Kiamat Kosmis Bisa Salah: Rahasia Energi Gelap yang Mengguncang Teori Fisika

Data terbaru dari jutaan galaksi membuat ilmuwan mempertanyakan teori lama tentang energi gelap dan nasib akhir alam semesta.


Data terbaru dari jutaan galaksi membuat ilmuwan mempertanyakan teori lama tentang energi gelap dan nasib akhir alam semesta.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Pengamatan terbaru dari proyek DESI menunjukkan energi gelap mungkin berubah seiring waktu, bukan konstan seperti yang selama ini diyakini.
  • Jika benar, berbagai prediksi tentang akhir alam semesta—termasuk “kematian panas” kosmos—bisa jadi keliru.
  • Temuan ini bergabung dengan sejumlah anomali kosmologi lain yang mengisyaratkan bahwa model standar alam semesta mungkin perlu direvisi.


DI atas puncak gunung gersang di Arizona, sebuah teleskop canggih yang dilengkapi dengan lima ribu "jemari" robotik menghabiskan waktu tiga tahun penuh untuk menatap 14 juta galaksi. 


Setiap malam, robot-robot ini mengatur ulang posisi mereka dengan tingkat presisi yang jauh lebih tipis daripada sehelai rambut manusia, membidik petak langit baru yang belum terjamah.


Alat mutakhir ini bernama Dark Energy Spectroscopic Instrument (DESI). Tugas utamanya terdengar membosankan namun sangat krusial dalam dunia sains.


DESI merupakan instrumen astronomi yang dipasang di sebuah teleskop di Arizona, Amerika Serikat. 


Selama tiga tahun, instrumen ini mengamati sekitar 14 juta galaksi dan quasar untuk membuat peta tiga dimensi terbesar alam semesta yang pernah dibuat.


Tujuan utamanya adalah menjawab satu pertanyaan besar: apakah energi gelap benar-benar konstan?


Energi gelap adalah nama yang diberikan ilmuwan pada sesuatu yang tampaknya mendorong ekspansi alam semesta semakin cepat. Meski menyusun sekitar 70 persen isi alam semesta, sifat dasarnya masih menjadi misteri.


Sejak akhir 1990-an, para ilmuwan menganggap energi gelap memiliki nilai tetap yang dikenal sebagai konstanta kosmologis atau lambda (Λ). 


Gagasan ini menjadi fondasi model kosmologi standar yang disebut ΛCDM (Lambda Cold Dark Matter).


Model tersebut sangat sukses. Ia mampu menjelaskan radiasi sisa Dentuman Besar (Big Bang), distribusi galaksi, hingga komposisi unsur-unsur ringan seperti hidrogen dan helium.


Namun keberhasilan itu kini mulai dipertanyakan.


Pada Maret 2025, kolaborasi DESI merilis kumpulan data terbarunya. Ketika data tersebut digabungkan dengan pengamatan supernova dan radiasi latar kosmik, muncul indikasi bahwa energi gelap mungkin tidak tetap.


Sebaliknya, energi gelap tampak berubah seiring waktu. Hasil ini belum mencapai tingkat kepastian yang biasanya diperlukan untuk menyatakan sebuah penemuan besar dalam fisika. 


Namun sinyalnya cukup kuat sehingga tidak lagi mudah dianggap sekadar gangguan statistik.


Jika energi gelap memang berubah, konsekuensinya sangat besar.


Seluruh prediksi tentang masa depan alam semesta selama ini bergantung pada asumsi bahwa energi gelap bersifat konstan. Ketika asumsi itu runtuh, berbagai kemungkinan baru muncul.


Skenario yang paling dikenal saat ini adalah heat death. Dalam skenario ini, alam semesta terus mengembang selamanya. 


Galaksi-galaksi semakin berjauhan hingga akhirnya tidak lagi dapat saling terlihat. Bintang-bintang kehabisan bahan bakar dan kosmos memasuki keadaan entropi maksimum.


Tetapi jika energi gelap berubah, akhir ceritanya bisa berbeda.


Salah satu kemungkinan adalah Big Rip, yaitu kondisi ketika percepatan ekspansi menjadi semakin kuat. Pada akhirnya, galaksi terpisah, tata surya tercerai-berai, planet terlepas dari orbitnya, bahkan atom pun bisa terkoyak.


Kemungkinan lain adalah Big Crunch. Jika energi gelap melemah, ekspansi alam semesta dapat melambat, berhenti, lalu berbalik menjadi kontraksi. Seluruh kosmos pada akhirnya runtuh kembali ke dalam keadaan yang sangat padat dan panas.


Ada pula kemungkinan yang lebih aneh lagi—sesuatu yang bahkan belum dimasukkan ke dalam model-model teoritis saat ini.


Singkatnya, para ilmuwan kembali berada dalam posisi yang jarang terjadi: mereka belum tahu bagaimana akhir alam semesta akan berlangsung.


Temuan DESI menjadi lebih menarik karena tidak muncul sendirian.


Selama beberapa tahun terakhir, para kosmolog menghadapi sejumlah teka-teki yang belum terpecahkan. 


Salah satunya adalah Hubble tension, yaitu perbedaan hasil pengukuran laju ekspansi alam semesta antara metode yang menggunakan objek-objek dekat dan metode yang menggunakan alam semesta awal.


Ada pula sigma-eight tension, ketidaksesuaian antara prediksi model kosmologi standar dan tingkat penggumpalan materi yang benar-benar diamati di alam semesta.


Awalnya, anomali-anomali ini dianggap sebagai masalah yang terpisah. Namun semakin banyak data terkumpul, semakin terlihat bahwa semuanya mungkin saling berkaitan.


Banyak ilmuwan mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa model ΛCDM yang selama ini menjadi tulang punggung kosmologi sebenarnya belum lengkap.


Menunggu revolusi berikutnya?


Tentu saja, belum ada jaminan bahwa paradigma lama akan tumbang. Bisa saja data berikutnya menunjukkan bahwa indikasi perubahan energi gelap hanyalah ilusi statistik atau efek pengamatan yang belum dipahami.


Namun bagi sebagian peneliti, situasi saat ini terasa mirip dengan masa-masa menjelang revolusi ilmiah besar dalam sejarah fisika.


Pada awal abad ke-20, fisikawan juga menghadapi berbagai anomali yang tampaknya kecil dan terpisah. 


Dari situlah kemudian lahir teori relativitas dan mekanika kuantum yang mengubah pemahaman manusia tentang alam semesta.


Kini, instrumen seperti DESI, observatorium baru seperti Vera C. Rubin Observatory, dan proyek pengamatan radiasi kosmik generasi berikutnya diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih jelas.


Untuk pertama kalinya dalam sekitar 25 tahun terakhir, para kosmolog tidak lagi yakin bahwa mereka memahami nasib akhir alam semesta. Dan justru ketidakpastian itulah yang membuat ilmu pengetahuan bergerak maju.


Disadur dari Popular Mechanics - I Study the Universe. And Everything Scientists Know About the End of the World Could Be Wrong.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama