Ukuran Itu Penting, Bekantan Jantan Manfaatkan Hidung Besar untuk Pikat Betina

Hidung 'monyet Belanda' dari Kalimantan ini melambangkan cinta. Ya, setidaknya hidung bekantan (Nasalis larvatus) yang menjuntai itu punya daya pikat untuk asmara.

(Foto: Tim Morgan/Pexels)

ngarahNyaho! - Dikenal karena hidungnya yang besar dan menjuntai, monyet-monyet ini mendapat julukan 'monyet Belanda'. Hewan ini mendiami hutan bakau, rawa, dan hutan sungai di Kalimantan.

Selain hidungnya yang unik, bekantan jantan juga terkenal karena perutnya yang besar, yang disebabkan oleh sistem pencernaan khusus yang membantu memfermentasi daun yang mereka konsumsi.

Hewan ini adalah perenang ulung, dengan kaki berselaput yang membantu mereka menavigasi habitat perairan. Jantan dapat mencapai berat hingga 24 kg, menjadikannya jauh lebih besar daripada betina.

Hidup di harem, seekor jantan dominan memimpin sekelompok beberapa betina dan keturunannya. 

Bekantan bersifat diurnal, artinya aktif di siang hari. Hewan ini mengandalkan suara untuk berkomunikasi di dalam rumah mereka di hutan lebat.

Sayangnya, monyet-monyet ini tergolong terancam punah karena hilangnya habitat dan perburuan.

Berasal dari hutan lebat Kalimantan, bekantan sering kali secara tidak adil dijuluki sebagai salah satu hewan paling jelek di dunia karena hidungnya yang menonjol.

Namun seperti ungkapan, keindahan tergantung dari siapa yang melihatnya, bagi bekantan betina, hidung yang besar merupakan daya tarik tersendiri.

Katharine Balolia, penulis utama penelitian ini, dan timnya menggunakan pemindaian 3D tengkorak monyet dari koleksi museum untuk menyelidiki rahasia yang tersembunyi di dalam struktur hidung unik ini. 

Apa yang mereka temukan adalah hubungan menarik antara ukuran hidung, suara, dan keberhasilan kawin.

“Kami ingin memahami mengapa hidung bekantan jantan begitu besar, dan apakah rongga hidung mereka memiliki bentuk yang khas,” kata Dr. Balolia seperti dikutip dari Earth.

Para peneliti menemukan bahwa bekantan jantan memiliki rongga hidung yang jauh lebih besar dan bentuknya berbeda dibandingkan dengan rongga hidung betina.

Perbedaan anatomi ini memungkinkan pejantan menghasilkan suara panggilan yang lebih keras dan lebih dalam. 

Panggilan ini, yang sering digambarkan sebagai “klakson dan auman sengau,” sangat penting untuk komunikasi di habitat hutan lebat mereka.

Misalnya, di hutan lebat Kalimantan, sulit bagi bekantan untuk melihat satu sama lain melalui pepohonan lebat. Dalam lingkungan seperti itu, suara menjadi alat komunikasi yang penting.

Panggilan pejantan yang lebih keras dan dalam dapat terdengar lebih jauh melalui dedaunan yang lebat, sehingga memudahkan mereka untuk mengomunikasikan keberadaan mereka dan menarik calon pasangan.

Rongga hidung yang lebih besar pada pria bertindak seperti amplifier bawaan, meningkatkan volume dan kedalaman panggilan mereka. Suara kuat ini berfungsi untuk menyampaikan keinginan mereka kepada betina.

“Mampu mengeluarkan panggilan yang lebih keras dan lebih dalam berkat rongga hidung yang lebih panjang dan lebih besar membantu monyet jantan untuk menegaskan kesehatan dan dominasinya. 

"Hal ini membantu kera jantan menarik perhatian betina dan mengusir kera jantan lainnya,” jelas Dr. Balolia.

Dengan kata lain, hidung besar berarti suara yang besar, dan suara yang besar berarti peningkatan peluang kawin.

Keuntungan evolusioner ini telah menyebabkan pemilihan hidung yang lebih besar dari waktu ke waktu, karena perempuan mengasosiasikannya dengan sifat-sifat yang diinginkan seperti kesehatan dan dominasi.

Para peneliti juga mencatat bahwa lubang rongga hidung pada bekantan jantan bertambah besar seiring bertambahnya usia, bertepatan dengan puncak dominasi dan kemampuan reproduksi mereka.

Bagaimanapun, kecantikan bukan hanya soal estetika; ini tentang kelangsungan hidup dan reproduksi. Dan di dunia bekantan, hidung besar adalah simbol utama keinginan. | Sumber: Earth

Post a Comment

أحدث أقدم