Keuntungan Istri Tidur Nyenyak: Minimalkan Konflik Rumah Tangga

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan meningkatnya ketegangan dalam pernikahan, terutama pada perempuan.


Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan meningkatnya ketegangan dalam pernikahan, terutama pada perempuan.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Kualitas tidur yang buruk terbukti meningkatkan ketegangan hubungan suami-istri pada keesokan harinya, terutama bagi kaum perempuan.
  • Perempuan tidak hanya terpengaruh oleh kualitas tidurnya sendiri, tetapi juga sangat peka terhadap kualitas tidur sang suami.
  • Kualitas tidur pria justru tidak menunjukkan hubungan signifikan terhadap tingkat stres pernikahan mereka.


KAMU mungkin pernahkah terbangun di pagi hari dengan perasaan kesal, kemudian kamu juga mudah tersinggung oleh hal-hal kecil yang dilakukan pasangan.


Tidur sering kali dianggap sebagai kebutuhan biologis yang bersifat pribadi. Padahal, bagi pasangan suami-istri, urusan memejamkan mata ini adalah sebuah perilaku sosial yang saling berkaitan.


Satu orang saja gelisah saat tidur, pasangan di sebelahnya bisa ikut menanggung akibatnya.


Sebuah studi menarik yang dipublikasikan dalam Journal of Health and Social Behavior menguak bagaimana istirahat malam memengaruhi dinamika hubungan sehari-hari. 


Penelitian ini dipimpin oleh Asya Saydam, seorang kandidat doktor sosiologi dari University of Texas at Austin, bersama rekannya Jaime Hsu.


Mereka meneliti apakah dampak tidur ini berbeda antara pasangan heteroseksual (berbeda jenis kelamin) dan pasangan sesama jenis.


Saydam mengatakan, ide penelitian ini muncul ketika tren istilah "sleep divorce" atau "cerai tidur" (tren pasutri tidur di kasur/kamar terpisah demi kualitas tidur yang lebih baik) ramai diperbincangkan. 


Fenomena tersebut membuatnya penasaran tentang apa yang sebenarnya dibawa pasangan ke dalam ranjang dan bagaimana dampaknya terbawa keluar dari kamar pada keesokan harinya.


Hasil studi yang diterbitkan di Journal of Health and Social Behavior menemukan bahwa kualitas tidur memiliki hubungan erat dengan tingkat ketegangan dalam pernikahan. 


Menariknya, hubungan tersebut tidak dirasakan sama oleh semua orang. Dampaknya tampak paling kuat pada perempuan yang menikah dengan laki-laki.


Asya dan Hsu, dalam penelitian ini, menggunakan data dari proyek Health and Relationships Project (HARP), yang melibatkan pasangan menikah sesama jenis maupun berbeda jenis kelamin.


Total terdapat 378 pasangan atau 756 individu yang berpartisipasi. Mereka terdiri dari:

  • 106 pasangan laki-laki sesama jenis
  • 157 pasangan perempuan sesama jenis
  • 115 pasangan berbeda jenis kelamin


Rata-rata hubungan mereka telah berlangsung selama 15 tahun.


Para peserta pertama-tama mengisi survei dasar. Setelah itu, selama 10 hari berturut-turut mereka diminta mengisi jurnal harian secara terpisah dari pasangan masing-masing.


Setiap hari peserta menilai kualitas tidur mereka pada malam sebelumnya dengan skala satu hingga lima. 


Mereka juga menjawab pertanyaan mengenai pengalaman dalam hubungan selama 24 jam terakhir, misalnya apakah pasangan mengecewakan mereka, bersikap tidak perhatian, mengganggu, atau gagal mendengarkan.


Hasil penelitian menunjukkan pola yang cukup jelas.


Secara umum, semakin baik kualitas tidur seseorang, semakin rendah tingkat ketegangan yang ia rasakan dalam hubungan pada hari berikutnya.


Sebaliknya, kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan meningkatnya gesekan dalam pernikahan.


Meski demikian, kekuatan hubungan tersebut berbeda-beda tergantung jenis pasangan.


Peneliti menemukan bahwa kaitan antara tidur dan ketegangan rumah tangga paling kuat terlihat pada perempuan, terutama perempuan dalam pernikahan heteroseksual.


Dengan kata lain, perempuan yang tidur kurang nyenyak cenderung lebih sensitif terhadap masalah hubungan pada keesokan harinya dibandingkan kelompok lain dalam penelitian.


Temuan lain yang menarik adalah kualitas tidur pasangan juga memainkan peran.


Pada perempuan dalam pernikahan heteroseksual, bukan hanya tidur mereka sendiri yang berkaitan dengan ketegangan hubungan. 


Kualitas tidur suami juga berhubungan dengan bagaimana mereka memandang hubungan pada hari berikutnya.


Data menunjukkan bahwa para istri tampak lebih peka terhadap kondisi tidur kedua belah pihak.


Fenomena ini tidak ditemukan secara signifikan pada laki-laki yang menikah dengan perempuan.


Menurut para peneliti, hasil tersebut mungkin berkaitan dengan pembagian beban rumah tangga dan pekerjaan emosional yang masih sering lebih banyak ditanggung perempuan.


Dalam banyak keluarga, perempuan cenderung memikul lebih banyak tanggung jawab terkait pengasuhan, pengaturan rumah tangga, dan pengelolaan emosi dalam hubungan. 


Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi kualitas tidur sekaligus meningkatkan sensitivitas terhadap dinamika hubungan.


Penelitian psikologi sebelumnya menunjukkan bahwa kurang tidur dapat mengurangi kemampuan seseorang mengendalikan emosi, meningkatkan iritabilitas, dan menurunkan kemampuan membaca sinyal sosial.


Penelitian dari University of California, Berkeley dan sejumlah institusi lain juga menemukan, kurang tidur dapat membuat seseorang lebih mudah menafsirkan situasi secara negatif serta lebih sulit menunjukkan empati kepada orang lain.


Dalam konteks pernikahan, kondisi ini dapat membuat masalah kecil terasa lebih besar daripada yang sebenarnya.


Seseorang yang kelelahan mungkin lebih mudah tersinggung, kurang sabar mendengarkan pasangan, atau lebih cepat menganggap tindakan pasangan sebagai sesuatu yang mengecewakan.


Meski hasil penelitian ini menarik, para peneliti mengingatkan bahwa studi tersebut bersifat observasional. 


Artinya, penelitian hanya menunjukkan adanya hubungan antara kualitas tidur dan ketegangan rumah tangga, bukan membuktikan bahwa kurang tidur secara langsung menyebabkan konflik.


Selain itu, sebagian besar peserta merupakan pasangan berusia paruh baya, berpendidikan tinggi, dan telah menikah dalam jangka panjang. Karena itu, hasilnya belum tentu mewakili seluruh populasi.


Meski begitu, penelitian ini menambah bukti bahwa kualitas hubungan tidak hanya dipengaruhi komunikasi, keuangan, atau pembagian tugas rumah tangga. 


Faktor yang tampak sederhana seperti tidur ternyata juga memainkan peran penting.


Mungkin karena itulah nasihat untuk "tidur dulu sebelum membahas masalah besar" bukan sekadar ungkapan bijak. 


Dalam banyak kasus, malam yang cukup dan berkualitas bisa menjadi salah satu investasi terbaik bagi kesehatan hubungan.


Disadur dari PsyPost - Poor sleep quality predicts marital strain, especially for women married to men.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama