Bukan Cuma Manusia, Hewan Juga Punya Cara Sendiri Menikmati Waktu

Setiap spesies hewan memiliki "lanskap waktu" unik yang mengubah cara mereka merasakan dan menjalani setiap momen.


Setiap spesies hewan memiliki "lanskap waktu" unik yang mengubah cara mereka merasakan dan menjalani setiap momen.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Cara burung, kumbang, atau manusia merasakan waktu dipengaruhi oleh cara otak mereka mengolah informasi, bukan sekadar kecepatan mata menangkap gambar.
  • Pengukuran yang selama ini digunakan hanya melihat sensitivitas penglihatan, padahal persepsi waktu melibatkan banyak proses kognitif.
  • Selain membantu memahami kesadaran hewan, konsep ini juga dapat diterapkan untuk konservasi satwa hingga merancang infrastruktur yang lebih ramah bagi hewan.


MESKI berada di waktu dan tempat yang sama, hewan dan manusia ternyata menjalani detik demi detik dengan kecepatan dan cara yang sangat berbeda.


Selama ini, dunia sains mengukur persepsi waktu hewan menggunakan metode sederhana bernama critical flicker fusion threshold (CFFT). 


Metode ini menguji seberapa cepat mata makhluk hidup menangkap kedipan cahaya hingga cahaya itu terlihat menyatu tanpa putus. 


Namun, sebuah studi terbaru yang terbit di jurnal Trends in Cognitive Sciences pada 17 Juni 2026 menegaskan bahwa cara tersebut sangat terbatas.


Menurut para peneliti dalam makalah berjudul "Timescapes of Non-Human Experience," mendeteksi kedipan cahaya hanyalah bagian kecil dari sensitivitas retina mata. 


Metode ini sama sekali tidak menjelaskan bagaimana otak hewan memproses, mengingat, dan mengartikan waktu.


Gagasan bahwa setiap makhluk hidup punya dunianya sendiri sebenarnya bukan hal baru. 


Pada awal abad ke-20, seorang ahli zoologi asal Jerman bernama Jakob von Uexküll memperkenalkan istilah Umwelt (lingkungan/ruang hidup). 


Uexküll berargumen bahwa setiap hewan hidup dalam "gelembung realitas" mereka sendiri yang dikendalikan oleh kombinasi indra dan kerja biologis masing-masing.


Melanjutkan konsep tersebut, tim peneliti modern kini mengajukan istilah baru bernama timescape atau lanskap waktu. 


Untuk memetakan lanskap ini, mereka membagi pengalaman biologis hewan ke dalam lima elemen penting:


  1. Sinkronisasi: Cara hewan merangkai potongan-potongan informasi menjadi satu momen utuh.
  2. Revisi: Seberapa cepat persepsi hewan diperbarui ketika ada informasi baru yang masuk.
  3. Atensi (Perhatian): Durasi fokus hewan terhadap satu objek tunggal.
  4. Persistensi: Berapa lama sebuah memori sensoris bertahan di benak hewan setelah rangsangannya hilang.
  5. Stabilitas: Waktu yang dibutuhkan oleh otak hewan untuk mengalihkan persepsinya.


Berdasarkan berbagai data penelitian, setiap spesies menunjukkan performa yang sangat bervariasi pada kelima elemen ini. 


Hal ini membuktikan bahwa kita tidak bisa menyamaratakan "kecepatan" waktu hewan hanya dari kemampuan mata mereka.


Salah satu cara terbaik bagi para ilmuwan untuk membongkar rahasia lanskap waktu ini adalah dengan mempelajari ilusi sensoris


Pada manusia, ilusi visual, seperti melihat objek diam seolah-olah bergerak, biasanya terjadi dalam rentang waktu yang sangat singkat, sekitar 100 hingga 450 milidetik.


Menariknya, ilusi serupa juga dialami oleh hewan, baik yang bertulang belakang (vertebrata) maupun yang tidak (invertebrata). 


Ilusi ini tidak hanya terjadi pada mata, tetapi juga pada sistem pendengaran dan indra peraba mereka. 


Dengan memetakan di mana letak "kesalahan" otak hewan saat memproses informasi luar, peneliti bisa mendapatkan gambaran konkret tentang bagaimana hewan tersebut menyusun waktu di kepala mereka.


Penelitian mengenai lanskap waktu ini membuka gerbang baru bagi banyak bidang ilmu. 


Di satu sisi, para ilmuwan dan filsuf bisa menggunakannya untuk meneliti tingkat kesadaran makhluk hidup secara lebih mendalam. 


Di sisi lain, para ahli ekologi bisa memahami dinamika alam dengan lebih baik, termasuk hubungan antara hewan pemburu (predator) dan mangsanya.


Hebatnya lagi, pengetahuan ini punya fungsi praktis yang sangat krusial bagi kehidupan modern manusia. Salah satunya adalah untuk merancang infrastruktur yang ramah satwa


Dengan memahami bagaimana burung melihat pergerakan objek dalam ruang dan waktu, manusia bisa membuat bilah turbin angin yang lebih mudah terlihat oleh mata burung. 


Langkah ini diharapkan dapat menekan angka kematian burung akibat menabrak tiang turbin pembangkit listrik.


Pada akhirnya, waktu bukan sekadar angka yang berputar di jam dinding. 


Bagi makhluk hidup lain di bumi, waktu adalah bentangan lanskap unik yang penuh warna, yang kini perlahan mulai berhasil dipecahkan misterinya oleh sains.


Disadur dari The Debrief - Scientists Say ‘Timescapes’ Could Unlock the Mystery Behind Non-Human Perception of Time yang diakses pada Juni 2026.




Post a Comment

أحدث أقدم