Astronom Khawatir Ledakan Jumlah Satelit Akan Menutupi Langit Malam

Sebuah analisis memperingatkan bahwa masa depan astronomi berbasis bumi terancam lumpuh total jika jumlah satelit redup di orbit melampaui batas maksimal 100.000 unit.


Citra satelit selama satu jam di atas Gurun Atacama bagian utara di Chili pada Oktober 2025. Foto: F. Kamphues, ESO/M. KornmesserCitra satelit selama satu jam di atas Gurun Atacama bagian utara di Chili pada Oktober 2025. Foto: F. Kamphues, ESO/M. Kornmesser


Ringkasan

  • Penelitian terbaru memperkirakan 100.000 satelit redup merupakan batas toleransi sebelum observatorium mulai kehilangan data ilmiah.
  • Satelit yang terlalu terang dapat mencemari langit malam dan mengganggu teleskop di seluruh dunia.
  • Para ilmuwan mendesak lahirnya regulasi internasional untuk melindungi langit malam sebagai sumber ilmu pengetahuan.


KAMU mungkin pernah melihat titik bercahaya bergerak konstan di langit malam. Jangan salah kira, itu bukan bintang jatuh, melainkan salah satu dari belasan ribu satelit yang sedang mengitari bumi kita.


Astronomi bisa dibilang sebagai ilmu sains tertua dalam sejarah manusia. Sejak zaman purba, nenek moyang kita mengandalkan langit untuk navigasi dan penunjuk waktu. 


Namun, sejak lampu listrik ditemukan, hubungan kita dengan antariksa mulai terusik oleh polusi cahaya kota. 


Kini, ancaman baru yang jauh lebih masif sedang mengintai langsung dari ruang angkasa: ledakan jumlah satelit.


Saat ini, ada lebih dari 15.000 satelit di orbit bumi, dan separuhnya merupakan bagian dari megakonstelasi Starlink milik SpaceX


Bahkan, ada proposal untuk meluncurkan hingga 1,7 juta objek baru ke antariksa di masa depan, termasuk proyek pusat data luar angkasa.


Melihat fenomena ini, seorang peneliti bernama Olivier Hainaut mencoba menghitung batas toleransi maksimal teleskop bumi. 


Hasilnya cukup mengejutkan. Bumi hanya mampu menampung maksimal 100.000 satelit di langit dengan syarat seluruh satelit tersebut harus masuk kategori "redup".


"Tentu saja angka itu bukan batas kaku di mana 99.000 itu baik dan 101.000 itu buruk," kata Hainaut kepada IFLScience.


"Namun, jika total satelit melewati 100.000, observatorium besar seperti Paranal (lokasi Very Large Telescope) akan mulai kehilangan data dalam jumlah yang terukur," jelasnya.


Kata kunci dari keselamatan astronomi ini adalah tingkat redupnya satelit. Idealnya, satelit harus dijaga pada magnitudo 7, yang artinya tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. 


Jika syarat ini terpenuhi, teleskop super sensitif seperti Observatorium Vera Rubin masih bisa mengatasi gangguan tersebut dengan mudah.


Sayangnya, beberapa tren industri justru berencana melakukan hal sebaliknya. 


Sebuah perusahaan rintisan asal AS, Reflect Orbital, sempat mengajukan ide untuk meluncurkan 50.000 satelit berbentuk cermin raksasa guna memantulkan sinar matahari ke bumi pada malam hari.


Bagi siapa saja yang paham sifat atmosfer, cahaya pasti akan memancar dan tersebar ke segala arah. Proyek ambisius semacam ini berisiko merusak area suaka langit gelap (dark-sky sanctuaries). 


Tempat-tempat terpencil yang biasanya menjadi lokasi teleskop tercanggih bisa berubah menjadi seterang wilayah pinggiran kota.


Sementara itu di area perkotaan, satelit-satelit ini mungkin akan menjadi satu-satunya "bintang" yang tersisa.


Hainaut menambahkan bahwa batas toleransi polusi cahaya untuk observatorium terbaik di dunia adalah maksimal 1 persen di atas latar belakang langit gelap alami. 


Jika konstelasi satelit cermin itu terwujud, polusi cahaya bisa melonjak hingga 200 bahkan 300 persen.


Dampak dari kecerobohan ini tidak main-main. Menurut simulasi Hainaut, skenario terburuk tanpa adanya regulasi internasional yang ketat adalah hilangnya 100 persen data astronomi. 


Sederhananya, fenomena ini bisa "membunuh" fungsi teleskop di bumi.


Kondisi ini sangat ironis mengingat saat ini umat manusia sedang memulai era baru penjelajahan ruang angkasa dari bumi. 


Observatorium Vera Rubin baru saja memulai survei langitnya yang revolusioner. 


Di sisi lain, proyek Extremely Large Telescope dan Giant Magellan Telescope sedang dibangun dengan janji mampu menangkap gambar planet seukuran bumi secara langsung.


Semua lompatan teknologi besar ini terancam sia-sia jika kita kehilangan pandangan bersih ke langit malam. 


Hasil penelitian penting ini rencananya dipresentasikan dalam Pertemuan Tahunan Komunitas Astronomi Eropa dan telah diterima untuk diterbitkan dalam jurnal ilmiah Astronomy & Astrophysics.


Disadur dari IFL Science - 100,000 Faint Satellites May Be Maximum Number Before Earth-Based Astronomy Is Unworkable yang diakses Juli 2026.




Post a Comment

أحدث أقدم