Meski sains telah menjelaskan gerhana secara rinci, berbagai mitos dan takhayul tentang bencana hingga cacat lahir masih bertahan.
Ringkasan
- Banyak mitos gerhana berakar pada tradisi budaya kuno dan kebutuhan manusia untuk mencari penjelasan atas ketidakpastian.
- Penelitian menunjukkan siapa pun bisa percaya takhayul, terlepas dari tingkat pendidikan atau kecerdasannya.
- Risiko terbesar bukan gerhananya, melainkan keputusan yang diambil berdasarkan informasi keliru dan ketakutan yang tidak berdasar.
KETIKA gerhana matahari atau gerhana bulan terjadi, langit yang berubah mendadak sering kali memicu rasa kagum. Namun bagi sebagian orang, fenomena ini juga memunculkan ketakutan.
Dari ramalan bencana, gangguan kehamilan, hingga pertanda nasib buruk, gerhana selama berabad-abad telah dikelilingi berbagai mitos yang masih bertahan hingga sekarang.
Padahal, menurut para ahli, tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim-klaim tersebut.
Gerhana hanyalah peristiwa astronomi yang terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam posisi tertentu sehingga salah satu benda langit menutupi yang lain.
Lalu mengapa begitu banyak orang tetap mempercayai takhayul tentang gerhana?
Menurut Fernando Blanco Bregón, profesor Psikologi Sosial di University of Granada, takhayul dapat dibagi menjadi dua jenis.
Pertama adalah takhayul budaya, yaitu keyakinan yang diwariskan oleh lingkungan sosial dan budaya tempat seseorang tumbuh.
Kedua adalah takhayul pribadi atau idiosinkratik, misalnya kebiasaan melakukan ritual tertentu sebelum ujian atau pertandingan.
"Takhayul budaya sebenarnya tidak jauh berbeda dari kebiasaan, stereotip, atau keyakinan lain yang diwariskan masyarakat," jelas Blanco.
Jika seseorang tumbuh di lingkungan yang menganggap gerhana sebagai pertanda buruk, ia mungkin akan menerima gagasan tersebut tanpa banyak mempertanyakannya.
Namun alasan yang lebih mendasar terletak pada cara kerja otak manusia.
Manusia memiliki kebutuhan kuat untuk memahami dunia di sekitarnya.
Ketika menghadapi ketidakpastian atau kejadian yang sulit dijelaskan, otak cenderung mencari hubungan sebab-akibat, bahkan ketika hubungan itu sebenarnya tidak ada.
Menurut Blanco, manusia sering lebih nyaman menerima penjelasan yang salah daripada tidak memiliki penjelasan sama sekali.
Menariknya, para psikolog menegaskan bahwa kepercayaan terhadap takhayul bukan semata-mata masalah kurang pendidikan atau rendahnya kecerdasan.
Blanco menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar kebal terhadap takhayul karena kecenderungan tersebut merupakan produk sampingan alami dari cara berpikir manusia.
Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan bahwa orang berpendidikan tinggi pun dapat mempercayai hal-hal paranormal atau teori konspirasi tertentu.
Tinjauan ilmiah yang diterbitkan pada 2022 menemukan bahwa faktor yang paling konsisten terkait dengan kepercayaan paranormal bukanlah kecerdasan.
Itu melainkan karena kecenderungan berpikir intuitif dan confirmation bias atau kebiasaan mencari informasi yang mendukung keyakinan yang sudah dimiliki sambil mengabaikan fakta yang bertentangan.
Dengan kata lain, otak manusia sering kali lebih suka mencari bukti yang menguatkan keyakinannya daripada mengujinya secara kritis.
Banyak mitos gerhana berasal dari peradaban kuno yang sangat bergantung pada alam.
Estela Ocampo, profesor teori dan sejarah seni di Pompeu Fabra University, menjelaskan bahwa masyarakat agraris kuno mengamati langit dengan sangat teliti karena pergantian musim menentukan waktu tanam dan panen.
Peradaban seperti Maya bahkan memiliki kalender yang sangat akurat dan mampu memprediksi gerhana jauh sebelum fenomena itu terjadi.
Meski demikian, gerhana sering dianggap sebagai pertanda buruk. Dalam banyak kisah kuno, Matahari dipercaya sedang diserang atau dimakan oleh makhluk gaib yang mengancam tatanan dunia.
Ketika cahaya Matahari kembali muncul, masyarakat menganggapnya sebagai kemenangan kosmis yang memulihkan keseimbangan alam semesta.
Sebagian kepercayaan tersebut masih bertahan hingga sekarang, terutama di komunitas yang tetap mempertahankan tradisi leluhur mereka.
Salah satu mitos paling populer menyangkut kehamilan.
Astronom Amerika, Edwin Charles Krupp, direktur Griffith Observatory di Los Angeles, mengaku bahwa selama bertahun-tahun ia sering menerima pertanyaan dari ibu hamil yang khawatir gerhana dapat membahayakan janin mereka.
Padahal, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa paparan gerhana dapat menyebabkan cacat lahir, keguguran, atau gangguan perkembangan janin.
Mitos lain yang sempat ramai muncul saat gerhana total Matahari di Amerika Serikat pada 2024 adalah apa yang disebut sebagai eclipse sickness atau "penyakit gerhana".
Sebagian orang melaporkan sakit kepala, mual, dan berbagai keluhan fisik lain yang mereka kaitkan dengan gerhana.
Namun para ilmuwan menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak diakui dalam dunia medis dan tidak memiliki dasar ilmiah.
Menurut para ahli, sebagian besar takhayul tentang gerhana sebenarnya relatif tidak berbahaya.
Masalah muncul ketika keyakinan tersebut mendorong orang mengambil tindakan ekstrem atau mengabaikan fakta ilmiah.
Misalnya, seseorang mungkin melewatkan kesempatan menyaksikan salah satu fenomena alam paling spektakuler karena ketakutan yang tidak berdasar.
Dalam kasus yang lebih serius, keyakinan keliru dapat memengaruhi keputusan kesehatan.
Orang yang terlalu percaya pada informasi palsu bisa mengabaikan pengobatan yang terbukti efektif atau menganggap gejala penyakit tertentu sebagai akibat gerhana.
Selain itu, kepanikan massal yang dipicu hoaks juga berpotensi membebani layanan kesehatan atau menimbulkan gangguan sosial.
Para ilmuwan sepakat bahwa pendidikan dan komunikasi sains merupakan senjata paling ampuh untuk menghadapi takhayul.
Namun pendekatannya tidak cukup hanya dengan menyajikan fakta.
Informasi ilmiah juga harus disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, empatik, dan tidak merendahkan orang yang masih mempercayai mitos tersebut.
Javier Armentia, mantan direktur Planetarium Pamplona, mengingatkan bahwa membantah informasi palsu sering kali jauh lebih sulit daripada menyebarkannya.
Prinsip ini dikenal sebagai Hukum Brandolini (Brandolini's Law), yang menyatakan bahwa energi yang dibutuhkan untuk membantah omong kosong jauh lebih besar daripada energi yang diperlukan untuk menciptakannya.
Karena itu, para ahli menilai bahwa kombinasi edukasi, komunikasi yang baik, dan bahkan humor dapat menjadi cara efektif untuk melawan mitos yang tidak berdasar.
Pada akhirnya, gerhana bukanlah pertanda bencana atau nasib buruk. Ia hanyalah pengingat bahwa alam semesta bekerja mengikuti hukum fisika yang dapat dipahami.
Dan justru karena itulah gerhana menjadi salah satu pertunjukan alam paling menakjubkan yang bisa disaksikan manusia.
Disadur dati Science Media Centre (SMC) - Myths and Superstitions About Eclipses: Why Some People Believe Them and What Risks They Pose.

Posting Komentar