Cara manusia tertawa ternyata bukan kemampuan yang muncul tiba-tiba.
Ringkasan
- Semua kera besar memiliki pola ritme tawa yang sama, menandakan asal-usulnya sangat kuno.
- Semakin dekat hubungan evolusinya dengan manusia, semakin cepat dan fleksibel ritme tawanya.
- Manusia menjadi satu-satunya spesies yang mengubah tempo tawa sesuai situasi sosial, menunjukkan kemampuan kontrol vokal yang lebih berkembang.
BERBEDA dengan tulang atau gigi yang dapat bertahan jutaan tahun, tawa, nyanyian, dan percakapan seolah-olah menghilang begitu saja setelah diucapkan.
Jadi, bagaimana pun, sulit bagi ilmuwan menelusuri asal-usul suara manusia karena suara tidak meninggalkan fosil.
Walau begitu, sebuah studi mencoba menggali tentang asal-usul tertawa. Para peneliti mencari petunjuk dari kerabat terdekat manusia yang masih hidup saat ini, yakni kelompok kera besar (great apes).
Para ilmuwan dari University of Warwick dan University of Portsmouth menemukan bahwa manusia, orangutan, gorila, simpanse, dan bonobo ternyata memiliki "cetak biru" tawa yang sama.
Temuan ini mengisyaratkan bahwa nenek moyang kera besar kemungkinan sudah mampu tertawa dengan pola yang dapat dikenali sekitar 15 juta tahun lalu.
Menurut peneliti utama, Chiara De Gregorio, studi perbandingan terhadap perilaku kera besar merupakan satu-satunya cara untuk memperkirakan kemampuan vokal nenek moyang manusia yang telah punah.
Selama jutaan tahun evolusi, setiap spesies memang mengembangkan berbagai jenis suara yang berbeda-beda sesuai kebutuhan lingkungan dan kehidupan sosialnya.
Namun ada satu bentuk vokalisasi yang tetap dipertahankan oleh seluruh anggota keluarga kera besar, yaitu tawa.
Untuk menguji dugaan tersebut, tim peneliti merekam tawa dari 17 individu yang mewakili seluruh spesies kera besar.
Mereka mengamati empat orangutan, dua gorila, tiga bonobo, empat simpanse, serta empat manusia, termasuk anak-anak berusia enam bulan hingga tujuh tahun.
Tawa direkam dalam dua kondisi berbeda, yaitu saat individu digelitik dan saat bermain secara alami dengan sesamanya. Kedua situasi ini memang diketahui sering memunculkan tawa pada manusia maupun kera besar.
Setelah dianalisis, para ilmuwan menemukan bahwa seluruh spesies memiliki pola ritme yang disebut isochronous, yaitu semburan tawa muncul dalam jarak waktu yang relatif teratur dan berulang.
Pola ritme seperti ini juga dikenal dalam musik dan irama bicara manusia.
Kesamaan tersebut menunjukkan bahwa struktur dasar tawa sudah muncul jauh sebelum manusia modern berevolusi, lalu diwariskan kepada seluruh keturunan kera besar hingga sekarang.
Meski memiliki pola dasar yang sama, penelitian ini juga menemukan adanya perubahan bertahap sepanjang jalur evolusi.
Semakin dekat suatu spesies dengan manusia dalam pohon evolusi, semakin cepat tempo tawanya. Selain itu, jeda antarledakan tawa menjadi lebih bervariasi dan lebih dipengaruhi oleh situasi sosial.
Dengan kata lain, evolusi tidak menciptakan tawa dari nol, melainkan secara perlahan menyempurnakan cara tawa dikendalikan.
Manusia menjadi contoh paling menonjol. Para peneliti menemukan bahwa manusia merupakan satu-satunya spesies dalam penelitian ini yang mengubah kecepatan tawa tergantung situasi.
Saat digelitik, ritme tawa manusia berbeda dibanding ketika tertawa spontan saat bermain atau berinteraksi dengan orang lain.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kontrol vokal yang lebih fleksibel dibanding kerabat primatanya.
Tim peneliti juga mencatat bahwa variasi ritme tawa ternyata memiliki makna sosial.
Pada manusia, tawa yang ritmenya lebih alami dan bervariasi cenderung dianggap lebih hangat, lebih akrab, dan lebih tulus dibanding tawa yang terdengar terlalu kaku atau mekanis.
Artinya, bukan hanya suara tawa yang penting, tetapi juga cara ritmenya berubah-ubah selama seseorang tertawa.
Temuan ini memberi petunjuk bahwa kemampuan mengendalikan ritme suara kemungkinan menjadi salah satu fondasi yang kemudian mendukung berkembangnya komunikasi manusia yang jauh lebih kompleks, termasuk bahasa.
Menurut Dr. Adriano Lameira dari University of Warwick, para ilmuwan tidak mungkin mengamati secara langsung bagaimana bahasa pertama kali muncul pada nenek moyang manusia yang telah punah.
Namun, karena tawa merupakan bentuk vokalisasi yang jauh lebih tua dan masih dimiliki seluruh kera besar, perilaku ini menjadi "jendela evolusi" yang sangat berharga untuk memahami bagaimana kemampuan vokal manusia berkembang selama jutaan tahun.
Ia menambahkan bahwa hasil penelitian ini juga menantang pandangan lama yang menganggap manusia tiba-tiba memperoleh kemampuan mengendalikan suara secara drastis dibanding leluhurnya.
Sebaliknya, kemampuan tersebut tampaknya berkembang secara bertahap selama sekitar 15 juta tahun.
Dengan kata lain, bahasa dan komunikasi manusia modern kemungkinan dibangun di atas fondasi kemampuan vokal yang telah lama berevolusi pada nenek moyang bersama kera besar.
Temuan tersebut dipublikasikan pada 25 Juni 2026 dalam jurnal Communications Biology.
Disadur dari Sci.News - New Research Traces Origins of Human Laughter yang diakses Juni 2026.

إرسال تعليق