Studi terbaru mengungkap penderita aphantasia tetap bisa berpikir abstrak tanpa bayangan visual, mematahkan teori filsafat kuno berusia tiga abad.
Ringkasan
- Aphantasia membuat seseorang tidak dapat membayangkan gambar secara mental, tetapi kemampuan berpikir abstraknya tetap normal.
- Peneliti menilai kondisi ini menantang teori filsuf David Hume yang menyatakan bahwa berpikir abstrak selalu membutuhkan gambaran mental.
- Temuan ini juga dapat memengaruhi cara ilmuwan memahami cara kerja otak, memori, dan proses berpikir manusia.
PERNAHKAH kamu diminta memejamkan mata dan membayangkan sebuah segitiga merah atau wajah sahabatmu? Bagi sebagian besar orang, perintah ini akan langsung memunculkan gambar mental di dalam kepala.
Namun, bagi penderita aphantasia, layar pikiran mereka benar-back gelap gulita. Tidak ada warna, tidak ada bentuk, tidak ada gambar sama sekali.
Meski demikian, orang dengan kondisi ini ternyata tetap bisa menjalani hidup dengan normal, bahkan jago dalam matematika atau sains.
Fenomena unik inilah yang kemudian memicu kejutan besar di dunia sains dan filsafat.
Studi terbaru dari para peneliti di University of Tartu, Estonia, menunjukkan bahwa aphantasia berhasil mengguncang teori berpikir abstrak yang sudah dipercaya selama ratusan tahun.
Dari laman EurekAlert, perdebatan ini bermula dari teori abad ke-18 yang dicetuskan oleh filsuf terkemuka asal Skotlandia, David Hume.
Kala itu, Hume berargumen bahwa pikiran manusia tidak bisa memproses abstraksi murni secara langsung.
Menurutnya, setiap kali kita memikirkan sesuatu, baik itu objek nyata seperti anjing atau konsep abstrak seperti keadilan, otak kita wajib memunculkan citra mental (gambar di dalam pikiran) terlebih dahulu sebagai jembatan.
Misalnya, untuk memahami konsep segitiga secara umum, kamu harus membayangkan satu segitiga spesifik di kepalamu.
Jika ingin merenungkan arti keadilan, kamu perlu mengingat adegan ruang sidang atau tindakan adil yang pernah kamu lihat.
Namun, kehadiran penderita aphantasia membalikkan teori tersebut. "Jika berpikir abstrak benar-benar membutuhkan pencitraan mental, maka orang dengan aphantasia seharusnya kesulitan untuk berpikir abstrak.
"Nyatanya, mereka tidak mengalami kesulitan sama sekali," ungkap Uku Tooming, Associate Professor Filsafat Teoretis di University of Tartu, seperti dikutip dari EurekAlert.
Pertanyaan, jika tidak ada gambar di kepala, bagaimana cara mereka berpikir?
Dalam makalah yang diterbitkan di jurnal Neuropsychologia, Uku Tooming dan rekannya, Roomet Jakapi, mencoba membedah berbagai pembelaan yang berusaha menyelamatkan teori Hume tersebut, lalu mematahkannya satu per satu.
Pertama, ada teori yang menyebutkan bahwa penderita aphantasia mungkin menggunakan indra lain, seperti suara atau sentuhan, untuk menggantikan gambar visual.
Namun, argumen ini runtuh karena ada pula penderita multi-modal aphantasia, mereka yang sama sekali tidak bisa membayangkan visual, suara, bau, maupun tekstur di dalam pikiran mereka.
Kedua, muncul spekulasi bahwa mereka menggunakan "gambar bawah sadar" yang tidak mereka sadari.
Melansir dari laporan Gizmodo, penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa penderita aphantasia memang benar-benar tidak menggunakan visualisasi sama sekali, baik di tingkat sadar maupun bawah sadar.
Otak mereka bekerja dengan cara yang sepenuhnya berbeda, bukan sekadar menyembunyikan gambar di balik layar.
Mereka juga tidak melulu mengandalkan bahasa atau kata-kata untuk memahami konsep tersebut. Sebaliknya, mereka memiliki pemahaman spasial dan relasional yang utuh tanpa perlu bumbu-bumbu sensorik.
Mereka tahu karakteristik sebuah segitiga, memiliki tiga sisi dan sudut yang totalnya 180 derajat, tanpa perlu repot-repot melukis segitiga tersebut di dalam kepala mereka.
Menurut artikel di Gizmodo, kondisi aphantasia pertama kali diidentifikasi secara luas pada tahun 2015 oleh neurolog Adam Zeman.
Sejak saat itu, kondisi ini terus membuka mata para ilmuwan tentang betapa kayanya variasi kognitif manusia.
Aphantasia bukan lagi dianggap sebagai kekurangan atau kelainan medis yang merugikan, melainkan sebuah bukti nyata dari keberagaman cara kerja otak (neurodiversity).
Para peneliti menegaskan bahwa kita tidak bisa menganggap aphantasia sebagai pengecualian kecil yang tidak penting.
Jika penderita aphantasia bisa berpikir abstrak tanpa gambar, ini berarti teori-teori kognitif modern di bidang psikologi dan sains pikiran harus dirombak ulang.
Otak manusia terbukti jauh lebih fleksibel dan adaptif dalam merepresentasikan dunia di sekitar kita daripada yang selama ini dikunci oleh teori-teori kuno.
Jadi, buat kamu yang sering melihat "layar hitam" saat memejamkan mata, jangan berkecil hati.
Pikiranmu justru menjadi bukti hidup bahwa cara manusia memahami dunia tidak melulu harus lewat gambar, melainkan lewat kapasitas berpikir yang luar biasa luas dan fleksibel.
Disadur dari laman EurekAlert - Aphantasia challenges a centuries-old theory of abstract thought yang diakses Juli 2026.

إرسال تعليق