Studi mengungkap bahwa tinggal di luar negeri tidak mengubah kepribadian secara drastis, melainkan secara bertahap lewat kebiasaan sehari-hari.
Ringkasan
- Mahasiswa yang belajar di luar negeri cenderung menjadi lebih ramah, lebih ingin tahu, dan melaporkan tingkat kecemasan yang lebih rendah.
- Sebagian besar sifat kepribadian utama ternyata tidak mengalami perubahan berarti selama satu tahun masa studi.
- Perubahan kepribadian lebih berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari daripada pengalaman dramatis selama tinggal di negara asing.
SETIAP tahun, ribuan mahasiswa mengemas koper mereka dan terbang ke belahan dunia lain. Banyak yang membawa ekspektasi tinggi bahwa petualangan ini akan merombak total siapa diri mereka.
Mereka memang pulang dengan kemampuan bahasa baru, jaringan pertemanan yang luas, dan segudang cerita seru. Namun, apakah kepribadian mereka benar-benar berubah?
Sebuah penelitian yang melacak 180 mahasiswa universitas di Inggris selama satu tahun akademik penuh mencoba menjawab pertanyaan ini.
Hasilnya, yang diterbitkan dalam Journal of Research in Personality, menunjukkan bahwa tinggal di luar negeri memang membawa perubahan.
Hanya saja, perubahan itu tidak se-ekstrem atau se-instan yang sering dipromosikan oleh agen pendidikan atau universitas.
Tim peneliti dari Durham University dan University of Sydney mengamati dua kelompok mahasiswa dari 12 universitas di Inggris selama sekitar 14 bulan.
Kelompok pertama terdiri dari 110 mahasiswa yang menghabiskan tahun ajaran 2018–2019 di luar negeri (sebagian besar di negara Eropa seperti Prancis, Spanyol, Jerman, dan Italia).
Sementara itu, kelompok kedua adalah 70 mahasiswa yang tetap tinggal dan kuliah di dalam negeri sebagai pembanding.
Untuk mengukur perubahan psikologis ini, peneliti memeriksa lima dimensi besar kepribadian (Big Five Personality Traits):
- keterbukaan (openness),
- kedisiplinan (conscientiousness),
- keramahan (agreeableness),
- ekstroversi (extraversion),
- dan neurotisisme (neuroticism).
Selain tes bulanan, peneliti juga meminta para peserta mengisi kuesioner singkat empat kali sehari selama minggu-minggu tertentu.
Dengan mengumpulkan hampir 4.500 respons instan, studi ini berhasil memotret dinamika emosi dan pikiran harian mahasiswa secara sangat mendalam.
Dari analisis data tersebut, mahasiswa yang pergi ke luar negeri menunjukkan tiga perubahan selektif.
Mereka menjadi lebih ramah (agreeable), memiliki rasa ingin tahu yang lebih tinggi (curious), dan melaporkan tingkat kecemasan yang lebih rendah di akhir tahun.
Meski begitu, ada catatan penting dari para peneliti terkait tingkat kecemasan ini.
Sejak awal studi sebelum keberangkatan, kelompok mahasiswa yang memilih pergi ke luar negeri memang sudah memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah dibanding rekan-rekan mereka yang menetap.
Hal ini membuka kemungkinan bahwa karakter dasar mereka yang sejak awal sudah tenang dan berpikiran terbuka-lah yang mendorong mereka berani merantau, bukan semata-mata karena efek dari pengalaman merantau itu sendiri.
Menariknya, empat dari lima sifat kepribadian makro, seperti ekstroversi dan kedisiplinan, tidak menunjukkan perbedaan yang berarti antara mereka yang pergi dan yang tinggal.
Tingkat ketangguhan (resilience) mereka pun terpantau relatif sama.
Temuan paling menarik dari studi ini justru bukan pada apa yang berubah, melainkan bagaimana perubahan itu terjadi.
Data harian menunjukkan bahwa transformasi kepribadian sangat erat kaitannya dengan pengalaman biasa sehari-hari, bukan peristiwa besar yang dramatis.
Mahasiswa yang konsisten merasa penasaran, hangat, atau tenang dalam menjalani hari-hari biasa di negeri orang cenderung menunjukkan perubahan kepribadian yang positif di akhir studi.
Ini membuktikan bahwa proses adaptasi adalah perjalanan yang lambat.
Seseorang berubah bukan karena satu momen kultural yang masif, melainkan karena ribuan interaksi kecil yang menumpuk selama 365 hari di lingkungan yang asing.
Misalnya, memesan kopi dengan bahasa setempat, tersesat di jalan, atau mengobrol dengan tetangga baru.
Bagi universitas atau lembaga yang sering mengklaim bahwa program study abroad adalah jaminan instan untuk membangun karakter, studi ini memberikan perspektif baru yang lebih bernuansa.
Tinggal di luar negeri memang bisa mengubah seseorang, tetapi prosesnya terjadi secara spesifik, bertahap, dan sangat bergantung pada bagaimana seseorang bersikap serta merespons kesehariannya di sana.
Disadur dari StudyFinds - Does Living Abroad Actually Change Who You Are? Study Offers Nuanced Answer yang diakses Juli 2026.

إرسال تعليق