Kawah Meteorit di Australia Terbukti Berusia Tiga Miliar Tahun, tapi Masih Diperdebatkan

Riset terbaru memastikan sebuah kawah meteorit kuno di Australia Barat berusia 3,02 miliar tahun, menjadikannya kawah tumbukan tertua di dunia.


Riset terbaru memastikan sebuah kawah meteorit kuno di Australia Barat berusia 3,02 miliar tahun, menjadikannya kawah tumbukan tertua di dunia.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Penelitian terbaru memperkirakan usia Kawah North Pole Dome sekitar 3,02 miliar tahun.
  • Peneliti menggunakan dua metode penanggalan berbeda yang menghasilkan usia sama.
  • Sebagian ilmuwan tetap menilai bukti tersebut belum cukup untuk mengakhiri perdebatan.


BAYANGKAN sebuah masa ketika Bumi kita yang masih muda terus-menerus dihujani oleh batuan raksasa dari luar angkasa. 


Baru-baru ini, sebuah tim ilmuwan berhasil memperkuat bukti tentang keberadaan salah satu bekas luka tabrakan kosmis paling awal di planet ini. 


Kawah yang dikenal sebagai North Pole Dome di wilayah Pilbara, Australia Barat, dipastikan kembali sebagai kawah tumbukan meteorit tertua di dunia yang pernah ditemukan oleh manusia.


Dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Geology, para peneliti mengumumkan hasil penanggalan ulang yang menempatkan usia kawah tersebut pada angka 3,02 miliar tahun. 


Wilayah Pilbara sendiri memang terkenal di kalangan geolog karena menyimpan beberapa batuan tertua di Bumi yang berusia hingga 3,6 miliar tahun—sekitar satu miliar tahun setelah planet kita terbentuk.


"Sangat sedikit tempat di dunia yang berfungsi sebagai kapsul waktu sedalam ini, yang memungkinkan kita mengintip proses pembentukan planet kita. 


"Itulah mengapa tempat ini sangat istimewa," kata Chris Kirkland, seorang ahli geologi dari Curtin University Australia.


Sebelumnya, pada Maret 2025, Kirkland dan timnya sempat memperkirakan bahwa kawah ini berusia jauh lebih tua, yaitu sekitar 3,47 miliar tahun. 


Kala itu, mereka memproyeksikan sebuah batu ruang angkasa menghantam Bumi dengan kecepatan lebih dari 35.800 kilometer per jam dan menciptakan cekungan selebar 100 kilometer. 


Angka ini jauh melampaui rekor kawah Yarrabubba di Australia Barat yang berusia 2,2 miliar tahun, yang selama ini memegang rekor sebagai kawah tertua dengan penanggalan paling andal.


Namun, klaim tersebut sempat memicu perdebatan sengit. Kelompok ilmuwan lain bahkan merilis studi tandingan yang menyebut kawah North Pole Dome sebenarnya berusia kurang dari 2,7 miliar tahun. 


Menghubungkan satu jenis batuan hitam berbutir halus dengan batuan lainnya di tengah pedalaman Australia yang rumit memang bukan perkara mudah bagi para geolog.


Untuk mengakhiri keraguan, Kirkland dan timnya kembali melakukan investigasi menggunakan metode ganda yang lebih akurat. 


Pertama, mereka menganalisis kristal zirkon mikroskopis di dalam struktur batuan yang disebut shatter cones, batuan yang bentuknya berubah akibat gelombang kejut hantaman asteroid. 


Zirkon mengandung jejak uranium yang perlahan meluruh menjadi timbal, sehingga bisa bertindak sebagai jam alami. 


Kedua, mereka memeriksa mineral apatit yang terbentuk ketika cairan super panas mengalir melalui retakan batuan pasca-tabrakan.


Hasilnya luar biasa: kedua "jam geologis" tersebut menunjukkan angka yang sama, yaitu 3,02 miliar tahun. 


Meski lebih muda dari perkiraan awal, angka ini tetap memecahkan rekor dunia sebagai kawah tumbukan tertua yang pernah terdeteksi. 


Kombinasi hasil zirkon dan apatit ini disebut-sebut sebagai bukti kuat (smoking-gun) yang sulit dibantah karena kedua mineral tersebut terprogram ulang secara bersamaan akibat peristiwa dahsyat yang sama.


Walau begitu, dunia sains selalu terbuka pada skeptisisme. Beberapa peneliti seperti Alec Brenner, ilmuwan planet dari Harvard, masih meragukan temuan ini.


Dia menduga bahwa kristal tersebut mungkin terbentuk dari aktivitas hidrotermal lain yang tidak berkaitan dengan meteorit. 


Kendati demikian, Kirkland tetap teguh pada hasil laboratoriumnya karena mereka memeriksa langsung mineral dari dalam batuan yang rusak akibat hantaman, bukan sekadar memetakan batuan dari jarak jauh lewat satelit.


Disadur dari Smithsonian Magazine - Scientists Double Down on Age of What Might Be Earth’s Oldest Impact Crater, Dating It, Again, at More Than Three Billion Years Old yang diakses pada Juli 2026. 




Post a Comment

أحدث أقدم