta menyambut tambahan satu jam.
Perubahan ini juga didorong oleh kemajuan jam atom optik, yang mampu mengukur waktu jauh lebih presisi daripada generasi jam atom sebelumnya.
Ironisnya, semakin akurat manusia mengukur waktu, semakin jelas pula bahwa planet tempat kita tinggal tidak pernah benar-benar mau mengikuti jadwal.
Disadur dari IFLScience - Thanks To Earth Speeding Up, We Could Scrap The Leap Second As Early As Next Month – And Gain The First Ever 'Leap Hour' yang diakses September 2026.

إرسال تعليق